Naik-naik ke Gunung Andong

Pernah dengar nama gunung Andong? Namanya memang tidak setenar gunung Gede atau Semeru, tapi ternyata gunung Andong cukup layak dijadikan ajang latihan naik gunung bagi para pemula. Gunung ini salah satu gunung belakang rumah saya loooh.. Jadi wajib banget memang buat didaki sama saya :). Dengan ketinggian 1.726 Mdpl, gunung Andong mampu memikat para pendaki akhir-akhir ini. Setiap akhir pekan, gunung ini pun ramai dikunjungi. Tapi bukan berarti, mentang-mentang gunungnya pendek, kita bisa asal aja gitu ketika mendakinya. Buat saya itu sangat BIG NO NO 🙂

Catatan penting ya sebelum mulai bercerita, mendaki gunung itu olahraga berat, perlu persiapan buat siapapun yang berniat mendakinya. Mau gunungnya pendek kek, mau kitanya udah jago naik gununglah, apalah apalah, tetap ya, hormati alam, hargai. Maksudnya gimana? Maksudnya kita menghargai, kita datang kepadanya ya dengan penuh persiapan.

Fisik siap: dengan olahraga-olahraga sebelum naik

Logistik siap: perbekalan makan dan minum dihitung sesuai durasi perjalanan

Perlengkapan ok: dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki sudah lengkap semua. Meskipun mungkin durasi naik turunnya singkat, kita gak pernah tahu apa yang bisa terjadi di alam. Jadi, kelengkapan itu penting banget. Jangan lupa juga obat pribadi.

Mental siap: gimana sih caranya nyiapin mental? Ya kita lakukan penelitian dulu tentang gunung yang akan kita daki. Ke sana lewat mana, medannya gimana, suhunya sedingin apa, ada sumber air atau nggak, kira kira evakuasi untuk keadaan darurat gimana, dan secukupnya tergantung tujuan perjalanan kita. Juga jangan lupa, mental siap untuk buang air kecil maupun air besar di antara semak-semak 😀

Itu sekilas saja, lengkapnya bakal panjang sekali. Saya hanya mau bilang sih, please, respect the mountain.

Ok, serius banget ya saya, hehehe. Balik ke gunung Andong. Kalau untuk rute menuju gunung ini, teman-teman bisa intip di

https://gunungandong.wordpress.com/2014/05/03/jalur-menuju-basecamp-gunung-andong-taruna-jayagiri/

Atau di

http://gunungandong.com/

Itu udah lengkap banget deh rutenya, jadi saya gak perlu tulis-tulis lagi hehehe 😅

Jadi awal mulanya, saya habis berulang tahun nih ya di bulan Oktober kemarin, alhamdulillah tambah tua, bukan tambah muda (yaiyalaaaaah). Terus saya tuh mikir-mikir kok ya jatah umur makin sedikit tapi belum pernah naik gunung sama anak-anak. Tapi membayangkan naik gunung bawa anak-anak, itu saya agak-agak sesak nafas. Hahaha. Pasalnya, saya sendiri kalau naik gunung itu bawa diri sendiri aja udah susah banget, ditambah lagi bawa keril, lah gimana caranya kalau bawa anak-anak??? Lebay ya. Iya, memang namanya kalau mau melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan tuh banyak takutnya. Banyak ngarangnya. Mangkanya harus dicoba biar tahu. Oooh rasanya begini… oooh yang kurang ini… oooh seharusnya begini… bawel ye. Atas dasar pertimbangan untuk perdana naik itulah, yaudah yuk, kita naik gunung Andong dulu ama anak-anak. Setelah riset di internet pun, rasa-rasanya bisa kok naik gunung ini bawa anak. Hehehe pede bener.

Tiba di hari pendakian 9 Oktober 2016, pagi-pagi saya sudah siap siaga di depan keril. Menatap keril dengan nanar. Bertanya-tanya mampukah saya? Tapi juga sangat bersemangat. Akibat terlalu bersemangat alias gugup itulah, saya sampai sakit perut. Sehabis sarapan terlebih dahulu di sebuah warung nasi uduk, kami sekeluarga terpaksa kembali lagi ke rumah karena saya harus meeting sama toilet. Hahaha. Gugup bok… 😜

Setelah urusan saya selesai, berangkatlah kami. Eiya lupa, ada lagi dramanya. Karena celana gunung saya jarang dipakai, pas di mobil eh resletingnya rusak. Gak lucu rasanya kalau fotonya nanti membuat semua orang beristighfar.  Untung saya bawa celana training cadangan untuk ganti. Dengan lihai saya berganti celana di dalam mobil. Hahaha.

Berkat rute yang baik dan benar, tibalah kami di Basecamp Taruna Jayagiri Sawit. Kira-kira 45 menit perjalanan dari rumah kami di Salatiga. Ternyata parkiran sudah penuh. Mobil-mobil berderet sepanjang jalan menuju kaki gunung. Motor-motor penuh sesak di parkiran halaman rumah orang. Tapi bagusnya ada yang mengatur parkiran, sehingga formasi parkirnya lebih teratur. Ada masjid di dekat tempat kami parkir. Toilet ada banyak di sini, jangan khawatir buat yang tiba-tiba ngeri-ngeri sedap melihat gunung menjulang, para toilet siap menampung kegugupan anda semua, hihihi. Untuk tiket masuk, kita cukup membayar Rp 5.000 per orang (sudah termasuk Rp 1.000 untuk Kas Dusun Sawit), serta uang parkir (saya agak lupa jumlahnya sepertinya Rp 10.000).

IVZR3200.jpeg

Tiket pendakian gunung Andong

img_1463

Loket pendakian

img_1459

Bawaan kami yang minimalis

Setelah dirasa semua siap, melangkahlah kami menuju gunung Andong yang berkabut pagi itu. Tak lupa saya mulai merekam dan foto-foto. Penting banget loh ini, untuk dokumentasi dan kenangan anak-anak kelak.

img_1464

Gunung Andong yang berkabut pagi itu

Gerbang masuk gunung Andong terbilang cukup mewah, sepertinya sih baru direnovasi.

IMG_1470.JPG

Gerbang masuk.. Foto-foto dulu sebelum muka lecek ..makin deg-degan

IMG_1472.JPG

Awal pendakian disambut dengan jalan yang indah ini

Pendakian kami dimulai pukul 09.45. Rayan dan Raras terlihat sangat bersemangat. Rayan hanya membawa tas kecil yang berisi snack dan air minum secukupnya, sedangkan Raras tidak membawa apa-apa, hanya sebuah trekpole yang juga diperebutkan Rayan, hehehe. Saya membawa keril mini 30 liter yang berisi tenda dan air minum, ringan sekali. Sengaja memang kami membawa tenda meskipun tidak berencana menginap, karena maksudnya mau kemping-kemping cantik di atas nanti. Tas si Ayah memang terlihat kecil, tapi beratnya jangan tanya hihihi. Ada trangia, ada logistik, jaket, spirtus, air minum, dan lain-lain, wkwkwk.

Jalur awal berupa tanah berbentuk tangga, tidak terlalu licin meskipun agak basah. Untuk tiba di Pos 1 Watu Pocong, kami membutuhkan waktu 20 menit. Lumayan cepat ya? Saya bahagia sekali, karena biasanya untuk mencapai Pos 1 di gunung lain membutuhkan waktu ya rata-rata sejam.

IMG_1474.JPG

Ini dia jalur tangga tanah menuju Pos 1

img_1475

Orang-orang yang masih segar di Pos 1 Watu Pocong 🙂

Setelah beristirahat sebentar, minum air dan duduk-duduk, kami melanjutkan perjalanan. Jalur menuju Pos 2 sudah lebih terjal. Tapi tipe jalur masih serupa, tanah-tanah licin gitu karena memang sudah cukup sering hujan kemarin itu. Waktu tempuh untuk mencapai Pos 2 Watu Gambir ternyata lebih singkat lagi, hanya 15 menit. Saya cukup takjub melihat anak-anak yang tetap semangat dan ceria. Dan tak lupa, saya selalu menanyakan kepada mereka untuk beristirahat dan meminum air.

img_1487

Rayan di Pos 2 Watu Gambir

img_1485

Santai dulu di Pos 2

Di Pos 2 agak ramai, banyak pendaki yang sedang turun kemudian menghabiskan waktunya di sini karena pos ini cukup luas. Bahkan ada beberapa yang memasang hammock. Raras menjadi pusat perhatian para pendaki yang berpapasan dengan kami. Mereka agak takjub melihat Raras yang mendaki gunung. Meskipun banyak juga sih anak kecil yang saya lihat ikut mendaki hari itu. Mungkin mereka para anak-anak yang dipaksa Bapak Ibunya yang kangen naik gunung… Eh, itu saya deng hahaha.

Setelah Pos 2 langsung puncak. Menurut saya sih jalur menuju puncak inilah yang terberat dalam rute gunung Andong. Tanjakan demi tanjakan yang semakin terjal menyambut kami. Kadang harus antri menunggu rombongan pendaki yang sedang turun. Kalau tadi 15-20 menit sampai, kali ini kami membutuhkan waktu 50 menit untuk tiba di puncak. Kebayang ya jalan menanjak selama itu. Nafas saya agak sesak sewaktu mendaki menuju puncak. Beberapa kali saya sempat berhenti istirahat dan anak-anak duluan. Pokoknya hebat banget deh mereka. Mungkin bagi anak kecil mendaki gunung adalah kegiatan bermain yang sangat menyenangkan karena tempatnya sangat luas ya. Hehehe. Atau mungkin juga langkah mereka sangat ringan karena belum mempunyai beban hidup yang menghantui. Beuh, mulai deh ngawur. Hahaha.

Kabut mulai sangat menebal semakin mendekati puncak. Pandangan kami hanya terbatas beberapa meter dan harus melangkah dengan sangat hati-hati karena jurang di sebelah kiri kami tak terlihat. Beberapa saat sebelum puncak, kita akan menemukan sumber mata air yang sudah dipasang kran. Airnya sangat jernih, menggoda kami untuk berhenti dan sekedar membasahi wajah.

img_1494

Jalur menuju puncak yang mulai menguji nyali, Raras sih santai saja 🙂

IMG_1498.JPG

Kabut semua

IMG_1496.JPG

Sumber mata air sebelum puncak

img_1501

Horeee ketemu warung di atas….

img_1504

Sudah sampai senangnya, gaya dulu deh

Akhirnyaaa kami sekeluarga tiba di puncak Gunung Andong pada pukul 11.11 WIB. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Cukup singkat yaa? Gunung Andong memiliki 4 puncak, yaitu Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong, dan Puncak Alap-alap. Puncak Andong yang tertinggi, yaitu memiliki ketinggian 1.726 Mdpl. Disebut Andong karena memiliki beberapa puncak sehingga membentuk seperti punuk sapi. Tapi ada juga yang bilang kalau asalnya dari daun Andong (sumber: internet). Di puncak banyak berdiri tenda para pendaki yang mungkin sudah bermalam dan mengejar sunrise (puncak Jiwa). Pemandangan yang kami dapatkan kurang maksimal, karena semua tertutup kabut. Kalau cuaca cerah, seharusnya dari sini kami bisa melihat gunung Merbabu, Merapi, Ungaran, Telomoyo, dan si kembar cantik Sundoro Sumbing. Tapi alhamdulillah banget lah sudah bisa sampai dengan selamat di puncak. Kami tidak sempat ke puncak Alap-alap karena keburu turun rintik-rintik hujan.

img_1559

Yeeaaay.. Bisa juga foto keluarga di sini 🙂

img_1509

Anak-anak hebat!

Setelah menyalurkan hasrat narsis, kami berlari menuju warung karena hujan turun dengan derasnya. Di puncak terdapat 2 warung. Salah satunya warung Pak Imun. Di warung pak Imun inilah kami berteduh dan makan siang. Warung agak ramai karena banyak pendaki yang juga berteduh. Tapi tidak mengapa karena semakin padat semakin hangat ya kan? Suhu di atas sini tidak terlalu dingin seprti puncak gunung lain yang tingginya 3000an. Jadinya saya tidak terlalu khawatir Rayan dan Raras akan kedinginan.

Cita-cita kami mendirikan tenda sepertinya belum bisa terlaksana. Karena hujan deras sekali, agak malas untuk menggelar tenda. Kami cukup mengeluarkan trangia saja dan memasak chicken nugget untuk makan siang anak-anak. Tak lupa menyeduh teh dan kopi dong. Masa naik gunung nggak nge-teh… Hehehe. Selagi makan, tiba-tiba Raras sakit perut. Anak ini memang doyan sekali BAB. Teratur sehari sekali dia BAB. DI MANA PUN. Di tempat Rayan karawitan, di GPD tempat Rayan taekwondo, semuanya pernah dia coba. Kali ini nampaknya Raras tidak mau melewatkan tempat langka untuk BAB, yaitu di puncak gunung. Jadilah kami mencari tanah kosong dalam kondisi masih hujan, dan Raras sukses meninggalkan jejaknya di puncak gunung Andong. Selamat ya Ras 🙂

img_1531

Makan siang dulu

Setelah sekitar 1,5 jam beristirahat dan berteduh, hujan mulai mereda. Kami pun membereskan barang dan bergegas turun. Tidak lupa berpamitan kepada Bapak Ibu pemilik warung. Hebatnya mereka, turun naik gunung untuk meloading barang dagangan mereka… Salut…

Sebelum turun kami menyempatkan diri melihat makam Kyai Abdul Faqih (Ki Joko Pekik), seorang tokoh penyebar agama Islam (sumber: internet). Makam ini sering didatangi para peziarah. Makam ini berbentuk seperti rumah, dan di dalamnya makamnya dikelilingi lagi oleh tembok. Untuk masuk ke ruangan makam, kita harus melepas sepatu. Saya hanya melihat dari kaca luar.

Perjalanan turun memakan waktu sekitar 1,5 jam juga dengan diiringi hujan gerimis. Jam 15.00 kami sudah tiba lagi di Desa Sawit.Tiba di bawah hujan turun semakin deras. Bersyukur kami sudah di mobil saat itu. Perjalanan pertama mendaki gunung dengan anak-anak sangat menyenangkan. Apalagi anak-anak sangat menikmati dan tidak mengeluh sama sekali. Saya jadi tidak sabar untuk melakukan perjalanan berikutnya, tapi lain kali yang menginap di gunung, biar anak-anak merasakan nikmatnya tidur beratapkan bintang-bintang. Suatu kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Berarti persiapannya juga harus lebih matang agar perjalanan tetap aman dan menyenangkan.

Silakan mampir ke channel saya untuk menonton sedikit tentang perjalanan gunung Andong ini (jangan lupa LIKE & SUBSCRIBE :D). Membuat videonya kemarin lebih cepat selesai karena saya memang lagi senang bikin vlog-vlog an gitu deh. Yah maklumlah saya kan emak-emak kekinian hahaha. Dan membuatnya juga jauuuh lebih mudah daripada menulis blog. Kalau menulis, musti nunggu mood datang, dan datangnya pun tak jelas kapan. Suka-sukanya dia aja hehehe.

Makasih ya sudah mampir 🙂

Salam dari Salatiga, 13 Desember 2016

I’tikaf Bersama Anak: Repotkah?

Rasa-rasanya ini kali pertama saya i’tikaf setelah beberapa belas tahun lamanya. Kemana aja saya? Tapi Alhamdulillah masih diberi kesadaran untuk mencoba memperbaiki diri di momen-momen penghujung Ramadhan tahun ini. 

Mulanya agak ragu karena takut repot membawa 2 anak kecil. Namun setelah dijalani, ternyata tidak serepot yang dibayangkan. Rayan (9 tahun) sudah bisa dilepas sendiri (bersama sepupunya) di bagian laki-laki. Dan Raras (4 tahun) bisa tidur dengan nyenyak sampai habis subuh. 


Tapi jangan lupa untuk memperhatikan beberapa hal dan mempersiapkan beberapa perlengkapan berikut bagi yang ingin membawa anak kecil saat i’tikaf.

Berikut beberapa tips dari saya:

1. Datanglah lebih awal ke mesjid yang ingin dituju untuk i’tikaf. Kalau bisa, ikut solat taraweh di sana agar bisa mendapatkan posisi yang nyaman untuk tempat tidur anak-anak. Posisi yang nyaman menurut saya, tidak terlalu jauh dari kamar mandi, di shaf paling belakang dekat pintu masuk, dan bisa berdampingan dengan bagian anak laki-laki. Karena kalau di shaf depan, pastinya akan mengganggu pelaksanaan qiyamul lail malam nanti. Saat anak-anak masih tertidur nyenyak, kita harus menggeser-geser mereka.

2. Bawalah alas tidur yang cukup empuk bagi anak-anak. Tidak harus berupa kasur, agar efektif cukuplah membawa selimut tebal atau bedcover sebagai alas. Dan selimut tipis sebagai selimut (tergantung tingkat dingin atau tidaknya masjid).


3. Bawalah air mineral yang cukup. Meskipun disediakan air mineral di masjid, namun alangkah baiknya kita membawa persiapan sendiri karena peserta i’tikaf yang cukup banyak. Jangan lupa bawa asupan susu kotak.

4. Bawalah makan sahur yang mudah penyajiannya. Biasanya memang ada panitia yang menyiapkan kupon sahur, tapi dikhawatirkan menu yang disediakan tidak sesuai dengan lidah anak-anak. Bisa jadi pedas, atau bisa pula tidak kebagian kupon. Kalau saya cukup membawa nasi dan chicken nugget untuk Rayan. Alhamdulillah cukup. Juga bawa kurma. 

5. Sebelum berangkat, jangan lupa tanyakan pada anak apakah ada yang mau ke kamar mandi.

6. Untuk keamanan, kita yang dewasa bisa memakai tas pinggang atau tas selempang untuk menyimpan dompet dan hp. Tadinya saya juga malas membawa hp, tapi gimana kan harus pakai alarm untuk bangun malamnya, takutnya ga kebangun. Dengan adanya tas kecil ini, akan memudahkan pergerakan ketika harus ke kamar mandi dan ketika solat, tidak harus menenteng-nenteng tas besar. Repot banget.

Kalau yang ini saya salin dari grup whatsapp muslimah Salatiga, dari Ust. Ahmad Zainuddin:

قال ابن رجب رحمه الله تعالى : 

يا عباد الله إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

Berkata Ibnu Rajab rahimahullah : “Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa saja yang sudah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menyudahinya dengan yang terbaik”      

قال ابن الجوزي رحمه الله :

إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع…

Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah berkata :  “Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish ia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, maka jangan sampai kuda lebih cerdas darimu.. Karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.. Untuk itu, jika kamu termasuk dari yang tidak baik dalam penyambutan, maka semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan”             

وقال ابن تيمية رحمه الله :

العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات.

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Yang akan menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal, dan bukan buruknya permulaan…”             

وقال الحسن البصري رحمه الله :

أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله…

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata : “Perbaiki apa yang tersisa bagimu, maka Allah akan mengampuni atas apa yang telah lalu, maka manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih”       

Yaa Allah jadikanlah sebaik-baik amalanku adalah pada penutupannya.

  بارك اللّٰه فيكم وتقبل الله منا ومنكم

Selamat menikmati hidangan Allah Ta’ala yg terbaik di “Malam 10 hari terakhir” semoga Allah takdirkan keberuntungan di akhir perjalanan.

Taqobbalallaahu minna waminkum

Taqobbal yaa kariim

Semoga tulisan ini bermanfaat yaa 🙂
Depok, 30 Juni 2016

Suatu Hari Ketika Membuat Paspor

Namanya Ibu. Tidur paling malam, bangun paling pagi. Demikian pun hari ini. Bangun jam 04.30, dengan harapan dapat berangkat ke Semarang jam 6 pagi. Namun takdir berkata lain. Ya gitu deh. Namanya juga punya anak bocah 2 orang, yang harusnya 10 menit jadi sejam, yang harusnya sejam jadi 2 jam. Baru siap berangkat jam 7 kurang sedikit. Terima dan hadapilah.

Rombongan Salatiga mulai menyusuri jalanan bersama orang orang yang berangkat kerja dan anak anak yang menuju sekolah. Jalanan ramai lancar seperti biasa. Kami masuk tol dan Ayah mulai mencari alamat kantor imigrasi di Google map.

Hari ini, setelah usia menginjak ke-33, akhirnya saya bikin paspor. Segala puji bagi Allah. Tinggal perginya aja nih gatau ke mana. Hahaha. Anak anak saya lebih beruntung sepertinya, bisa membuat paspor di usia 8 dan 3 tahun. Semoga mereka ada rezeki untuk berkeliling dunia.

Seminggu sebelumnya, sudah pasti saya melakukan pengumpulan informasi melalui google. Tentang bagaimana cara membuatnya, di mana, perayaratannya, biayanya, dan lain sebagainya. Saya rasa kita beruntung sekali tinggal di era teknologi internet seperti ini. Mau cari informasi apa saja, ga perlu telepon atau cari buku yellow pages. Cukup duduk di sofa pakai daster dan pegang hp. Sambil sesekali nyuapin Raras yang makannya super lama (selalu ada bagian curhatnya, jangan bosan ya hehe).
Karena saya tinggal di Salatiga, saya harus membuat paspor di Kantor imigrasi Semarang yang beralamat di Jl. Siliwangi No.514 dengan alamat website http://semarang.imigrasi.go.id/
Kita bisa membuat paspor di kantor imigrasi manapun yang terdekat dengan tempat tinggal kita, tapi nanti alamat yang tercetak di paspor akan sesuai dengan alamat Ktp.

Beberapa blog yang sangat membantu saya di antaranya:

https://www.maxmanroe.com/cara-membuat-paspor-online-daftar-paspor-online-lebih-mudah.html

https://korhejdalle.wordpress.com/2014/02/28/cara-pembuatan-paspor-anak-dan-bayi-secara-online/

Dari hasil baca baca, saya putuskan akan melakukan pembuatan paspor secara online. Keuntungan membuat paspor secara online adalah, kita hanya perlu datang 2x ke kantor imigrasi. Yang pertama untuk foto dan wawancara, yang kedua untuk mengambil paspor yang sudah jadi. Kalau lewat offline atau daftar manual, kita harus datang 3x. Melalui pertimbangan emak emak rempong masa kini seperti saya, maka online merupakan pilihan yang terbaik.

Baiklah mari kita mulai tahapan pembuatan paspor secara online ini.

1. Buka alamat website http://semarang.imigrasi.go.id/ atau http://www.imigrasi.go.id/ atau langsung ke https://ipass.imigrasi.go.id:8443/xpasinet/faces/InetMenu.jsp

2. Pilih Layanan Paspor Online, biasanya ada kolomnya di halaman muka web.

3. Pilih Pra Permohonan Proposal

4. Kita masuk ke halaman Input Data Pemohon. Silakan masukkan data sejujur jujurnya agar tidak dosa dan tidak kena denda 500 juta.
Untuk Jenis permohonan pilih paspor biasa.
Untuk Jenis paspor pilih 48H Perorangan, maksudnya adalah paspor 48 halaman. Untuk yang 24 halaman belum tersedia layanan onlinenya.
Untuk lokasi kantor imigrasi: silakan cari lokasi yang dipilih.
Untuk alamat email, apabila membuat permohonan 3 paspor, maka siapkan 3 alamat email yang berbeda, karena 1 pemohon tidak bisa memiliki alamat email yang sama dengan pemohon lainnya. Bisa pakai email suami atau saudara asalkan emailnya masih aktif.
Untuk pekerjaan ibu rumah tangga, silakan pilih lainnya.
Untuk nomor identitas pada pembuatan paspor anak, pakai NIK di kartu keluarga yang tertera di nama anak.
Untuk ID berlaku sampai dengan, silakan tambah 5 tahun dari tanggal ID dikeluarkan.

Setelah itu klik tombol “Lanjut”

Input Data

Input Data

5. Kita akan masuk ke halaman Input Data Alamat Pemohon.
Pada halaman ini akan dibutuhkan:
-Alamat rumah
-Alamat kantor
-Alamat orangtua
-Alamat lama
-Nama ayah, tempat tanggal lahirnya
-Nama ibu, tempat tanggal lahirnya
-Nama suami/istri, tempat tanggal lahirnya
Kemudian klik “Lanjut”

Input Data Alamat

Input Data Alamat

6. Apabila semua data sudah benar, kita otomatis akan mendapat email dari spri@imigrasi.go.id yang berisi lampiran “Bukti Pengantar ke Bank”
Nah, lampiran ini harus dicetak.
Hasil cetak kita bawa sambil melakukan pembayaran di Bank BNI (tanpa nomor rekening, kita tidak mengisi formulir apapun, kalau tiba di bank, bilang saja ke satpamnya mau bayar paspor, pasti sudah mengerti, hanya mengambil nomor antrian).
Besarnya biaya saat saya membuat paspor pada Maret 2015 adalah Rp 355.000 per paspor.

Bukti Pengantar ke Bank

Bukti Pengantar ke Bank

7. Setelah membayar, teller akan memberikan resi bukti pembayaran. Simpan.
Kemudian klik “Lanjut” dalam email pertama yang kita dapat tadi.
Status permohonan kita akan tertulis sudah membayar.
Ada nomor jurnal bank di resi yang harus diisi di situ, dan juga kita harus menentukan tanggal kedatangan ke kantor imigrasi.

Resi dari Bank

Resi dari Bank

8. Setelah itu kita akan mendapat email baru lagi dari spri. Isinya “Tanda Terima Permohonan” dan 2 lembar formulir. Tanda terima dan formulir tersebut lalu diprint dan diisi, dengan menggunakan huruf cetak dan tinta.

Tanda Terima Permohonan

Tanda Terima Permohonan

Formulir SPRI

Formulir SPRI

Formulir SPRI

Formulir SPRI

9. Selesailah proses yang berhubungan dengan internet. Karena saya membuat 3 paspor, maka saya melakukan proses di atas 3 kali. Tidak perlu mengupload file file persyaratan seperti beberapa tahun yang lalu. Jadi lebih mudah bukan?

Langkah berikutnya adalah mempersiapkan kelengkapan persyaratan pembuatan paspor. Yaitu:

1) Mengisi formulir permohonan secara lengkap dengan huruf cetak (formulir yang tadi didapatkan di email).

2) Melampirkan:
a. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku
b. Kartu Keluarga (KK)
c. Akte kelahiran/Ijazah/Surat nikah/Surat baptis
d. Rekomendasi dari instansi apabila pemohon sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI, POLRI
e. Untuk paspor anak dilampirkan
-KTP kedua orangtua (cara fotokopinya harus berdampingan ktp ayah dan ibu, bagian belakang ktp juga difotokopi di kertas yang sama secara berdampingan. Tidak boleh satu kertas 1 ktp. Kesalahan ini terlihat sepele namun ternyata mutlak)
-Surat nikah
-Akte kelahiran anak
-Fotokopi paspor orangtua
-Surat kuasa orangtua bermaterai 6.000 (surat dan materai saya beli di tempat fotokopi di dalam area kantor imigrasi)

3) Persyaratan a, b, c, d, e difotokopi dengan ukuran kertas A4 (ukuran kertas ini mutlak, tidak bisa ditawar. Silakan diatur dengan tukang fotokopinya)

4) Membawa berkas persyaratan asli saat wawancara

Surat Kuasa untuk membuat paspor anak

Surat Kuasa untuk membuat paspor anak

Persyaratan Permohonan Paspor RI

Persyaratan Permohonan Paspor RI

Sumber: poster di dalam kantor imigrasi Semarang

Setelah semua persyaratan lengkap, silakan datang pagi pagi sekali ke kantor imigrasi sesuai tanggal yang telah dipilih.

Rombongan Salatiga sudah hampir sampai. Ternyata mudah sekali mencari kantor imigrasi Semarang. Tinggal masuk tol dan keluar di Krapyak. Belok kanan lalu putar balik sedikit dan sampailah kita di kantor imigrasi. Kantornya dekat dengan Dishubkominfo dan Pengadilan Negeri. Yang agak sulit adalah mencari tempat parkir karena kami tiba sudah agak kesiangan, sekitar jam 8 lebih. Saya cukup pede karena sudah daftar online.
Setelah menyerahkan sim ke satpam dan menukarnya dengan tanda pengunjung, saya menyeruak menembus keramaian pengunjung. Pintu kantornya belum dibuka, namun sudah ada sekitar 50 orang berkerumun di depannya. Pingin nangis lihatnya. Langsung saya cari orang yang kira kira petugas. Tidak sulit mencarinya, karena terlihat seorang pemuda paruh baya yang terlihat diintimidasi oleh beberapa pengunjung. Alias ditanya tanya secara berebutan. Btw paruh baya tuh apa ya?
Petugasnya pokoknya gak tua tapi ga muda gitu deh. Sekitar akhir 20an atau awal 30an. Dan langsung saya tanya.

Saya: Mas, saya sudah daftar online, mau ambil nomor antrian dimana ya?
Petugas: Oh sebentar saya ambilkan
Saya: Untuk bikin 3 paspor ya mas
Petugas: Oh iya

Masnya masuk sebentar ke dalam ruangan yang masih ditutup lalu keluar membawa 3 kertas kecil berisi nomor antrian. Saya dapat A006, A007, A008.
Rupanya kalau yang mendaftar manual, nomor antrian hanya dibatasi sampai 40. Bahkan hingga saat ini sudah sampai 53. Tapi kalau yang online, masih diterima.
Alhamdulillaaaah dalam hati saya kegirangan.
Dan tak lama kemudian pintu dibuka. Kami pun masuk mencari tempat duduk yang kosong. Penuh sekali.
Kami duduk di depan ruangan foto dan wawancara yang hanya dibatasi kaca, jadinya kami bisa melihat orang orang yang sedang difoto.
Saya melihat ke arah layar monitor yang disediakan untuk melihat antrian yang sedang berjalan. Ternyata langsung ada pemanggilan untuk A001.
Saya agak kaget, karena belum beres beres berkas takut ada yang kurang.
Dan juga membereskan bawaan anak anak saya yang rempong. Ada air minum, bekal makan, baju ganti, pampers, tisu basah, tisu kering. Ya standar emak emak lah.
Saya sudah kegirangan karena pemanggilan berlangsung cepat. Tidak sampai 5 menit sudah A002. Sebentar lagi nih. Saya agak bingung juga kok bisa dapet nomor cantik padahal tadi datang siang. Apa karena online?
Saya melihat lagi kertas antrian saya.
Dan disitulah saya merasa SEDIH.
Karena ternyata nomor antrian saya adalah A106, A107, A108…….
Zzzzzzzzzz

Ayah pergi meninggalkan kami karena harus bekerja. Saat itu pukul 9. Ayah bilang mungkin prosesnya jam 14 baru selesai. Saya gak percaya sih, paling jam 11 pikir saya.
Saya menangis pilu dalam hati. Mana belum makan, mana bawa 2 anak yang gabisa diem…
Saya menyesal gak berangkat jam 5 subuh.
Akhirnya kami menungu, menunggu, dan menunggu.
Jam 10.30 nomor saya dipanggil. Antrian A adalah menuju meja informasi. Disini berkas berkas saya dicek kelengkapannya. Setelah dilihat lengkap, saya menerima 3 buah map biru berisi berkas berkas tadi. Kami mendapat nomor antrian baru. Karena Rayan dan Raras anak kecil, maka mereka mendapat nomor antrian khusus untuk orang sakit dan lansia. Antrian D. Eh gak sampai 10 menit antrian D langsung masuk untuk foto dan wawancara.
Jangan lupa tidak boleh memakai baju berwarna putih, dan tidak boleh pakai celana pendek.
Sayang beribu sayang, antrian saya bukan D. Antrian saya antrian normal. Dan itu berarti anak anak harus menunggu juga bersama saya. Laaahhh??? Piye iki???? Yang ini benar benar gak masuk di akal saya. Masak anaknya dapet nomor istimewa biar duluan, tapi ibunya nomor normal, ya sami mawon…..
Baiklah.
Kami menunggu, menunggu dan menunggu…
Sekitar jam 14.30 nama saya baru dipanggil. Sudah mumet sekali rasanya.
Ngantuk, bete, laper, anak anak lari larian terus. Sumpek pokoknya. Dan oiya, di dalam ruang tunggu itu hp saya gak dapet sinyal. Lengkap.

Rayan dan Raras yang tabah nungguin saya

Rayan dan Raras yang tabah nungguin saya

Setelah foto dan wawancara, kami meninggalkan kantor imigrasi pukul 15.30. Ayah tidak bisa menjemput karena tertahan meeting. Akhirnya kami bertiga dengan gontai mencegat bis dari pintu tol dan menuju Salatiga.

Saran saya, lain kali naik taksi saja meskipun 300 ribu terasa berat, hehehe. Karena menggendong Raras yang tertidur sepanjang jalan itu rasanya pegal tak terkira. Dan tentu saja, menambah daftar kemumetan hari itu.

Tapi tak mengapa, itulah yang namanya PENGALAMAN. Tidak ada guru sehebat pengalaman kalo kata buku buku sih. Hahahaha.

Jadi, ingat ingat pesan saya untuk yang daftar online. Tetaplah berangkat pagi, kalo bisa jam 5 subuh, agar dapat nomor antrian cantik. Gak perlu pakai calo, karena prosesnya cukup mudah dan jelas kok. Cuma ya itu… Kalo kesiangan… Ngantriiiiii. Kapan ya proses administrasi kayak gini gak perlu memakan waktu seharian… Hiks.
Seminggu kemudian paspor kami jadi dan tentu saja bukan saya yang mengambil.

Maafkan agak agak norak ya, bikin paspor aja kok pake dicerita ceritain segala. Ya siapa tau aja ada yang butuh informasi ini…. 🙂 Demikian sharing saya kali ini, semoga bermanfaat yaa.

Saya dan paspor paspor yang penuh perjuangan :)

Saya dan paspor paspor yang penuh perjuangan 🙂

Salatiga, 1 April 2015

2014: Diari, Berlari dan Mendaki

Kemarin kemarin saya belum sempat corat coret tentang pencapaian selama tahun 2014. Ciyeee pencapaian… Masa iya emak emak rempong ini punya pencapaian? Ngaca dong sama daster! Wkwk..
Punya doong… Hihi
Jadi ya, terlalu merendahkan diri juga gak baik buat jiwa. Okelah kita emak rumah tangga, okelah kita gak punya sesuatu yang “besar” untuk dibanggakan, tapi salah juga untuk meremehkan diri sendiri… Ini sih penghiburan buat saya aja, bebas dong, tulisan juga tulisan saya… Hahaha

Pertama,

Tahun 2014 menjadi tahun lahirnya blog alias diari saya. Hihihi. Meskipun semuanya tulisan asal asal dan lebih ke arah curcol, namun dari dalam lubuk hati yang paling dalam, saya masih berharap blog ini ada manfaatnya buat orang lain 🙂
Sebenarnya sudah ingin bikin blog dari laaaamaaaaaa sekali. Tapi rasa rasanya, lebih mudah mencari alasan untuk menunda memulai suatu pekerjaan dibanding mengerjakannya.
Iya apa iya?

Gaada waktu. Ribet urusin anak. Baru mau ngetik sebentar sudah ada suara suara merdu yang tidak pernah berhenti memanggil. Suaranya: “Bunda… Mau minum Milo..”
“Bunda… Mau main ps.. Colokin kabelnya..”
“Bunda… Mau pipis…”
“Bunda… Mau nonton film Frozen…”
Hehe
Gak habis habis satu novel kalo ditulisin semua kemauan para boss itu.
Kapan bisa nuliiiiiissss???
Alasan.

Pengen pake laptop aja nulisnya. Laptopnya ada, tapi dengan sukses huruf huruf keyboardnya dipretelin Raras waktu dia umur setahun. Ada beberapa yang bisa dipasang, tapi ada banyak juga yang patah. Jadinya males gitu deh. Gak bisa ngetik cepet. Padahal kan saya harusrusrus ngetik dengan cepat biar ide gak keburu hilang.
Alasan.

Gak ada sinyal internet yang ok. Saya pengennya tuh blognya sempurna. Desainnya, hurufnya, bla bla bla.
Alasan.

Ujung ujungnya,
Saya membuat blog dan menulis semua artikel dari hp saya. Hahaha.
Dimana ada kemauan, di situ ada jalan.
Jangan remehkan pepatah itu, bener banget dan sudah terbukti berkali kali.

2015/01/img_6747.jpg

Dengan modal hp dan aplikasi wordpress yang alhamdulillah bisa diunduh gratis, jadilah blog ini.

Meskipun baru sedikit tulisan yang baru, dan kebanyakan tulisan lawas, lumayanlah buat emak emak ini.

Kedua,

Tahun 2014 menjadi tahun pelarian saya.
Hah?
Pelarian dalam arti sesungguhnya.
Berlari.
Setahun ini, berkat lagi lagi kecanggihan hp, saya bisa mengukur bahwa lari saya mencapai 153,7 km…
Hore buat saya 🙂
Ya ya ya. Angka itu gak ada apa apanya buat orang lain yang pada lari lari marathon di gunung.
Tapi buat saya? Itu okeh bangeth!
Padahal saya hanya berlari 5 kilo setiap minggunya. Beberapa kali libur, dan beberapa kali 6 kilo. Tapi ternyata hasilnya bisa 100 kilo gitu. Lumayanlah…

Memberi makna pada saya, bahwa apapun yang kita lakukan, meskipun sedikit, apalagi rutin, pasti suatu saat akan mendatangkan hasil. Jangan pernah merasa kecil karena hanya bisa melakukan hal hal sepele yang tidak ada gunanya di mata orang lain. Tetaplah positif, tetaplah optimis, bahwa kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula.
Berjuanglah semampu kita.
Eh, apa hubungannya sama lari ya? Gak ada. Hehe.

Masih tentang lari, sebenarnya di awal tahun 2014 saya tidak pernah menargetkan bahwa lari akan menjadi hobi baru saya.
Tapi ya karena lagi ngehits, rugi rasanya kalo gak ikut ikutan. Hahaha. Awalnya ya begitu. Eh lama lama enak juga. Jadi keterusan meskipun hanya seminggu sekali.
Ada rasa malas itu pasti, tapi kata si Nike: “You can’t finish first if you never start”
Iyalah, gimana mau finish kalau gak pernah start.

2015/01/img_6663-0.png

Awal berlari, 3 kilo menjadi titik depresi. Dari awal pengennya minimal 5 kilo. Jadi stress sendiri. Tapi santai aja larinya. Akhirnya selesai juga 5 kilo.
Apalagi ke sini sini pake temen musik sambil lari, jadi santai banget. Asik lah. Gratis pula olahraganya.

Berlari juga mengajarkan saya tentang komitmen.
Komit untuk terus berlari sampai target yang ditetapkan. Kalau diturutin sih maunya berhenti terus. Semuanya sesungguhnya tentang mental. Sama seperti naik gunung.

Membaca artikel artikel tentang bagaimana berlari yang benar juga akan membantu sekali agar pernafasan teratur, tidak cepat lelah dan menghindari cedera. Banyak kok kalau mau dicari di google.
Jangan malas!

Eh, ngomong ngomong playlist saya jadul banget deh. Nih kayak gini.

2015/01/img_6734-0.png

Ketiga,

Berhasil naik gunung Merbabu November lalu.
Sepak terjang dan kegagahan saya kala mendaki Merbabu saat itu bisa dibaca di sini.. Hahaha.
Merupakan pencapaian yang membanggakan terutama bagi jiwa dan raga saya sendiri.

2015/01/img_6750.jpg

Naah maka demikianlah beberapa (3 biji) pencapaian yang dapat saya ceritakan saat ini.
Udah segitu aja?
Hehehe, iya.
Semoga tahun depan lebih banyak pencapaian yang dapat saya tuliskan.
– Bisa naik gunung lagi
– Bisa manjat tebing lagi
– Bisa nyobain trail running
– Bisa terus lari
– Bisa nyetir mobil (tapi mobilnya belum ada :D)
– Bisa… Bisa…Bisa….

Semoga Allah melindungi kita semua. Menjalani tahun ini dengan sehat, bahagia, berkumpul dan berbagi dengan orang orang tercinta, dan tak lupa menebarkan kebahagiaan tersebut.
Buat yang tahun ini sedang mendapat
ujian hidup, sabar sabar dan selamat ya, berarti menjadi manusia terpilih yang akan naik tingkat, amin.

2015/01/img_6754.jpg

Munggah Merbabu

Kaki mana kaki…
Ingin rasa rasanya punya cadangan kaki saat ini.
Turunan demi turunan yang terjal lagi berdebu tak elak membuat ujung kaki saya terasa sakit, dengkul serasa mau copot. Pos 1 masih jauh di depan mata.
Saya memutuskan untuk melepas sepatu sejak jauh di atas pos 3. Rasanya lebih enak, meskipun dengkul masih juga gemetaran. Resikonya, tapak kaki yang terasa sakit ketika menginjak batu batu dan tangkai kayu. Menuju pos 1, saya putuskan untuk memakai sepatu kembali.
Setelah minum sedikit, tiba tiba di hadapan saya muncul pahlawan super keren: Gigih. Hahaha. My superhero rescuer!
Gigih naik kembali ke atas menjemput saya setelah ia dan teman teman sampai di desa. Jarak kami terpaut sekitar satu jam. Saya sih udah berdoa doa dalam hati agar ada yang dateng, tapi saat Gigih benar benar datang, itu luar biasa rasanya. Meskipun entah karena ia takut ketinggalan kereta atau memang tulus atau dua duanya gapapa deh. Hahaha.

Salah satu sisi Merbabu dari arah alun alun Pancasila, kota Salatiga

Salah satu sisi Merbabu dari arah alun alun Pancasila, kota Salatiga

Persiapan Emak Rempong

Berawal dari komen mengkomen di sebuah foto di facebook, Gigih menginformasikan bahwa ia dan teman teman akan naik gunung Merbabu tanggal 1 November. Wah, Merbabu tuh cuma 5 langkah dari rumah sayaaa (lebay). Masak ga ikutan sih? Beberapa waktu yang lalu anak Mapala juga sempat ada yang naik, tapi waktu itu saya dan Peni (Bkp 2003) belum jadi ikutan karena persiapan kami yang mendadak. Tawaran Gigih sepertinya menarik, masih ada waktu sekitar sebulan sebelum tanggal 1. Saya pun memantapkan hati untuk gabung trip kali ini, naik lewat Cunthel, turun di Selo (Boyolali). Sounds great. Mantap.

Sabtu, 25 Oktober 2014, 23.45
Siap tidur di kamar bersama 2 buah hati saya.
Pada jam yang sama seminggu ke depan, saya akan tidur di dalam tenda berbalutkan sleeping bag di suatu ketinggian gunung Merbabu, bersama teman teman Mapala.
Setelah 8 tahun lamanya..

Senin, 27 Oktober 2014, 23.55
Pagi tadi kerilnya datang. Atau lebih tepatnya semi carrier, atau daypack ya? Karena ukurannya mungil bingiits.. Cuma 30 liter. Hahaha. Selain karena perjalanan Merbabu ini singkat, untungnya saya jalan dengan junior yang baik hati sehingga saya hanya membawa barang barang pribadi. Asik lah ya. Jadi saya pikir, cukuplah segitu hehehe. Keril ini seumur umur baru pertama kali saya membelinya. Dulu jaman kuliah, mana mampu saya beli keril. Sekarang, lumayanlah, bisa pake duit suami. Uhuy. Sengaja dong, belinya yang agak mahal, selain karena suka sama warnanya, juga saya pikir kualitas back system sebuah tas tuh penting banget buat kenyamanan perjalanan kita. Dulu sih masih muda kuat kuat aja, pake keril 60liter padahal badan cuma seiplit. Eh, nggak kuat juga deng, selalu saya kalau turun gunung dengkulnya sakit dan lamaaaa banget turunnya. Nah apalagi sekarang, ya siapa tau kalo tasnya mahal jadi berasa enteng aja jalannya. Hahaha. Amiiiin.
Seneng banget rasanya punya keril. Alhamdulillaaah. Ini juga belinya pertimbangan banget. Begadang berapa malem gugling model keril yang bagus kualitasnya dan enak di mata. Saya kan libra ya, jadi beli apa apa tuh timbang sana timbang sini. Beli baju lebaran bisa muter muter mall 2 jam. Kalo modelnya gaada yang pas sama hati, ya gajadi beli. Atau kalau masih ragu besoknya saya balik lagi deh ke mall itu. hahaha. Silakan tanya sama Nitut Lelonot. Kebanyakan sih ujung ujungnya gajadi beli dan menyesal kemudian. Hihihi. Padahal model baju saya juga gak aneh aneh banget. biasanya cuma kaos polos atau kemeja gitu deh. bukan model gamis ala ala syahrini.
Makin ga sabar euy rasanya menanti tanggal 1.

Osprey Tempest 30

Osprey Tempest 30

Tampak samping

Tampak samping

Backsystem yang "cantik" yang membuat saya terpaut

Backsystem yang “cantik” yang membuat saya terpana

Kamis, 30 Oktober 2014, 11.06
Tadi malam konfirmasi ke Gigih (Bkp 2009), masih ok gak nih rencana Merbabunya. Ternyata dia tadi malam belanja buat persiapan Sabtu. Oke deeeeh… Deal berarti nih. Insya Allah. Karena saya suka bikin rencana rencana iseng seperti manjat, mau naek gunung atau mau trail running, keseringan ga jadinya hahaha. Jadi sejak awal sebenarnya sudah pasrah untuk kemungkinan terburuk akan ga jadi. Yang gak oke cuma satu nih: sepatu. Saya belum nemu sepatu trail hingga detik ini. Kemaren nyari di Magelang gak dapet. Okelah gakpapa, saya pakai sepatu lari aja. Seperti dulu dulu. Toh perjalanannya singkat. Semoga gak ada kendala yang berarti. Gak ada kendala juga seperti: suami saya lupa pulang malem Sabtu buat jagain anak anak… Zzzzzzzzzzz

Jum’at, 31 Oktober 2014, 21.04
Packingnya sudah selesaaii… Dan… tas 30 liter itu terisi penuh sesak hiks. Dengan sangat terpaksa buahnya besok daku serah terimakan saja ke semuanya yaaa hahaha. Agak agak gugup deh, takut ada yang kurang bawaannya. Sampe sampe bikin list bawaan gitu kayak zaman caang. Padahal cuma bawa barang barang pribadi tapi kok udah berasa beraaattt banget. Nangis lagi.

Daftar barang bawaan saya. Caang Bkp 2015 hehe. Tuh kan sikat gigi belom kebawa....

Daftar barang bawaan saya. Caang Bkp 2015 hehe. Tuh kan sikat gigi belom kebawa….

Sendal Jepit
Ada cerita sedikit dari sendal jepit. Karena saya gak punya sendal yang bener bener sendal jepit, akhirnya pemburuan sendal jepit swallow pun dimulai. Kenapa harus swallow? Ya seingat saya merk sendal jepit ya itu. Ketawan jadulnya. Setelah ke Alfa, Indomaret, Carrefour dan beberapa toko kelontong di area Salatiga, saya hampir putus asa karena gak berhasil menemukan sendal jepit Swallow. Ada merk Ando di Carrefour, tapi harganya… Zzzzz… 35 ribu rupiah. Ga ikhlas gitu mau beli sendal jepit seharga segitu… Hihihi medit ya. Seingat saya pun dulu sendal Ando masih 20 ribu deh, kenapa jadi mahal banget gitu??? No way deh. Karena sehari hari saya udah punya sendal crocs untuk rumahan, maka saya pikir sendal ini gak akan sering dipake. Tapi untuk bawa sendal crocs ke gunung, males aja packingnya. Tuh kan pertimbangan banget ya saya… Hihihi
Nah, maka suatu ketika saya ke toko kelontong (masih area Salatiga), saya pun melihatnya tergolek di pojok toko. Tadaaaa…. Sendal jepit Swallow! Langsung deh saya pilih warna dan ukuran. Tapi gak ada harganya.. Ah biarlah batin saya, pasti gak sampe 20 ribu dan udah butuh banget. Ketika di kasir, puji syukur saya panjatkan karena harganya hanya…. 8.500 rupiah!!! Hahahaha puaaaaaassss (senyum lebar sambil menatap sinis ke sendal Ando di Carrefour).

Sendal jepit kuning "Swallow"

Sendal jepit kuning “Swallow”

Sabtu, 1 November 2014
Bangun jam 4.30 pagi. Agak gak bisa tidur nyenyak semalam. Mengingat Gigih dan kawan kawan sudah berangkat naik bis dari Jakarta kemarin sore. Tanya posisi ke Gigih sekitar jam 7, ternyata masih di Kendal. Rupa rupanya banyak kemacetan di jalur Pantura akibat perbaikan jalan di sana sini. Hmm… Kira kira 2-3 jam lagi tiba di Salatiga, tergantung kemacetan.
Baiklah, berarti masih bisa mandiin dan kasih makan Raras. Hal terpenting yang saya khawatirkan adalah makannya Raras. Saya takut Ayahnya lupa kasih makan Raras atau gak sabar nyuapinnya. Karena Raras ngunyah makanannya lamaaa banget. Tapi masa anak sendiri gak dikasih makan? Hehe. Karena sejak lahir Raras, ini benar benar pertama kali saya tinggalin Raras, tidak tidur bareng dia. Semua pasti ada saat pertamanya ya.

09.10
Ada telepon masuk dari Rinjani M. Wah asyik, si Gita ikut. Kita sudah pernah bertemu beberapa kali di Depok, jadinya agak agak kenal lah. Rombongan sudah di Pasar Sapi. Sedang sarapan di warteg.
Saya menyusul ke sana dan 10 menit kemudian sudah bergabung bersama mereka. Ada Gigih, Hari, Menwa, Novia, dan Ade dari Bkp 2009. Ghali 2007, dan Gita 2011.

Akhirnya berkumpul di sebuah warteg dekat Pasar Sapi Salatiga

Akhirnya berkumpul di sebuah warteg dekat Pasar Sapi Salatiga

10.15
Dengan bis kecil 15 seat jurusan Salatiga-Magelang, kami beranjak dari Pasar Sapi ke Desa Cunthel (Kopeng). Ongkos perorangnya 18 ribu rupiah. Hanya sekitar 40 menit, setelah melalui jalanan Kopeng yang berkelok kelok, kami pun tiba di gerbang masuk Gunung Merbabu via Cunthel. Tepatnya dusun Cunthel, desa Kopeng, kecamatan Getasan, Semarang.
Basecamp Cunthel terlihat cukup terawat dari luar, ada lahan parkir kecil bagi yang ingin menitipkan kendaraan.
Pemandangan yang disajikan juga langsung mempesona, gunung Andong dan di belakangnya Gunung Sindoro Sumbing yang berjejer cantik.
Bernarsis narsis sedikit, kami memulai perjalanan ini dengan berdoa bersama.

Basecamp Cunthel

Basecamp Cunthel

Nomor telepon BC Cunthel

Nomor telepon BC Cunthel

Rute jalur pendakian gunung Merbabu via Cunthel

Rute jalur pendakian gunung Merbabu via Cunthel

Pemandangan di depan BC Cunthel. Gunung Andong terlihat jelas, Sindoro Sumbing tertutup kabut

Pemandangan di depan BC Cunthel. Gunung Andong terlihat jelas, Sindoro Sumbing tertutup kabut (Foto oleh: Gigih Indra)

Tim memulai perjalanan

Tim memulai perjalanan (Foto oleh: Gigih Indra)

Gunung Itu Tinggi Sobat

Berbekal baca baca di internet, saya awalnya menyimpulkan pendakian gunung ini agak agak mudah. Namun sobat, namanya gunung ya gunung. Jalanannya nanjak. Yaiyalaaaah….
Sejak awal pendakian sekitar pukul 11 siang, jalur yang kami lewati terus menanjak. Saya berasa dihukum atas kesombongan saya untuk naik gunung lagi setelah 8 tahun. Awal awal perjalanan, tepatnya sampai Pos Bayangan 1, rombongan masih menanti saya yang tertinggal. Selanjutnya, perjalanan panjang ini saya lewati sendiriaaaan… Hahaha. Saya sih gak masalah, masa iya mereka harus nungguin saya yang jalannya super lelet ini. Namanya juga anak muda. Semangat bener jalannya. Padahal kerilnya besar besar. Ckckck. Luar biasa. Tim ngebut lah pokoknya.

Dari dusun Cunthel ke Pos Bayangan 1, memakan waktu sekitar 30 menit. Jalurnya masih terbuka, jalanan setapak tanah kering. Kiri kanan masih sempat bisa melihat sawah. Jalanan menanjak dengan stabil, tapi masih bersahabat. Di Pos Bayangan 1 terdapat sebuah pendopo yang bangunannya masih lumayan bagus. Tapi jangan terlalu lama duduk disini, karena perjuangan baru saja dimulai.

Jalur menuju pos bayangan 1, gunung Andong masih kelihatan

Jalur menuju pos bayangan 1, gunung Andong masih kelihatan (Foto oleh: Gigih Indra)

Dari Pos Bayangan 1 — Pos Bayangan 2 (Gumuk) masih jalan setapak menanjak yang cukup bersahabat. Meskipun saya juga sudah ngos ngosan. Hehe. Di pos bayangan 2 terdapat sumber mata air, namun karena kemarau, airnya kering. Jadi lebih baik bawa sendiri dari bawah. Saya dan teman teman membawa masing masing 3 liter. Cukup kok. Waktu yang diperlukan juga antara 30–40 menit.

Pos bayangan 2 — Pos 1 (Watu Putut) — Pos 2 (Kedokan) — Pos 3 (Kergo Pasar). Berjalan dengan lancar. Sesekali berhenti untuk minum sambil menikmati keheningan hutan yang misterius. Beberapa kali berjumpa dengan pendaki yang turun. Mereka selalu menyemangati dengan “semangat mba!” Hehehe, emangnya muka saya segitu lemesnya kali ya. Wkwkwk. Sampai di Pos 3 sekitar pukul 14.00. Saya perkirakan saat ini rombongan sudah tiba di Pos 4 (Pemancar). Pos 3 (Kergo Pasar) cukup luas, bisa untuk mendirikan beberapa belas tenda kira kira. Saya agak bingung mencari jalur dari Pos 3 ini, untungnya ada sebuah tenda yang di dalamnya terdengar beberapa abege sedang mengobrol. Mungkin mereka tidak menyadari keberadaan saya. Begini kira kira obrolannya:

X: lu suka ya ama dia?
Y: ya gitu kali
X: ya anaknya asik sih

Eciyee asiknya anak muda. Sebenarnya saya penasaran mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut, tapi takut ketawan lagi nguping nanti mokal dan takut keburu sore juga, maka saya terpaksa memotong obrolan mereka

Saya: maaf mas, jalurnya ke atas mana ya?
Mas dalam tenda bergegas membuka pintu tenda sambil menjawab: itu mba, ke kiri aja, nanti ada jalurnya.
Saya: ooh ya ya, makasih ya mas. Masnya ga naik? Saya sedikit berakrab ria.
Mas mas: hehehe, nggak mba, lagi santai santai aja malam minggu… Mba sendirian?
Saya: ngga mas, temennya udah di depan, mari mas.. Makasih…

Pos 4: Pos Pemancar (Gunung Watu Tulis) si Pemberi Harapan Palsu

Perjalanan ke pos 4 ternyata adalah ujian yang lebih berat. Sama seperti kehidupan, kadangkala kita merasa ujian yang sedang kita hadapi terasa berat sekali. Padahal siapa yang sangka, ternyata di depan sana ujiannya masih jauh lebih berat. Duile curcol. Mangkanya, jangan terlalu lebay ketika menghadapi ujian yang dianggap berat. Santai aja. Hahaha. Jalani dengan penuh sukacita, berfikir bahwa semua ini pasti kecil kok pada waktunya. Seperti saya ketika menuliskan cerita ini. Perasaan enteng saja, padahal saat itu rasanya ngap ngap an dan mau berhenti terus. Perjalanan ke pos 4 benar benar menanjak dengan tanjakan yang membuat saya harus tertatih tatih merangkak. Ditambah debu karena musim kemarau, maka bandana atau buff untuk menutup hidung dan kacamata sangat diperlukan dalam pendakian ini. Saya gak bawa kacamata, jadinya musti sebentar sebentar memejamkan mata ketika ada angin yang meniupkan debu debu. Fiuh. Ya sebenernya sih…. merem sekalian curi curi waktu istirahat tuh… huhuy.

Namun perjalanan yang sulit sekalipun pasti ada akhirnya. Demikian pula perjalanan ke pos pemancar ini. Dengan susah payah dan segala daya upaya, saya berhasil mencapai rombongan. Sebenarnya pemancarnya sudah kelihatan sejak sejam yang lalu, entah mengapa rasanya nggak sampai sampai. Baiknya pos ini dinamakan juga pos Php (pemberi harapan palsu-bagi yang gak tau artinya), hehehe.

Jalur tanjakan berdebu yang harus saya daki menuju pos 4 Pemancar

Jalur tanjakan berdebu yang harus saya daki menuju pos 4 Pemancar (Foto oleh: Gigih Indra)

Di atas saya mendapati teman teman sudah makan makan snack sambil foto foto. Novia sudah tertidur pulas di bawah. Sepertinya sudah sejam lebih mereka menunggu saya. Kami pun berfoto foto sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke pos helipad untuk mendirikan tenda. Waktu ternyata sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih. Waw, ternyata dari pos 3 ke pos 4 memakan waktu hampir 2 jam lebih. Luar binasa. Ade menawarkan untuk membawakan barang saya yang berat. Jadilah Aqua 1,5 liter berpindah manis ke keril Ade. Hihihi. Makasih Ade.

Pose dulu meskipun capek di Pos 4

Pose dulu meskipun capek di Pos 4 (Foto oleh: Gigih Indra)

Tim ngebuts yang kece bersama satu bintang tamu :)

Tim ngebuts yang kece bersama satu bintang tamu 🙂 (Foto oleh: Gigih Indra)

Gigih memanjat pemancar sekitar 3 meter untuk mengambil foto ini

Gigih memanjat pemancar sekitar 3 meter untuk mengambil foto ini (Foto oleh: Gigih Indra)

Novia yang tertidur menunggu saya tiba

Novia yang tertidur menunggu saya tiba (Foto oleh: Gigih Indra)

Menuju pos helipad tidak terlalu jauh, hanya sedikit naik turun sekitar 15 menit, kami sudah tiba. Rombongan langsung mendirikan 2 buah tenda yang saling berhadapan, di area terbuka helipad. Entah apakah ini bekas helipad beneran atau bukan. Terdapat sebuah papan memoriam di sini.

Papan memoriam di pos helipad

Papan memoriam di pos helipad

Angin berhembus sangat kencang. Dingin dan membawa pasir. Kami tidak dapat mendirikan tenda di tempat lain, karena sudah penuh. Hanya ini satu satunya tempat. Tapi sunset terlihat indah dari sini, meskipun resikonya adalah badai angin yang kami hadapi di esok hari.

Setelah bersih bersih, solat, makan, dan bercanda canda alias ceng cengan, kami pun masuk ke dalam sleeping bag. Menunya soto ala chef Menwa dan Gita, dan mpek mpek ala chef Ghali. Menwa tuh keren loh. Jago masak, jago naik gunung, jago ngecengin orang… Wih, kurang apa coba?

Malam yang sangat dingin. Saya sudah memakai polar, jaket, kaos kaki, namun kedahsyatan dinginnya masih juga menembus tangan dan muka saya. Sangat dianjurkan untuk membawa sarung tangan dan penutup muka. Brrrrr…

Dan ternyata malam belum berakhir. Hingga tengah malam bahkan dini hari, dari dalam saya bisa mendengar suara pendaki yang lalu lalang. Entah mereka sengaja jalan malam atau gimana, tapi suaranya sangat mengganggu dan membuat saya malam itu sukses tidak bisa tidur pulas. Ditambah hembusan angin kencang yang menerpa tenda kami. Mata saya terpejam tapi suara bising tetap memenuhi kepala saya.

Camp kami di Pos Helipad. Di kejauhan terlihat pos Pemancar

Camp kami di Pos Helipad. Di kejauhan terlihat pos Pemancar

Minggu, 2 November 2014

Pagi dimulai jam 5. Solat subuh di dalam tenda, dan selanjutnya gabisa ngapa ngapain karena angin sangat kencang dan dingin. Sekalinya membuka tenda, pasir pasir halus berebutan masuk. Saya gak berani lama lama di luar. Padahal pengen ngapain gitu. Mejeng mejeng kek. Sampai akhirnya saya bilang ke teman teman bahwa angin semakin kencang dan flysheet sudah hampir terbang. Akhirnya tenda yang satu dipacking. Menwa dengan hebatnya masih bisa masak dalam kondisi badai angin+debu tersebut. Kami pun sarapan di dalam tenda disertai badai debu yang mengotori segala yang ada. Dan Ade pun lagi lagi menawarkan bantuannya, “keril gue kosong kok” jiyeeee. Saya ragu. Sebenarnya keril saya juga sudah kosong, tinggal sleeping bag, polar, baju ganti dan air 1,5 liter. Itu kan buat bekal di jalan. Tapi bantuan sayang kalau dilewatkan begitu saja. Saya tuang air secukupnya untuk di jalan, sisanya saya kasih Ade. Eh ujung ujungnya pada buat cuci muka. Zzzzzz.

Di dekat pos Helipad ini terdapat kawah Condrodimuko di bawah jalur pendakian. Konon dikeramatkan dan banyak terdapat sesaji. Terdapat 2 mata air di sana, air gunung yang segar, dan air belerang yang sepat.

Menuju Puncak!

Jam 9 kurang, saya mulai jalan menuju puncak. Sengaja saya jalan duluan, mungkin beda setengah jam, agar kelak tidak terlalu jauh tertinggal teman teman. Sudah bisa diduga, jalurnya lebih terjal dari yang kemarin, karena dari camp helipad tadi saya bisa melihat orang orang yang mau muncak seperti memanjat vertikal di jalur ini. Hmm… Okey.

Meski lebih terjal, tapi lebih banyak batuan, sehingga lebih memudahkan saya untuk menggapai langkah demi langkah. Meski tetap harus berhati hati, karena membawa keril dalam medan yang terjal seperti ini. Kebanyakan pendaki yang saya lihat muncak dari helipad, meninggalkan bawaan mereka dan ke atas dengan hanya berbekal minum dan tongsis. Tapi karena kami akan turun melalui jalur Selo, mau tidak mau barang harus dibawa. Dan seperti sudah saya duga, tak lama kemudian rombongan sudah berhasil menyusul saya. Luarrrr biasa. Tim ngebut beneran.

Jalur bebatuan terjal menuju puncak

Jalur bebatuan terjal menuju puncak (Foto oleh: Gigih Indra)

Saya melewati yang namanya Jembatan Setan, yang saya sendiri masih agak bingung mendeskripsikannya, yang manakah yang dimaksud jembatan.
Sebagian orang menganggap bahwa jalan setapak yang kiri dan kanannya jurang terjal itulah yang dinamakan jembatan setan. Karena jalannya harus hati hati, agar tidak tergelincir.
Kalau saya, bagi saya, jalur pas menuju puncak itulah yang mirip banget jembatan setan. Bayangkan saja, memanjat sambil bawa keril di tebing vertikal tanpa pakai pengaman! Dalem hati mungkin banyak orang membatin “setan nih jalur”.. Mangkanya namanya jembatan setan. Hihihi. Tapi serius ya, buat saya bagian yang ini memang benar benar gak safety, baiknya ditambah semacam pegangan entah besi atau tali statis yang ditambatkan di sana. Serem euy.

Jalur yang menurut saya benar benar nggak safety, apalagj sambil membawa keril

Jalur yang menurut saya benar benar nggak safety, apalagj sambil membawa keril

Setelah itu, sedikit memanjat lagi dan…. Akhirnya puncak Kenteng Songo (3.140 mdpl) tergapai sekitar jam 11 siang. Tuntas sudah peer untuk main ke halaman belakang rumah saya. Hahay.

Perjuangan menggapai puncak

Perjuangan menggapai puncak (Foto oleh: Gigih Indra)

Gunung Merbabu memiliki 3 puncak, puncak Syarif (3.120 mdpl), puncak Kenteng Songo (3.140 mdpl) dan puncak Triangulasi (3.142 mdpl). Di suatu pertigaan setelah panjat memanjat tadi, ke kiri akan membawa kita ke puncak Syarif, sedangkan ke kanan ke puncak Kenteng Songo.

Di atas puncak Kenteng Songo terdapat kenteng kenteng (tumbukan dari batu) yang jumlahnya kalau dihitung hanya 3, dan 1 terlempar agak jauh di turunan menuju Selo, bukan 9. Ada mitos yang mengatakan kalau yang 5 kenteng lagi hanya bisa terlihat oleh energi supranatural. Wih.
Dari puncak terlihat Gunung Merapi dengan jelas. Indah sekali. Pemandangan seperti inilah yang akan terekam dalam benak kita hingga tua nanti. Awesome. Memang, sesuatu yang indah dan luar biasa itu, tidak akan didapat dengan cuma cuma, ada harga yang mesti dibayar, penuh perjuangan dan pengorbanan 🙂
Kami pun berfoto foto sebentar, dan juga tak lupa merayakan ulang tahun Ghali dengan sebuah cupcake.
Happy birthday Ghali… All the best ya… 🙂
Kemudian bergegas turun.

Puncak Kenteng Songo (3.142 mdpl) horeeeeee

Puncak Kenteng Songo (3.142 mdpl) horeeeeee (Foto oleh: Gigih Indra)

Foto keluarga di puncak Kenteng Songo

Foto keluarga di puncak Kenteng Songo (Foto oleh: Gigih Indra)

Selamat ulang tahun Ghali

Selamat ulang tahun Ghali

Kenteng kenteng di atas puncak. Banyak sesaji yang diletakkan masyarakat

Kenteng kenteng di atas puncak. Banyak sesaji yang diletakkan masyarakat

Gunung Merapi dari Puncak

Gunung Merapi dari Puncak

Turun Lewat Selo

Dari puncak Kenteng Songo, kami mengambil jalur Selo. Jalur ini terkenal dengan padang sabananya yang indah.
Dan disinilah juga penderitaan kaki saya dimulai.
Waktu turun kemarin, kami harus melewati turunan demi turunan yang longsor dan berdebu. Butuh usaha keras, dan kalau saya, butuh kaki cadangan.
Kalau kata Gigih, jalurnya lagi rusak karena kemarau. Jadi kesannya susaaah banget. Ah masa iya sih Gih, mungkin dia cuma mau menghibur saya. Track record pendakian gunung saya memang buruk. Baru gunung Gede, Pangrango dan Salak yang pernah saya sambangi. Itupun, 2x turun lewat Cibodas, saya harus tertatih tatih dan tiba paling belakang di antara rombongan. Pernah Juferdy yang menemani perjalanan turun saya tahun 2005. Terima kasih ya Ju.
Tapi kenapa ya, saya mau tulis penderitaan kok rasa rasanya sekarang sudah lupa dan mau naik lagi. Hahaha. Padahal cuma nyusah nyusahin orang yaaa.
Jalur Selo memang top lah. Tapi ingat, lebih baik tidak naik lewat sini. Dari pos 3 ke puncaknya widiiiih… Bisa bisa ga kuat iman dan turun lagi wkwkwk. Mending lewat Cunthel deh kalau naik.
Base campnya memang lebih luas dan indah, meski anginnya sama kencangnya dengan di helipad. Padang sabananya baguuus… Bisa untuk guling guling ala film India. Sayang, saat melewatinya saya sedang sendirin menenteng sepatu sambil berjalan beralaskan kaos kaki tertatih mengejar rombongan. Hihihi. Malu maluin ya… Maafkan aku ya teman temaaaaan…. Dari puncak ke pos 3 lalu ke pos 2 jangan tanya tanya deh, dijamin kume saya masih longsor selongsor jalurnya wkwkwk. Nah, dari pos 2 ke pos 1 sudah lumayan nemu jalan datar sedikit. Apalagi waktu mau sampe pos 1, wah, nemu Gigih! Hehehe. Saya sudah menolak dibawain kerilnya sebenernya, tapi beliau nampaknya doyan tuh bawa keril sambil lari lari, yowes saya kasih deh si Tempest. Saya dibekali sebotol Pocari sama Gigih. Tak lama kemudian, Gigih sudah menghilang di kejauhan. Dasar anak muda. Hehehe. Saya pun meneruskan langkah sambil senyum senyum sendiri. Yaelah, ampe direscue gitu. Lucu amat sih. Ada ada aja. Dan baik banget siiiih :D. Untung udah jauh lebih senior, jadi bisa pakai alesan umur dong… Wkwkwk.

Tim bersiap turun dari jalur Selo. Saya masih bisa berfoto bersama di awal awal. Hehehe.

Tim bersiap turun dari jalur Selo. Saya masih bisa berfoto bersama di awal awal. Hehehe. (Foto oleh: Gigih Indra)

Turunan tanah longsor yang harus saya lewati hingga Pos 3 Selo

Turunan tanah longsor yang harus saya lewati hingga Pos 3 Selo

Salah satu kenteng yang saya temui di jalur Selo

Salah satu kenteng yang saya temui di jalur Selo

Jadi akhirnya tibalah saya di Desa Selo sekitar jam 14.30. Rombongan sih sudah sampai dari jam 13.00. wekweeew… Kalo dihitung berarti mereka naik hanya 4 jam (sampai Pos Pemancar) + 2 jam (helipad-puncak Kenteng Songo) + 2 jam turun lewat Selo. Sadeeessss….
Menwa ama Gita udah cakep deh pokoknya. Maklum pengen ngeceng di kereta. Hihihi. Eh nggak ding, Menwa aja yang naik kereta, Gita katanya pengen sowan dulu ke rumah kerabat di Bandungan.
Saya males ah bersih bersih, nanti aja di Salatiga.
Dengan mobil APV carteran, keril keril dipacking dan kami berdelapan meninggalkan gunung Merbabu yang penuh pesona itu.

Apv carteran dari Selo menuju Semarang

Apv carteran dari Selo menuju Semarang

Selamat tinggal ya, mungkin kapan kapan saya datang lagi lewat jalur yang lain. Nyari korban lagi, siapa tau Gigih udah kapok hahahaha.
Bangga punya junior kece kece. Tanpa kalian, impian saya mendaki gunung di belakang rumah belum akan tercapai. Penghormatan tertinggi saya buat Gigih Indra, Ade Saptari, Hari Mugti, Novia Valentina, Ghali Zakaria, Menwa (Fitri Lestari ya namanya?) dan Gita Rinjani. Kalian kece bingiiitttssss. Naik turun gunung lari larian gitu. Ish, ngeri! Tetap berprestasi dan baik hati yah adek adek 🙂
Jayakan nama Mapala Ui di manapun kalian berada, dengan tetap menyayangi lingkungan dan tetap rendah hati. Iooooooo…..

Salatiga, 3 November 2014

Novia, Gita, Ghali, Menwa

Novia, Gita, Ghali, Menwa

Gigih, Ade, Hari, Saya

Gigih, Ade, Hari, Saya

Celeste and Jesse Forever

Beberapa malam yang lalu nonton film di televisi channel apa ya, lupa, maaf. Awalnya nonton karena terpesona sama kelucuan pemeran prianya (yaelaaaaa). Hehe. Kemudian berhubung sudah malam dan bisa fokus nonton, dengan kata lain tidak ada anak anak yang gerecokin sebentar sebentar panggil “Bunda… Bunda… Bunda..” (curcol dikit) lama lama mengikuti jalan ceritanya yang lumayan manusiawi.

Jadi begini, sebenarnya saya agak telat beberapa menit nontonnya. Intinya sih begini, ada sepasang cowok dan cewek yang sahabatan, terus akhirnya menikah. Si cewek nih orangnya perfeksionis lah ya. Kerjaannya mapan, pikirannya lurus lurus aja, terorganisir, punya tujuan yang jelas dan selalu merasa paling benar karena otaknya yang encer.
Naaah sedangkan suaminya yang lucu ini (ciye lucu, kalo ini subyektifnya saya sih wkwkwk), kerjaannya gak jelas, sukanya bikin seni seni yang gajelas banget lah pokoknya. Orangnya juga selenge’an.. Ya gitu deh, tapi saya suka banget sih sama dia (toyooorrr). Fokus. Beda banget sama istrinya yang merasa paling sempurna ini. Sampe sampe si istri gamau punya anak dari dia, karena ngelihat sendiri bagaimana gak mampunya si suami. Sampai akhirnya si istri minta pisah aja. meskipun setelah itu mereka tetap sahabatan. Lalu teman temannya menyarankan agar masing masing kencan aja sama orang lain, dan keduanya pun setuju.

Si suami pun berhasil menggaet seorang cewek yang jadi one night stand gitu deh kira kira. Sedangkan si istri… Jreng jreng…. Hidupnya berantakan.

Ok, sekarang daripada si suami si istri, pake aja namanya ya, Jesse dan Celeste.

Celeste berusaha nyari teman kencan gitu, tapi entah kenapa dapet cowoknya yang aneh aneh melulu. Atau mungkin dasar dianya yang terlalu perfeksionis? Gatau juga, pokoknya ceritanya begitu. Cowoknya aneh aneh, gaada yang nyantol di dia. Hidupnya hancur banget. Parah. Apalagi, setelah si Jesse kasih tau, bahwa ternyata cewek one night standnya itu hamil. Kiamat deh dunianya Celeste.

Ya gimana ya, Jesse sih keliatan masih sayang gitu sama Celeste, ya orang yang ngajak pisah bukan dia kan. Tapi bodohnya kenapa juga ngamilin orang.. Weeek.. Bikin sewot. Fokus.
Dan Celeste ini, berkali kali usaha banget buat minta Jesse balikan lagi, cuman memang dia agak agak masih gengsi gitu deh. Sampai tahu pacarnya Jesse hamil, baru deh nyesel senyesel nyeselnya… Hahahaha rasain dah.
Jesse juga sebenernya sempat usaha untuk balikan lagi, dia tiba tiba datang ke rumah Celeste dan bilang dia kangen banget sama Celeste, dan mereka pun hanya tiduran sambil berpelukan di sofa, tapi tetap aja Jesse gamau balik karena harus bertanggung jawab. Ah dasar laki laki! Mengacaukan segalanya. Sewot. Ok fokus.

Selain sebel sama kesombongan Celeste, saya juga kasihan banget sebenernya sama mereka berdua. Mereka tuh pasangan yang so sweet banget gitu. Meski banyak perbedaannya, tapi chemistry cintanya dapet banget.

Ok, pada akhirnya Celeste mau menandatangani surat cerai, karena dipaksa Jesse yang harus nikah sama pasangan barunya. Yang menyedihkan, ketika mau pisah mobil gitu si Jesse malah bilang “i love you”
Alamaaaaaak.. Gundah gulana galau juminten gak sih si Celeste..
Eh bukan Celeste deng yang gundah, melainkan yang nonton bercucuran air mata…. Hahahahahaha..
Dan si Celeste cuman bales dengan lirih “i love you too”….

Jadiiiii….
Hikmahnya yaaaaa
Ayolah…. Ngga ada pasangan yang sempurna sodara sodara….
Semua manusia pasti ya, pasti punya kelebihan dan kekurangan masing masing… Kalau kita mikirin kekurangan dan kekurangan pasangan terus… Bisa buang buang energi deh. Lebih baik berusaha terus memperbaiki diri dan syukur syukur pasangan kita juga demikian.
Jujur ya, merubah karakter seseorang itu susaaaaahhhhh…. Jadi jangan harap mentang mentang kita suami atau istri, bisa dengan mudah merubah kebiasaan buruk pasangan kita… Kuncinya, usaha dan doa… Sabar… Berpikiran positif…
Kenapa?
Karena ya itu, kayak si Celeste ini, bisa bisa nyeselnya minta ampun setelah kehilangan Jesse yang dulu dianggapnya hina dina banget.
Ya meskipun pasti ada ya, yang berpisah karena memang sudah terpaksa banget dan punya alasan kuat.
Jangan sampai, kita selalu melihat keburukan pasangan kita, sehingga keburukan kita gak disadari dan kebaikan dia terlupakan.
Si Celeste sempat ditanya sama temannya:

“sekarang elu mau jadi BENAR atau BAHAGIA?”

Di ujung cerita pun Celeste sudah berusaha untuk melihat segala sesuatunya gak hanya dari sisi dia. Ketika dia melihat dari sisi yang lain, ternyata ada keindahan yang dia rasakan. Ada kebahagiaan.

Agak shock dengan ending film ini sih, karena seharusnya Jesse dan Celeste balikan aja lagi. Toh dua duanya sudah sadar kesalahan masing masing. Tapi ya itulah hidup. Ada penyesalan, ada rasa sakit. Karenanya saya bilang tadi film ini manusiawi. Manusiawi menggambarkan wanita yang uring uringan ketika galau, hahaha saya banget gitu loh. Manusiawi bahwa hidup gak selalu manis. Ada juga yang berakhir dengan pahit. Terima saja, lalu lanjutkan perjalanan hidupmu.

Oiya hampir lupa, cowok lucu pemeran Jesse namanya Andy Samberg. Monggo digoogle ladies 🙂

20140816-005510.jpg

20140816-005337.jpg

20140816-010009.jpg

20140816-063845.jpg

Sayap Patah

Saya patah hati,
Sebenarnya sudah lama saya menanti-nantikan pertemuan ini,
Sudah lama juga saya memimpikan memeluknya dengan hangat.. Hingga tibalah hari yang dinanti ini..

Namun betapa sedih dan kecewanya saya, ketika kami bertemu, dia tampak begitu dingin dan tampak asing bagi saya,
Seolah ia menolak saya berada di sana, menolak pelukan saya, menolak genggaman saya…

Saya sungguh merindukan dirinya yang dulu,
Dirinya yang menerima saya, dan bermain main bersama saya dengan hangat…
Bahkan saya cemburu,
Sangat cemburu karena dia terlihat begitu akrab dengan yang lain..

Hari pertama, kedua, ketiga dan bahkan keempat, dia belum mengizinkan saya menggapai puncaknya..

Saya sedih, hati saya hancur berkeping keping… Karena pun kami tidak memiliki waktu yang cukup panjang untuk bersama lagi…

Saya coba mengajaknya berbicara dari hati ke hati malam itu,

saya: hai, kamu masih ingat saya? Apa kabar?

dia: … (Hanya diam)

saya: kita pernah kenal, dulu sekali, tidakkah kamu mengingat saat saat itu?

dia: … (Tidak bereaksi)

saya: maafkan saya, kamu memang baru, tapi jiwamu pasti masih yang dulu… Maafkan saya lama tak mengunjungimu ya…

dia: … (Tersenyum sedikit, sedikit sekali)

saya: baiklah, saya memang salah, lama mengacuhkanmu, tapi percayalah, kamu selalu memiliki ruang dalam hati saya… sekarang tolong izinkan saya mengenalmu kembali…

kemudian saya pun meninggalkannya, masih dalam kebisuannya…

Please, allow me to touch your heart, allow me to dance with you, cause im dying here..

Climbing wall baru di Pusgiwa Ui

Climbing wall baru di Pusgiwa Ui

Foto oleh Jamal

Foto oleh Jamal

 

Depok, 21 Juni 2014

Mereka yang Sedarah

Kehidupan tidak pernah lepas dari kenangan masa kecil, karena pada masa masa itulah karakter dasar kita mulai terbentuk. Apa dan siapa yang ada di sekitar kita saat kecil, orang orang yang mengisi hidup kita di saat kecil, mereka lah yang akan terkenang untuk selamanya. Saya jadi teringat saudara saudara saya yang super ajaib dan luar biasa, inilah mereka…. ketawa dulu aaaaahhh

Tajid Yakub
(Jakarta, 25 Februari 1978)
Kami memanggilnya Aa (sunda).
Si kakak sulung arogan yang sukanya nyuruh dan gasuka disuruh, tapi selalu baik dan berusaha menolong keluarganya… Kalo ngomong galak tapi hatinya lembut suka nangis diem diem (sotoy). Gampang ngambek. Pernah gamau makan seharian cuma karena ada saudara yang nyeletuk bilang “tajid makannya banyak ya”… Waktu sma pernah ikut band, rohis, osis, dan suka baca Wiro Sableng. Waktu kuliah ikut Mapala dan jarang banget berkomunikasi sama saya.

Nani Zara
(Jakarta, 21 Desember 1979)
Panggilannya “ayu” (sumatera), tapi skrg saya lebih sering panggil dengan sebutan “ummi”.
Si kutu buku yang paling pinter di antara kita. Punya buku buanyak banget termasuk komik komik kesukaannya waktu kecil yang ga sanggup dibeli. Wataknya keras, berani menentang apa yang dianggapnya salah. Sehingga jaman dulu paling sering berantem sama semua. Paling suka beli beli… Kalo gaada uang pun dia bisa beli beli, apalagi kalo banyak uang. Nah loh? Waktu kecil saya pernah dipaksa untuk patungan komik, saya menolak dengan alasan untuk ditabung. Walhasil saya dikatain si Gober Bebek. Kegigihannya dalam mengejar sesuatu yang diinginkannya paling top seantero jagat raya. Paling senang menyatukan kakak adiknya untuk ngumpul meskipun ga nraktir juga sih, kita tetep disuruh patungan… Ya tapi sering nraktir juga seeh… (Takut gaboleh nginep lagi nih saya). Sering beliin cake cake mahal kalo ada momen ulang tahun, terutama ulang tahun dia sendiri, abinya kudu wajib disuruh beli cake. Pinter berpidato, pinter masak, pinter belanja (loh?) tapi pinter jualan juga. Waktu kecil pernah jualan popcorn bikin sendiri terus diplastikin dan dititip di warung Pak Maun. Sempat laku keras, saya pun pernah disuruh beli biji jagungnya di pasar Ciledug. Kemudian sekarang lagi suka jualan mukena. Ramadhan tahun lalu berhasil menjual sekitar 100 mukena bali, dia sendiri membeli untuk milik pribadi sekitar 10 biji jadi sebenarnya darah pedagangnya kental nih.

Nita Leilani
(Tangerang, 12 Agustus 1989)
Saya panggilnya Nitut Lelonot.
Si bungsu yang paling rusuh. Waktu kecil sukanya ngancem mau bunuh diri kalo ngambek dan ngunci kamar. Paling drama queen, kalo lagi curhat sampe nangis nangis ingusan gitu, lebay banget deh pokoknya. Tapi juga care banget sama keluarga, paling sering ngasih enin kado, dan ponakan ponakannya hadiah baju. Paling banyak skillnya sampe gaada yang fokus… pernah nyanyi di grup band, pernah ngedance DDR, pernah ikut pencinta alam sma, pernah jadi spg, penyiar radio, presenter, mc… buanyak banget. Sayang nasibnya masih disitu situ aja. Paling banyak pacarnya, dari yang tidak terawat hingga bule Australia.. Evolusi mukanya cukup signifikan, waktu bayi lucu, putih gembul, waktu remaja jeleknya minta ampun, kurus, item, dekil. Alhamdulillah sekarang udah banyak mendingan… Kalau ngomong juga keras, berani berantem sama ortu meskipun dia salah. Kita semua tau dia salah, hanya dia yang gasadar kalo dia salah. Yah, namanya juga anak muda.. Temennya juga paling banyak, karena itulah dia paling fashionable di antara kita. Sampe sampe baju nyokap dr tahun 80an kena korban dipake sama dia. Lagi “tren” katanya. Baiklah. Pergaulannya luas, dari bojong sampai Bali temannya ada, sampe bingung karena kebanyakan even ulang tahun, arisan, nikahan, punya anak, reuni, dll dll…

Dipindah dari facebook saya

20140622-192151.jpg

Catatan Luweng Ombo (Yang Tersisa dari Ekspedisi Langit dan Bumi)

Tahun 2003, saya dan beberapa teman teman Bkp 2001 Mapala UI menyusun sebuah ekspedisi. Temanya adalah Ekspedisi Putri Langit dan Bumi, dimana kami akan melakukan pemanjatan tebing dan penelusuran gua di perut bumi. Namun sayang, ekspedisi tersebut gagal kami laksanakan karena faktor faktor tertentu yang biarlah menjadi pembelajaran bagi kami. Namun sebelum ekspedisi tersebut kami batalkan, kami sempat melakukan latihan lapangan telusur gua. Dan Luweng Ombo di Pacitan Jawa Timur adalah yang terpilih. Tulisan ini saya ambil dari blog M. Latief, salah satu anggota Mapala UI yang menuliskan kisah perjalanan telusur gua kami ke Luweng Ombo. Linknya bisa dibuka di sini


***********

Disekap udara lembab dan ancaman hilangnya suhu tubuh, enam caver putri Mapala UI sanggup menembus Luweng Ombo, Pacitan, hingga beratus-ratus meter. Nismadha, salah seorang anggota tim, menceritakan kisah mendebarkan itu khusus kepada MATRA.

Luweng Ombo menganga begitu lebar. Berada di tengah-tengah bukit kerontang Desa Klepu, kabupaten Donorojo, Pacitan, Jawa Timur, suasana di sekitarnya pun tampak lengang. Hanya sayup-sayup angin terdengar bertiup.

Cukup lama aku bergantung di tali dan memerhatikan sekelilingnya. Dan, yang terlihat di dasar gua sedalam 107 meter itu hanyalah kengerian. Hampir, tak satu pemandangan pun terlihat jelas.

Separuh wilayahnya terkungkung gelap, lantaran sinar matahari tak sanggup menyentuh seluruh permukaannya. Secara samar-samar, hunian dasarnya hanyalah rerumputan dan hutan semak.

Memang, sekilas tampak megah, mengingat lebar kelilingnya mencapai 50 meter. Tak pelak, butuh waktu semalam suntuk untuk merenungi keberanianku meluncur seorang diri ke dalam lubang gua vertikal ini.

Bukan apa-apa. Sebab, hanya percaya seratus persen pada tali berdiameter 10 milimeter, aku harus bergelantungan seorang diri di ketinggian seratus meter lebih. Sementara itu, tepat di bawahku, menganga “sumur raksasa” yang pekat, bersimbah misteri.

Tapi, dengan segumpal keyakinan, kubiarkan tanganku mengulurkan tali yang melilit di dalam bobin (alat untuk menuruni gua). Pelan-pelan, tubuhku mulai melaju turun.

Hanya sekian detik, jantungku seketika berdegup kencang. Entah mengapa, daya luncurku mendadak sangat cepat. “Sial! Ada apa dengan alat ini? Mengapa cepat sekali turunnya?” ucapku panik, melihat laju tali tanpa terkontrol.

Rupanya, ujung bobin tersangkut kuat di antara jangkar pengait tubuhku. Alhasil, tali terburai sangat cepat. Untunglah, aku cepat tanggap dan tak sempat membuyarkan konsentrasi. Padahal, peluh sudah menderas bercucuran, saking paniknya.

Dengan segenap ketenangan yang ada, pelan-pelan aku membetulkan posisi bobin. Satu masalah baru saja terlewatkan. Sejenak, aku bisa menarik napas lega.

Namun sayangnya, itu tak berlangsung lama. Tepat di pertengahan, di ketinggian sekitar 70 meter, tiba-tiba terjadi spinning rope. Yaitu, efek berputarnya tali akibat penjuntaian dari tempat tinggi lantaran terbebani oleh bobot tubuhku.

Akibatnya, bak sebuah gasing, tubuhku berputar-putar di tali, sangat cepat. Sementara itu, tak ada yang bisa mencegah laju meluncurku.

Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh. Seketika, kepala terasa pening dan perut mual tak keruan. Ingin rasanya kutumpahkan seluruh isinya.

Lama aku berjuang menghadapi kondisi tersebut. Sialnya, tak ada yang bisa kuperbuat, selain berusaha untuk tidak panik. “Semoga tidak pingsan sampai di bawah nanti,” gumamku, pasrah dengan mata terpejam.

Perlahan, angin lembah petang itu mulai bertiup. Kencang mengayun-ayunkan tubuhku yang semakin limbung ini terbenam di antara dalamnya kesenyapan dasar Luweng Ombo.

***

SEBETULNYA, cobaan mental di hari pertama itu sudah kuperhitungkan sebelumnya dengan masak-masak. Maklum, aku, Visna, Riri, Pare, Anne, dan Mira, yang tergabung dalam tim Ekspedisi Putri MAPALA UI ini telah merancang persiapannya secara khusus.

Kurang lebih tiga bulan, baik teknis, fisik, maupun mental kami digenjot habis-habisan. Praktis, tak ada aral merintangi hingga kami semua tetap sehat walafiat saat tiba di dasarnya.

Setelah semua anggota bergabung, strategi pun diatur sedemikian rupa. Sebagian membuat peta lorong di sebelah barat daya. Sementara, rekan lainnya sibuk mendokumentasikan ornamen dan mengadakan kontak radio dengan Opa David Teak di bagian base camp yang ada di atas mulut gua.

Baru beberapa langkah, pemandangan di sekitar dasar gua ini membuat kami terhenyak kagum. Ternyata, kondisi sesungguhnya dasar Luweng Ombo ini sangat jauh berbeda.

Penghuni dasarnya yang semula kukira rerumputan itu ternyata pepohonan rindang. Tingginya berkisar antara 1-5 meter. Uniknya, vegetasi tumbuhan tersebut sangat rapat, alhasil, seakan berada di dalam hutan tropis di pegunungan.

Dari situ tim bergerak menuju lorong utama. Berangsur-angsur, kondisi medannya berubah. Hampir di semua penjuru lorongnya terserak batu-batu sebesar rumah.

Akibatnya, pergerakan menjadi sulit. Selain ukurannya besar, batu-batu itu juga licin karena ditumbuhi lumut. Tak sedikit pula terdapat lorong yang bentuknya miring.

Penuh konsentrasi, satu per satu berhasil melewati medan tersebut. Namun, bukan berarti detak adrenalin sejenak berhenti berloncatan. Karena, lorong selanjutnya mengharuskan kami mengendap-endap, menembus lorong yang mulai berliku-liku dan tergenang air.

Belum lama cahaya kami menelusup jauh, langkah terpaksa harus dihentikan. Karena, tepat di depan kami berdiri, segugus rimestone pool terlihat begitu menakjubkan. Berkilatan, saat kristal yang melekati seluruh permukaannya disinari cahaya.

Sejenak, kubiarkan batinku riuh rendah melukiskan kekagumanku terhadap perhiasan alam gelap pekat ini. Heran sekaligus kagum, betapa di dalam bagian paling gelap bumi sekalipun, “Sang Maestro Alam” pun masih menyimpan satu hasil karyanya terindahnya.

Lama-kelamaan suasana berubah syahdu. Di tengah kesunyian itu, tak ada lagi yang terdengar, kecuali gemericik air yang mengaliri sekujur tubuh ornamen tersebut.

Sangat kontradiktif dengan buntut kemarau panjang di desa sekitar ini. Selama beberapa bulan terakhir, penduduk harus menempuh berkilo-kilo meter jalan gersang. Tak lain, demi beberapa liter air bersih. “Semoga kesulitan ini segera berakhir,” batinku, trenyuh.

Kiranya, langkahku semakin gontai saja menghadapi sensasi medan berlumpur selanjutnya di muka. Menunduk, merayap, dan basah kuyup menembus kubangan panjang berlumpur hingga sebatas lutut. Kadung kaki terbenam, jangan harap mudah dikeluarkan.

Kurang lebih dua jam kami benar-benar “berkubang” lumpur. Merayap, jalan jongkok, dan basah kuyup. Seakan tak henti, sebuah lorong anjlok ke bawah sudah menanti.

Berdasarkan perkiraan, kedalamannya sekitar 10 meter. Mau tak mau, tali harus kembali digunakan. Otomatis, butuh tenaga ekstra untuk memasang dan menuruni hingga dasarnya.

Tapi, untunglah rencana itu dibatalkan. Melihat anjloknya kondisi tubuh, mustahil kami bisa menembusnya. Misi pun tertunda sampai esok pagi.

***

PADA 1981 silam, almarhum Norman Edwin telah menjadi pionir di Luweng Ombo. Kala itu, seberkas cahaya yang dibawanya menerangi hampir semua lorong gua ini. Namun sampai sekarang, Luweng Ombo seolah tak berujung.

Hingga berselang dua hari ekspedisi ini berlangsung, kami memang telah membuktikannya. Semakin tembus jauh ke dalam, indahnya variasi ornamen Luweng Ombo kian mengobarkan semangat untuk menuntaskan misi ekspedisi yang mirip-mirip napak tilas perjalanan Norman Edwin dua puluh dua tahun silam tersebut.

Demi menyingkat waktu, tim merombak strategi perjalanan dengan Alpine Style. Dengan cara ini seluruh penelusur akan menginap di titik akhir pemetaan. Jadi, takkan merasa lelah lantaran bolak-balik ke titik semula di awal penelusuran sebelumnya.

Sayang, Riri menderita sakit dan terpaksa naik ke atas. Keputusan itu mutlak diambil, karena kondisinya sangat bertentangan dengan lembabnya suhu dalam gua yang terkadang malah minim oksigen. Fatal jika tetap nekat untuk menelusurinya.

Maka, jadilah kami bertiga yang akan menuntaskan misi ekspedisi ini. Dan sejak hari itu, kami merasakan “nikmatnya” menginap dalam gua.

Praktis, berhari-hari dalam pelukan gelap, kami hampir tak bisa membedakan antara pagi dan siang. Tak ada aktivitas normal seperti biasanya di rumah, karena pasokan cahaya hanya berasal dari cahaya karbit.

Namun, justru di situlah nikmatnya. Karena prinsip caver, jangan tinggalkan apa juga kecuali jejak kaki, selalu kami pegang teguh.

Sampah, bahkan kotoran bekas buang hajat sekalipun dibungkus rapi dalam kantong plastik. Semuanya wajib dibawa keluar begitu ekspedisi ini berakhir.

Toh, kewajiban itu tak menghalangi laju ekspedisi. Terbukti, di hari terakhir penelusuran lorong barat daya itu kami berhasil mengumpulkan 784 meter panjangnya peta gua ini.

Semakin jauh, Luweng Ombo memang seperti tak puasnya menyajikan keindahan dan misteri. Sepanjang jalan, kami selalu terpukau oleh kilatan-kilatan kristal flowstone, straw, atau pun gourdijn berukuran raksasa yang menghuninya.

Semua itu jadi semakin tampak indah, apalagi jika dinaungi aliran air. Fantastis, bak pancuran alam di “istana kegelapan” perut bumi. Karena itulah, tak ada penyesalan sama sekali, ketika seluruh tim terpaksa menyudahi ekspedisi karena terbatasnya waktu.

Di hari terakhir itu, langkah kami terhalang genangan air setinggi dada. Dasarnya berupa pasir yang sangat riskan untuk dilalui tanpa safety prosedur memadai.

Selain hanyut, risikonya bisa terserang hipotermia. Apalagi, kondisi tubuh sudah kepalang ambrol, lantaran setiap hari bertempur dengan suhu pengap dan basah kuyup. Sebab, kondisi inilah yang sangat merangsang timbulnya penyakit kehilangan suhu tubuh tersebut.

Nyawa hanya satu. Namun, kesempatan menelusuri ke Luweng Ombo masih beribu kali. Segudang misteri di dalamnya takkan habis untuk selalu disingkap.

Tentu saja. Karena, menjadi suatu hal paling menakjubkan bagi seorang penelusur gua, tatkala sinar lampu yang dibawanya itu menjadi sinar pertama yang menerangi keindahan di dalam perut bumi. Seperti kata Norman dua puluh dua tahun silam di kegelapan lorong luweng ini.

© Copyrights 2003 PT. Mitra Media Matra Jakarta

Kisah tambahan tentang perjalanan ini juga bisa dibaca di Sini

Video tentang perjalanan dapat dilihat di Sini

20140306-114257.jpg

20140306-114709.jpg

Bravo Tim Support!

Malam ini, tetiba ingin membahas mengenai tim support aka tim nonteknis dalam suatu ekspedisi… Apaan nih tiba tiba tim support segala?

Jadi tadi siang di salah satu grup whatsapp saya ada celetukan ekspedisi. Belum tahu sih lengkapnya gimana, wong saya tanya ekspedisi apaan belum ada yang menanggapi.. Hehe. Tapi berkat itu saya jadi punya inspirasi untuk menulis. Asek.

Ekspedisi yang dimaksud disini bukannya ekspedisi pengiriman barang barang itu ya, bukan. Bukan juga berkurangnya salah satu peserta Indonesian Idol…………
……………………………….
Eh, itu eliminasi ya? Jauh ya? Gapapa deh garing sedikit.. 😀
Ekspedisinya adalah Perjalanan yang dilakukan untuk tujuan tertentu, biasanya penjelajahan dan/atau penelitian (sumber: wikipedia). Ekspedisi ini acapkali berlangsung dalam durasi waktu yang cukup lama, kalau menurut kasarnya saya sih ya, paling sebentar 10 hari perjalanan lah, baru bisa dibilang ekspedisi.

Jaman saya muda dulu,……. aduh, gaenak banget bacanya. Ganti deh.

Jaman saya masih aktif berorganisasi dulu, saya dan teman teman sempat melaksanakan ekspedisi (latihan lapangan) telusur gua di Pacitan, Jawa Timur. Tepatnya pada tahun 2003. Nama guanya Luweng Ombo, dengan kedalaman vertikal sekitar 110 meter. Luweng ini menganga di tengah persawahan dengan diameter lubang atas hampir selebar lapangan bola. Nanti setibanya di dasar gua, akan ada 2 lorong besar yang saling berseberangan. Dua lorong ini sangat besar, jangan bayangkan lorong dalam jalan tol, lorong ini jauuuuh lebih besar. Di dalam lorongnya pun banyak terdapat bongkahan batu sebesar rumah. Dan itu langit lorongnya masih sangat tinggi. Aduh. Susah banget ya menjelaskannya. Semoga bisa dibayangkan.

Naaaaah. Tim kami terdiri dari 8 orang anggota Mapala UI dan 2 orang teman dari Mahipa Ponorogo. Dengan lokasi ekspedisi yang ekstrim seperti ini, sebenarnya jumlah tersebut dapat dikatakan sangat kurang. Karena dalam suatu penelurusan dan pemetaan gua, minimal ada 3 orang. Satu orang di depan sebagai leader bertugas mencari jalan dan membawa ujung tali meteran, yang kedua memegang ujung meteran dan orang ketiga bertugas mencatat angka angka hasil pengukuran gua dan menggambar sketsa lorong gua tampak depan dan tampak samping. Hal ini penting, sebagai dokumentasi dan sebagai pegangan agar tidak tersesat di dalam lorong gua yang berkelok kelok dan tentu saja gelap. Sempurnanya lagi, seharusnya ada 1 orang lagi yang bertugas mengambil gambar dengan leluasa, tanpa harus mengemban tanggung jawab lain. Itulah mengapa saya katakan jumlahnya sangat kurang. Karena gua yang besar dan durasi ekspedisi yang panjang, seharusnya jumlah atlit minimal 2 tim, sehingga dapat dilakukan pergantian shift dan penulusuran dapat berjalan efektif dan maksimal. Namun apa daya, karena ekspedisi ini adalah sampingan kami sebagai mahasiswa saat itu, maka hanya kami berdelapanlah yang akhirnya bisa berangkat ke Luweng Ombo. 4 Orang sebagai tim teknis yaitu Fadly, Visna, saya dan Riri, dan 4 lainnya sebagai tim non teknis atau support yaitu Daus, Mira, Anne dan Pare. Namun Pare di 2 hari terakhir sempat turun sebagai teknis menggantikan Riri yang kurang sehat. Sedangkan Mira dan Anne sejak awal memang saat itu sedang memiliki keadaan kesehatan yang kurang memungkinkan untuk turun. Padahal mereka berdua juga tidak diragukan ketangguhannya, namun kita tidak bisa mengambil resiko dalam medan yang ekstrim seperti ini. Sedangkan Daus memang total membantu dalam bidang komunikasi dan senyum senyum manis. Loh?

Saat itu, saya bersama teman teman teknis mulai masuk ke dalam gua dan berada di sana untuk 6 hari ke depan. Kami makan, tidur, dan buang air di bawah selama itu. Sekarang saya tidak akan membahas kami yang di bawah, tapi saya ingin mendedikasikan tulisan ini untuk teman teman support atau non teknis yang siap siaga di atas selama ekspedisi. Bravo! Standing applause untuk kalian.. Kalian lah yang sejatinya menerima penghargaan atas berjalannya ekspedisi ini.

Kenapa sih, tim support emangnya penting ya? Bukannya lebih keren atlit? Oit, jangan salah, tim support itu amat sangat berjasa dalam banyak hal. Iya, banyak hal. Selama kami di bawah, tim support lah yang selalu mengirimkan makanan untuk kami sehari hari. Bahkan support harus sudah mengirimkan paket untuk dua kali makan pada pagi hari, yaitu paket makan pagi dan makan siang, karena sangat tidak efektif kalau kami harus keluar lorong gua hanya untuk makan siang. Maka kami tim penelusur, saat masuk lorong sudah lengkap membawa perbekalan makan siang dan snack yang disediakan support. Bayangkan, kalau kami start penelusuran jam 7 pagi, jam berapakah support di atas sudah harus bangun memasak? Tim juga harus belanja sayuran di pasar dan memikirkan menu yang cukup kalori bagi kami untuk beraktifitas cukup berat. Harus putar otak juga dalam memvariasikan menu sehari harinya agar tidak bosan. Bagi yang budget ekspedisinya berlebih, mungkin bisa minta bantuan warga sekitar untuk memasak dalam partai besar. Bagi kami saat itu, semuanya serba penghematan. Hehe. Setelah dipacking makanannya, barang harus dihauling ke bawah dan memakan waktu sekitar 15 menit. Jadi, yes, hidup tim support!

Selain konsumsi, tugas lainnya tim support adalah komunikasi. Merekalah yang merelay berita kami dari bawah ke sekretariat di Depok. Kami menentukan waktu waktu untuk berkomunikasi, dan kemudian tim support akan menyampaikannya ke Depok. Kalau kami kenapa kenapa di bawah (alhamdulillah nggak kenapa kenapa saat itu), siapakah yang akan paling repot? Jawabannya: tim support. Kami sih yang di bawah tinggal menunggu helikopter dan tim rescue saja. Hehe.

Menjadi tim support adalah tantangan yang menyenangkan sebenarnya. Salah satu fungsi lagi dalam tim ini adalah sebagai Camp Manager. Yes, bukan cuma rumah yang perlu didekorasi dengan indah. Namun tenda dan seisinya pun harus diatur sedemikian rupa sehingga kami betah dan nyaman menempatinya selama jangka waktu yang cukup panjang tersebut. Letak dapur, tenda alat, tenda makanan, dan jemuran baju diatur seindah dan setertata mungkin (setertata?!?!?!?) saat itu. Apalagi barang barang dan peralatan yang segambreng sudah bisa dipastikan berantakan dimana mana bila tidak dirapikan dengan baik. Belum lagi akan adanya jemuran pakaian dalam yang berseliweran, fiuh. Di sanalah teruji kehandalan seorang camp manager dalam mengatur base camp, agar terlihat indah, rapi dan nyaman di tengah persawahan kering tersebut. Wuhuw.

Yang patut dibanggakan lagi dari tim support adalah kesabaran mereka. Siapa sih yang nggak bosan selama 6 hari di atas gua? Dan tau dong ya cuaca di sekitar batuan karst seperti apa panasnya. Hehe. Jemuran kering deh pokoknya. Bukan hanya jemuran sih, mungkin hatinya ikut kering karena kangen sama yang di Depok… Haiyaaaaa 😀

Masih banyak tugas tim support yang tidak saya jabarkan di sini. Maka, saya salut sekali kepada teman teman saya saat itu, Mira, Anne, Pare, dan Daus yang bersedia menjadi tim support. Berkat merekalah, kami bisa selamat lagi sampai di atas. Izinkan saya, dalam tulisan ini melakukan penghormatan dan terima kasih sebesar besarnya terhadap teman teman semua.. Tim support bukanlah terdiri dari orang orang lemah yang tidak mampu menjadi atlit, sama sekali bukan. Support dan atlit sama pentingnya. Bahkan menjadi otak atlit saat otak atlit sudah kejepit otot. Hahaha. Suatu ekspedisi, meskipun memiliki 100 orang atlit handal, tidak akan dapat berjalan tanpa adanya seorang tim support. Bagaimana menyatukan kedua tim agar dapat bekerja harmonis dan sinergis, akan menentukan keberhasilan suatu ekspedisi. Iya apa iya? Sekali lagi, bravo tim support!

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

P.s. foto Pare belum saya tampilkan karena saat itu yang bersangkutan belum berhijab, nanti saya carikan foto yang baru 🙂

P.s. lagi: tidak lupa terima kasih yang sebesar besarnya untuk Opa David Teak yang berjasa besar dalam mengajarkan kami tentang radio komunikasi, almarhum bang Ian yang menampung kami di Madiun, Sunkid di Madiun dan teman teman Mahipa di Ponorogo, terutama Mas Taufik, Mas Melon, Mas Slamet dan lainnya yang kepanjangan disebutkan di sini. Rocks banget semuanya!

Salatiga, 28 Februari 2014
Ditemani The Best of Cranberries