Bravo Tim Support!

Malam ini, tetiba ingin membahas mengenai tim support aka tim nonteknis dalam suatu ekspedisi… Apaan nih tiba tiba tim support segala?

Jadi tadi siang di salah satu grup whatsapp saya ada celetukan ekspedisi. Belum tahu sih lengkapnya gimana, wong saya tanya ekspedisi apaan belum ada yang menanggapi.. Hehe. Tapi berkat itu saya jadi punya inspirasi untuk menulis. Asek.

Ekspedisi yang dimaksud disini bukannya ekspedisi pengiriman barang barang itu ya, bukan. Bukan juga berkurangnya salah satu peserta Indonesian Idol…………
……………………………….
Eh, itu eliminasi ya? Jauh ya? Gapapa deh garing sedikit.. ๐Ÿ˜€
Ekspedisinya adalah Perjalanan yang dilakukan untuk tujuan tertentu, biasanya penjelajahan dan/atau penelitian (sumber: wikipedia). Ekspedisi ini acapkali berlangsung dalam durasi waktu yang cukup lama, kalau menurut kasarnya saya sih ya, paling sebentar 10 hari perjalanan lah, baru bisa dibilang ekspedisi.

Jaman saya muda dulu,……. aduh, gaenak banget bacanya. Ganti deh.

Jaman saya masih aktif berorganisasi dulu, saya dan teman teman sempat melaksanakan ekspedisi (latihan lapangan) telusur gua di Pacitan, Jawa Timur. Tepatnya pada tahun 2003. Nama guanya Luweng Ombo, dengan kedalaman vertikal sekitar 110 meter. Luweng ini menganga di tengah persawahan dengan diameter lubang atas hampir selebar lapangan bola. Nanti setibanya di dasar gua, akan ada 2 lorong besar yang saling berseberangan. Dua lorong ini sangat besar, jangan bayangkan lorong dalam jalan tol, lorong ini jauuuuh lebih besar. Di dalam lorongnya pun banyak terdapat bongkahan batu sebesar rumah. Dan itu langit lorongnya masih sangat tinggi. Aduh. Susah banget ya menjelaskannya. Semoga bisa dibayangkan.

Naaaaah. Tim kami terdiri dari 8 orang anggota Mapala UI dan 2 orang teman dari Mahipa Ponorogo. Dengan lokasi ekspedisi yang ekstrim seperti ini, sebenarnya jumlah tersebut dapat dikatakan sangat kurang. Karena dalam suatu penelurusan dan pemetaan gua, minimal ada 3 orang. Satu orang di depan sebagai leader bertugas mencari jalan dan membawa ujung tali meteran, yang kedua memegang ujung meteran dan orang ketiga bertugas mencatat angka angka hasil pengukuran gua dan menggambar sketsa lorong gua tampak depan dan tampak samping. Hal ini penting, sebagai dokumentasi dan sebagai pegangan agar tidak tersesat di dalam lorong gua yang berkelok kelok dan tentu saja gelap. Sempurnanya lagi, seharusnya ada 1 orang lagi yang bertugas mengambil gambar dengan leluasa, tanpa harus mengemban tanggung jawab lain. Itulah mengapa saya katakan jumlahnya sangat kurang. Karena gua yang besar dan durasi ekspedisi yang panjang, seharusnya jumlah atlit minimal 2 tim, sehingga dapat dilakukan pergantian shift dan penulusuran dapat berjalan efektif dan maksimal. Namun apa daya, karena ekspedisi ini adalah sampingan kami sebagai mahasiswa saat itu, maka hanya kami berdelapanlah yang akhirnya bisa berangkat ke Luweng Ombo. 4 Orang sebagai tim teknis yaitu Fadly, Visna, saya dan Riri, dan 4 lainnya sebagai tim non teknis atau support yaitu Daus, Mira, Anne dan Pare. Namun Pare di 2 hari terakhir sempat turun sebagai teknis menggantikan Riri yang kurang sehat. Sedangkan Mira dan Anne sejak awal memang saat itu sedang memiliki keadaan kesehatan yang kurang memungkinkan untuk turun. Padahal mereka berdua juga tidak diragukan ketangguhannya, namun kita tidak bisa mengambil resiko dalam medan yang ekstrim seperti ini. Sedangkan Daus memang total membantu dalam bidang komunikasi dan senyum senyum manis. Loh?

Saat itu, saya bersama teman teman teknis mulai masuk ke dalam gua dan berada di sana untuk 6 hari ke depan. Kami makan, tidur, dan buang air di bawah selama itu. Sekarang saya tidak akan membahas kami yang di bawah, tapi saya ingin mendedikasikan tulisan ini untuk teman teman support atau non teknis yang siap siaga di atas selama ekspedisi. Bravo! Standing applause untuk kalian.. Kalian lah yang sejatinya menerima penghargaan atas berjalannya ekspedisi ini.

Kenapa sih, tim support emangnya penting ya? Bukannya lebih keren atlit? Oit, jangan salah, tim support itu amat sangat berjasa dalam banyak hal. Iya, banyak hal. Selama kami di bawah, tim support lah yang selalu mengirimkan makanan untuk kami sehari hari. Bahkan support harus sudah mengirimkan paket untuk dua kali makan pada pagi hari, yaitu paket makan pagi dan makan siang, karena sangat tidak efektif kalau kami harus keluar lorong gua hanya untuk makan siang. Maka kami tim penelusur, saat masuk lorong sudah lengkap membawa perbekalan makan siang dan snack yang disediakan support. Bayangkan, kalau kami start penelusuran jam 7 pagi, jam berapakah support di atas sudah harus bangun memasak? Tim juga harus belanja sayuran di pasar dan memikirkan menu yang cukup kalori bagi kami untuk beraktifitas cukup berat. Harus putar otak juga dalam memvariasikan menu sehari harinya agar tidak bosan. Bagi yang budget ekspedisinya berlebih, mungkin bisa minta bantuan warga sekitar untuk memasak dalam partai besar. Bagi kami saat itu, semuanya serba penghematan. Hehe. Setelah dipacking makanannya, barang harus dihauling ke bawah dan memakan waktu sekitar 15 menit. Jadi, yes, hidup tim support!

Selain konsumsi, tugas lainnya tim support adalah komunikasi. Merekalah yang merelay berita kami dari bawah ke sekretariat di Depok. Kami menentukan waktu waktu untuk berkomunikasi, dan kemudian tim support akan menyampaikannya ke Depok. Kalau kami kenapa kenapa di bawah (alhamdulillah nggak kenapa kenapa saat itu), siapakah yang akan paling repot? Jawabannya: tim support. Kami sih yang di bawah tinggal menunggu helikopter dan tim rescue saja. Hehe.

Menjadi tim support adalah tantangan yang menyenangkan sebenarnya. Salah satu fungsi lagi dalam tim ini adalah sebagai Camp Manager. Yes, bukan cuma rumah yang perlu didekorasi dengan indah. Namun tenda dan seisinya pun harus diatur sedemikian rupa sehingga kami betah dan nyaman menempatinya selama jangka waktu yang cukup panjang tersebut. Letak dapur, tenda alat, tenda makanan, dan jemuran baju diatur seindah dan setertata mungkin (setertata?!?!?!?) saat itu. Apalagi barang barang dan peralatan yang segambreng sudah bisa dipastikan berantakan dimana mana bila tidak dirapikan dengan baik. Belum lagi akan adanya jemuran pakaian dalam yang berseliweran, fiuh. Di sanalah teruji kehandalan seorang camp manager dalam mengatur base camp, agar terlihat indah, rapi dan nyaman di tengah persawahan kering tersebut. Wuhuw.

Yang patut dibanggakan lagi dari tim support adalah kesabaran mereka. Siapa sih yang nggak bosan selama 6 hari di atas gua? Dan tau dong ya cuaca di sekitar batuan karst seperti apa panasnya. Hehe. Jemuran kering deh pokoknya. Bukan hanya jemuran sih, mungkin hatinya ikut kering karena kangen sama yang di Depok… Haiyaaaaa ๐Ÿ˜€

Masih banyak tugas tim support yang tidak saya jabarkan di sini. Maka, saya salut sekali kepada teman teman saya saat itu, Mira, Anne, Pare, dan Daus yang bersedia menjadi tim support. Berkat merekalah, kami bisa selamat lagi sampai di atas. Izinkan saya, dalam tulisan ini melakukan penghormatan dan terima kasih sebesar besarnya terhadap teman teman semua.. Tim support bukanlah terdiri dari orang orang lemah yang tidak mampu menjadi atlit, sama sekali bukan. Support dan atlit sama pentingnya. Bahkan menjadi otak atlit saat otak atlit sudah kejepit otot. Hahaha. Suatu ekspedisi, meskipun memiliki 100 orang atlit handal, tidak akan dapat berjalan tanpa adanya seorang tim support. Bagaimana menyatukan kedua tim agar dapat bekerja harmonis dan sinergis, akan menentukan keberhasilan suatu ekspedisi. Iya apa iya? Sekali lagi, bravo tim support!

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

P.s. foto Pare belum saya tampilkan karena saat itu yang bersangkutan belum berhijab, nanti saya carikan foto yang baru ๐Ÿ™‚

P.s. lagi: tidak lupa terima kasih yang sebesar besarnya untuk Opa David Teak yang berjasa besar dalam mengajarkan kami tentang radio komunikasi, almarhum bang Ian yang menampung kami di Madiun, Sunkid di Madiun dan teman teman Mahipa di Ponorogo, terutama Mas Taufik, Mas Melon, Mas Slamet dan lainnya yang kepanjangan disebutkan di sini. Rocks banget semuanya!

Salatiga, 28 Februari 2014
Ditemani The Best of Cranberries

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s