(Ku)Lari ke Hutan Kemudian Menyanyiku – Kisah pertamaku lari lari di gunung

And here i am. 

Di umur ke-36. Buseettt tuwir amat kali ya kalo anak anak sd bilang. Dulu waktu saya kuliah juga ngeliatin senior yang sudah beda 10 tahun tuh kayaknya…. Yaampun… mereka udah tua ya… gitu. Eeh sekarang sampai deh saya di usia menjelang 40 ini. Ternyata rasanya gak jauh beda dengan ketika umur 16….. (iya in aja deh).

So di ulang tahun kali ini, saya gemes dong. Kok ya lari lari terus dari kenyataan tapi ndak pernah lari ke hutan. Foto teman-teman lari-lari dengan berbagai pose bersliweran di wall fb dan instagram saya. Masak saya masih tidur-tiduran aja nih pake daster. Apa kata duniaaaaaa. Cita cita pingin lari ke hutan sih sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, tapi ya namanya kesibukan manajer rumah tangga, serba ga pasti jadwalnya. Ya tiba-tiba anak lomba, atau ada ujian apalah, ada pertunjukan apalah… harus mendampingi. Saya terima dengan hati ikhlas 🙏🏻. Namun sedikit demi sedikit saya mulai mengumpulkan peralatan yang diperlukan untuk kegiatan lari-lari ke hutan ini, atau kata orang “trail running”. Beuh gaya beut. Ya siapa tau tiba tiba datang kesempatan buat bisa lari dan saya sudah siap tinggal cusss. Hehehe.

Sebenarnya apa saja sih yang diperlukan untuk kegiatan berlari trail ini? Saya sedikit riset di google, di antaranya, bagi yang pengen tau,

1. Sepatu trail, beda ya sama sepatu track yang buat basket atau lari di jalanan gitu. Kalo di trail alasnya lebih bergerigi biasanya. Maksudnya tuh biar bisa mencengkram di jalur tanah/batu-batuan gitu, biar kitanya ga gampang kepeleset.

2. Hydration bag. Tas kecil yang volumenya hanya beberapa liter buat bawa air dan perlengkapan perang.


3. P3K sederhana. Karena jalur yang tidak biasa dan tidak banyak dilewati orang, lebih amannya kita membawa p3k sederhana. Just in case. 

4. Trekking pole. Sebagai alat bantu kamu untuk memijak, pemilihannya harus teliti loh, harus disesuaikan sama tinggi badan dan cari yang seringan mungkin pastinya 😅.

5. Makanan dan minuman. Enaknya membawa energy gel yang sekarang banyak dijual, karena ringan dan bisa menambah enerji (iya dong kan namanya juga energy gel hahahaha).

6. Jaket. Untuk menahan hawa dingin agar tubuh ngga kehilangan panasnya.

7. Headlamp. Buat yang lari larinya sampe malem malem gitu deh.

Itu beberapa aja yang agak penting sih. Kalo lomba-lomba yang beneran biasanya sudah dikasih daftar wajib perlengkapan apa saja yang harus dibawa peserta, karena balik lagi ke…. safety. Yang paling penting sebenarnya ya niat. Niat dan kemampuan, dan kesempatan, dan doa (heh?). Iya, buat saya ya doa biar kaki nggak sengklek 😂

Jadi pas di hari ulangtahun atau hari berkurangnya jatah umur saya di dunia yang fana ini, nekatlah saya sendirian nyobain trail running. Ke mana? Ke mana lagi kalau bukan…… jreng jreng jreng…. Gunung kesayangan kita bersama… Gunung Andong 😄. Selain karena ini pertama saya nyobain lari gunung, saya juga sendirian, jadinya saya pilih yang dekat + medannya saya kenal.

Sehabis rutinitas icikiwir masakin telor-memandikan-nyuapin-antar anak sekolah, bersiap-siaplah saya menghadapi lari gunung pertama saya. Seperti biasa, saya sakit perut dulu sebelum berangkat karena nervous. Wkwkwk. Mandi, sarapan, ga minum kopi takut perut tambah bergejolak, berangkatlah saya jam 9 kurang dikit dari rumah. Jam 9.30 an saya sudah berada di kaki gunung Andong. Amazing. Dekat ya. Oiya, tiket masuknya sekarang jadi Rp 8.000, parkir mobil Rp 10.000.

Sampai kaki gunung selfie selfie sebentar, terus pemanasan ala ala atlet maraton kenamaan. Gaya dulu lah yang penting mah hahaha. Pas mau lari ketemu gerbang naik gunung Andong, eh foto lagi deh berenti lagi 😄. Karena lari dengan lupa membawa tongsis, minta tolonglah saya sama mas-mas yang kebetulan habis foto di situ. Mereka sudah baru turun dari atas. Agak kurang maksimal gayanya karena malu, coba kalo sama emak-emak yang itutuuuu… pasti ga malu-malu, yang ada malu-maluin…  Eh taunya mas-masnya ngajak selfie abis itu. Saya tambah gaenak, mau nolak kasian. Yaudahlah gapapa sekali doang mungkin gabakal ketemu lagi, hihihi.

Ok lanjut. Sekarang saya beneran lari. Nah, sehabis kira-kira 200 meter berlari, jalurnya berubah menjadi tangga. Ealah, saya tadinya mau sok-sok an lari sambil menaiki tangga, tapi sodara-sodara…. SAYA GAK KUAT 😂. Dan tahukah kalian… sepanjang jalur adalah tangga yang teruuuusssss naik sampai puncak… alhasil lari saya kali ini disponsori oleh naik tangga gunung, bukan lari gunung. Menyedihkan hahahaha. Itupun nafas sudah ngos-ngosan. Tapi lumayan, waktu tempuh naik saya hanya 1 jam sampai puncak. Alon alon asal kelakon. Tapi masih lebih cepat dari setahun yang lalu ketika naik bersama anak-anak. Yang pingin ketawa bolehlah ketawa. Saya harus belajar lagi bagaimana caranya agar bisa kuat berlari di jalan yang menanjak. Selama ini sih saya gak ada latihan khusus ya. Lari ya lari aja. Kalau capek berhenti. Dasar pemalas. Hahaha.

Sampai puncak, saya ke puncak Alap alap yang ada di bagian ujung gunung Andong ini (gunung Andong memiliki 4 puncak: puncak makam, puncak Jiwa, puncak Andong, puncak Alap alap). Waktu tahun lalu ga sempat ke sana karena keburu hujan.

Pas saya lagi jalan, ada mas-mas dari belakang yang manggil. Aduh, ada yang mau minta foto lagi nih pikir saya. Ternyata masnya nanya:

“mbak, maaf, pelari ya?”

Saya mau jawab “bukan, saya penyanyi” tapi gaenak nanti dia minta tanda tangan.

“Bukan mas” jawab saya jujur. Masnya beringsut mundur, sepertinya dia panitia.

Memang tadi itu bertepatan juga dengan lomba trail run MesaStila Peak Challenge.  Tapi karena saya agak siang naiknya, jadinya gak ketemu pelari-pelari keren yang mengikuti lomba tersebut.

Nice view from above

 

Ternyata lumayan juga jalan menuju puncak Alap alap. Harus turun dulu terus naik lagi. Tapi pemandangannya kereeeen banget. Kota Salatiga terlihat jelas. Di puncak Alap alap ternyata ga ada plang atau penanda apapun, hanya ada tanah datar yang agak luas saja, dan ada 1 warung. Saya pun balik lagi ke puncak Andong. Dan berfoto-foto di sana. Tak lupa saya beli teh manis hangat juga di warung, yang memang sudah jadi cita-cita saya sejak dari bawah tadi. Disini juga ada penjual rokok lengkap 😂.

Warung rokok

Puncak Andong

Setelah kurang lebih 1 jam beristirahat, saya pun turun. Nah kali ini boleh agak sombong karena saya turun sambil berlari-lari layaknya jagoan pelari gunung hahahaha. Itupun lari-lari kecil, maklum, lutut gemetaran. Sampai di bawah jadinya hanya memakan waktu setengah jam. Wow. Bravo buat saya. Wkwkwk.

Pas di gerbang, saya foto lagi, kali ini gak ada mas-mas, jadinya saya selfie dibantu bebatuan yang ada di sana. Buat foto before after keren juga pikir saya. Baru beberapa langkah berjalan, ada warung es kelapa muda. Nongkronglah lagi saya menikmati pemandangan gunung Andong yang bentuknya mirip andong sambil menyeruput kelapa muda. Ah, nikmat.


Dan jam 13.30 saya sudah berkumpul bersama bocil-bocil kesayangan. Lumayaaaan refreshing emak-emak rempong. Makasih loh buat temen saya yang cantik (Luna Maya) yang bisa (dan sering) dititipi jemput Raras kalau saya berhalangan 😄. Well done, first step sudah dijalani, setidaknya sudah ngerasain yang namanya lari ke hutan 😄. Semoga lain kali lari beneran.

Semoga di umur yang masih berlanjut ini saya bisa semakin bijak, sabar dan setrong menjalani hidup, bisa nyobain hal hal baru lagi hahaha. Dan yang pasti tambah berkah umurnya, aamiiiiiiinnnn 😇.

Salatiga, 7 Oktober 2017

Di umur saya yang ke-16, eh, 36 😄

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s