In Memoriam: Wall Pusgiwa

Tulisan ini dibuang sayang, jadi saya masukkan saja ke blog ini, lumayan buat baca baca πŸ™‚

Mau mellow sedikit malam ini. Hari ini wall pusgiwa dibongkar paksa sama pihak rektorat..hehehe nggak deng,direnovasi…

Tahap awal renovasi ya tentu saja pembongkaran papan lama…
Nah…papan lama itulah yang membuat saya mellow malam ini…
Melihatnya tergeletak terlepas dr rangkanya, membuat saya mengingat masa lalu. Sebuah kenangan dari lembar kehidupan saya 11 tahun yg lalu..
11 tahun yang lalu saya berkenalan dengan climbing wall ini…atau dalam bahasa kita tahu papan panjat… Papan itu menjadi saksi bisu perjumpaan saya dengan teman teman seperMapala an dan seperManjatan saya πŸ™‚
Sebut saja anak manjatnya ada Retta,Marni, Tari, Agi,Daus,Yoshua,Aryus dan Daus.. Dan tentu saja sodara sodara…..Mentor kami tercinta: Dadang Sukandar…
Saya lupa kenapa dulu saya memilih divisi panjat di Mapala. Di antara Caving, Diving, Rafting dan Lingkungan…
Apa karna saya sempat “ngefans” sama seorang oknum manjat saat itu? Hahaha, entahlah,moga moga bukan itu alasannya…
Tapi, di samping apapun alasannya, waktu demi waktu membuat saya semakin mencintai manjat…sampai sampai di ucapan terima kasih skripsi saya ada terima kasih buat anak manjat, tulisannya: i’ll be back,its in my blood :D’hahahha lebay banget ya saya…
Saya rasa, proses intens lah yang membuat saya demikian. Saat itu, ketika pendidikan mapala berlangsung, kami para calon anggota diharuskan menyelenggarakan suatu ekspedisi sesuai divisi masing masing… Divisi kami memutuskan berangkat ke Tebing Rakata di kepulauan Krakatau.
Menyelenggarakan suatu ekspedisi bukan hal main main. Meskipun status masih caang,namun kami serius menggarap persiapan ekspedisi tersebut. Kami harus siap dlm segala hal teknis dan non teknis demi suksesnya ekspedisi tersebut. Terutama keselamatan kami, dimana secara fisik kami harus siap.

Foto oleh Nismadha

Foto oleh Nismadha

Naaaah maka dari itulaaaah mulailah malam malam kami diisi dengaaaaannn…..nongkrong di wall….. Hehehe alias manjaaaaaaaatttt ampe pengen muntah…
Iya,seolah olah manjat adalah makanan kami sehari hari di samping tentu saja joging, pull up, dan push up..
Bayangkan saja, rasanya makan makanan yg sama setiap hari,jadi pengen muntah kan? πŸ™‚
Tapi itu kan hanya majas hiperbola,
Karena sesungguhnya saya menjalaninya dengan penuh suka cita :D’
Jadwal kuliah di siang hari mengharuskan kami latihan hingga malam hari… Bahkan hingga jam 12 malam…
Tentu saja para mentor tak lupa menyarankan kami untuk selalu makan dengan teratur untuk menghindari sakit “kuning” πŸ™‚
Papan itu menjadi saksi perjuangan kami menggapai poin demi poin dengan tangan tangan kami yang kapalan… Keringat kami yang dingin di malam hari..
Ia menjadi saksi bercandaan kami saat istirahat makan bersama sambil mendengarkan tape segede gaban yg kami gotong ke wall…
Menjadi saksi kami latihan SRT sampe mabok…
Entahlah,mungkin saat itu si papan senang karena ia tak sendirian di malam yg gelap… Ada kami dan canda ceria kami yg selalu menemani…
Selain menjadi saksi bisu cengkrama saya dengan teman teman, si papan juga pernah menjadi saksi bisu ketika saya galau…Galau karena gapunya teman manjat,jadinya boulder sendirian aja..hehehe… Kayak orang aneh saya suka boulder sendirian di kala teman teman dari MB (Madah Bahana) latihan.. Tapi rada geer juga karena merasa jago saat itu dan ditonton banyak anak MB hahahaha…
Pernah juga saya mau ujian,kayaknya sumpek banget belajar di kamar kos, kemudian saya jalan ke pusgiwa…dan baca baca di depan si papan… πŸ™‚
Kurang ingat juga apakah ujiannya saat itu lulus apa nggak.. Hahaha

Sekarang kami semua sudah berkeluarga.
Dadang anaknya 1.
Anak saya 2.
Retta anaknya 1.
Marni anaknya 1.
Tari anaknya 2.
Agi anaknya 1.
Daus anaknya 2. Sedangkan Yosh dan Aryus masih berusaha bikin anak :p
Tapi semuanya sudah sukses laku di pasaran :D’
Entah kapan bisa ngumpul bareng2 lagi…

Foto oleh Indra Supriyana

Foto oleh Indra Supriyana

Foto oleh Indra Supriyana

Foto oleh Indra Supriyana

Siang tadi, si papan satu persatu dilepas…
Ia yang sudah berdiri di sana selama hampir 18 tahun lamanya,harus mengakui getirnya alam memakan gagahnya..meski masih kuat, tapi kan kita butuh pembaruan dongs,hehe..
Si papan akan diganti dengan yang baru..

Selamat jalan papan, terima kasih atas kenangan indah yang telah tertoreh..meskipun bangkaimu gak tahu kemana, namun kenangan akan dirimu akan selalu di hati kami duileee lebay bangeeeettts…

Salatiga, 10 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s