Surat untuk Rayan (lagi)

Tahun 2010, saya pernah membuat tulisan untuk Rayan di ulang tahunnya yang ke-3. Judulnya “Surat untuk Rayan Rajendra Rasendriya”, lengkapnya bisa dibaca di sini

4 Tahun kemudian, di umurnya yang cukup penting, saya terbersit ingin menulis surat lagi untuk Rayan. Saya katakan penting karena di usia inilah, Mas Rayan harus mulai belajar untuk solat…. Dan ini tentu saja tanggung jawab saya. Siapa lagi? ๐Ÿ™‚

Happy reading!

Mas Rayan, begitulah Bunda memanggilmu, Nak. Terlahir dengan cinta, namamu pun kami rangkai dengan penuh cinta. Rayan Rajendra Rasendriya. Rayan diambil dari bahasa Arab, yaitu salah satu nama pintu gerbang syurga. Rajendra artinya “sangat tampan”. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya rupawan kan Nak? Meskipun hal tersebut tidak lagi penting bagi Bunda. Karena bagi Bunda, kamu lah laki-laki paling tampan sedunia. Sedangkan Rasendriya memiliki makna “tajam semua inderanya”.

Terlepas dari sempurnanya penamaan kamu, hari-hari setelah kamu lahirlah yang menjadi penentu sempurnanya masa depanmu kelak Nak. Iya, itulah tanggung jawab terbesar Bunda di dunia ini. Semakin hari Bunda semakin menyadari untuk apalah Bunda ada di dunia ini.

Apakah Bunda sangat sempurna dalam mendidikmu Nak? Aduhai jauuuh sekali dari kata sempurna. Bunda sangat salut kepada ibu-ibu yang 100% persen tidak pernah memarahi anaknya… Maafkan Bunda ya Nak, terkadang emosi mengalahkan logika Bunda untuk tidak marah kala dirimu sedang rewel. Apalagi memang dasarnya Bundamu ini juga agak cengeng, jadilah kamu kecipratan gen cengeng juga. โ€‹

Mas Rayan, suatu hari Bunda salut sekali melihat Pilot yang dengan gagah menerbangkan pesawat. Terbersit keinginan Bunda untuk menjadikanmu pilot Nak. Tapi besoknya lagi Bunda membaca kisah heroik para dokter yang banyak berjasa di pedalaman, bagaimana kalau kamu jadi dokter saja? Tapi tunggu dulu, banyak pengusaha muslim sekarang yang sukses, sepertinya kamu lebih cocok jadi pengusaha, Mas. Hehe. Bawel sekali ya Bunda. Inginnya yang terhebat, tertinggi, terkeren, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi lihatlah, Bunda suka tidak sabaran kala mengajarkanmu mengerjakan PR. Karena bagi Bunda PR kamu mudah sekali, padahal mungkin bagimu susah ya Nak, apalagi kamu masih kelas 1 SD, pasti pikiranmu hanya ingin bermain dan bermain saja..

Namun Nak, jadi apapun kamu kelak, Bunda akan selalu mendukung dan tidak akan merendahkanmu selama itu halal. Bagi Bunda, yang utama adalah membimbing keluargamu kelak, agar dapat berkumpul di syurgaNya. Iya, jadilah imam yang baik, pemimpin bagi dirimu sendiri, kemudian keluargamu. Itu yang utama dalam hidup. Karena dunia ini hanya sementara, hanya persinggahan, di akhirat lah kelak yang abadi. Itulah yang Bunda ingin agar kamu pahami sepaham-pahamnya. Karena dengan pemahaman itulah, modalmu dalam melangkah, menentukan pilihan-pilihan hidupmu kelak.

Mas Rayan, kamu tahu tidak, Bunda sering menangis di kegelapan malam kala melihatmu terlelap. Kamu yang baru 7 tahun berada di dunia ini, sudah seringkali Bunda minta untuk bersikap dewasa terhadap adik cantikmu yang berusia 2 tahun, Raras. Iya Mas, dek Ras lagi senang senangnya merebut apapun yang kamu pegang. Bahkan sarung Cars yang Bunda belikan untuk kamu latihan solat, direbut juga. Padahal dek Ras sudah punya mukena Hello Kitty ya Mas.

Suatu hari kamu pulang sekolah membawa sebuah balon dari Bu Guru. Katamu, balon itu sebagai hadiah karena nilai tugasmu di sekolah mendapat 100. Bahagia sekali Bunda mendengarnya. Tapi tiba tiba dek Ras merebutnya dari tanganmu. Kamu pun menangis. Bunda minta kamu untuk bersabar dengan janji akan Bunda belikan yang baru. Padahal Bunda tahu, pasti kamu sedih sekali ya Nak, karena balon itu sangat berharga.
“Mas Rayan sabar ya, adek kan masih kecil”
“Mas Rayan ngalah ya sayang, nanti Bunda belikan yang baru”

Seringkali kata-kata itu keluar dari mulut Bunda.
Kamu pun hanya menangis histeris.
Bunda juga tahu pedihnya hatimu Nak, maafkan Bunda ya Mas..
Tapi tak berapa lama kamu pun mengelus-elus kepala dek Ras dan bilang sayang padanya.. Terenyuh rasanya. Bangga Bunda terhadap kamu Mas.
Itulah kamu Nak, seringkali mendapat pelampiasan kemarahan Bunda, namun tak lama kamu seperti lupa dan kala malam selalu minta pijit punggung sebelum tidur. Tanpa dendam, tanpa pamrih, itulah kamu.

Perjuangan kita masih panjang Mas. Mungkin sekarang Bunda seringkali kerepotan mengurusmu dan dek Ras, tapi padahal, ketika kalian beranjak dewasa pun pasti masih banyak ujian hidup yang berdatangan. Ini pengalaman pribadi Nak, karena sebagai anak dari Enin dan Datukmu, hingga mempunyai dua anakpun Bunda merasa masih sering merepotkan mereka..Tapi tak apa Nak, Bunda akan berusaha sekuatnya, untuk terus menjadi ibu yang baik untukmu dan adikmu.

Oiya yang terakhir, izinkan Bunda untuk cemburu pada isterimu kelak, karena dia merebut sebagian cintamu โ€ฆ. Bunda sayang Mas Rayan, selamanya, semoga Allah selalu menjagamu Nak.

20140224-070120.jpg

Advertisements

4 comments

    1. Thanks sis, semoga doa dan harapan dapat terwujud dlm kehidupan nyata, bukan hanya dlm indahnya rangkaian kata… Susah ya bo jadi orangtua….

      Makasih sudah meninggalkan komen ya dear ๐Ÿ˜€ *norak*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s