Perjalanan

Naik-naik ke Gunung Andong

Pernah dengar nama gunung Andong? Namanya memang tidak setenar gunung Gede atau Semeru, tapi ternyata gunung Andong cukup layak dijadikan ajang latihan naik gunung bagi para pemula. Gunung ini salah satu gunung belakang rumah saya loooh.. Jadi wajib banget memang buat didaki sama saya :). Dengan ketinggian 1.726 Mdpl, gunung Andong mampu memikat para pendaki akhir-akhir ini. Setiap akhir pekan, gunung ini pun ramai dikunjungi. Tapi bukan berarti, mentang-mentang gunungnya pendek, kita bisa asal aja gitu ketika mendakinya. Buat saya itu sangat BIG NO NO 🙂

Catatan penting ya sebelum mulai bercerita, mendaki gunung itu olahraga berat, perlu persiapan buat siapapun yang berniat mendakinya. Mau gunungnya pendek kek, mau kitanya udah jago naik gununglah, apalah apalah, tetap ya, hormati alam, hargai. Maksudnya gimana? Maksudnya kita menghargai, kita datang kepadanya ya dengan penuh persiapan.

Fisik siap: dengan olahraga-olahraga sebelum naik

Logistik siap: perbekalan makan dan minum dihitung sesuai durasi perjalanan

Perlengkapan ok: dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki sudah lengkap semua. Meskipun mungkin durasi naik turunnya singkat, kita gak pernah tahu apa yang bisa terjadi di alam. Jadi, kelengkapan itu penting banget. Jangan lupa juga obat pribadi.

Mental siap: gimana sih caranya nyiapin mental? Ya kita lakukan penelitian dulu tentang gunung yang akan kita daki. Ke sana lewat mana, medannya gimana, suhunya sedingin apa, ada sumber air atau nggak, kira kira evakuasi untuk keadaan darurat gimana, dan secukupnya tergantung tujuan perjalanan kita. Juga jangan lupa, mental siap untuk buang air kecil maupun air besar di antara semak-semak 😀

Itu sekilas saja, lengkapnya bakal panjang sekali. Saya hanya mau bilang sih, please, respect the mountain.

Ok, serius banget ya saya, hehehe. Balik ke gunung Andong. Kalau untuk rute menuju gunung ini, teman-teman bisa intip di

https://gunungandong.wordpress.com/2014/05/03/jalur-menuju-basecamp-gunung-andong-taruna-jayagiri/

Atau di

http://gunungandong.com/

Itu udah lengkap banget deh rutenya, jadi saya gak perlu tulis-tulis lagi hehehe 😅

Jadi awal mulanya, saya habis berulang tahun nih ya di bulan Oktober kemarin, alhamdulillah tambah tua, bukan tambah muda (yaiyalaaaaah). Terus saya tuh mikir-mikir kok ya jatah umur makin sedikit tapi belum pernah naik gunung sama anak-anak. Tapi membayangkan naik gunung bawa anak-anak, itu saya agak-agak sesak nafas. Hahaha. Pasalnya, saya sendiri kalau naik gunung itu bawa diri sendiri aja udah susah banget, ditambah lagi bawa keril, lah gimana caranya kalau bawa anak-anak??? Lebay ya. Iya, memang namanya kalau mau melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan tuh banyak takutnya. Banyak ngarangnya. Mangkanya harus dicoba biar tahu. Oooh rasanya begini… oooh yang kurang ini… oooh seharusnya begini… bawel ye. Atas dasar pertimbangan untuk perdana naik itulah, yaudah yuk, kita naik gunung Andong dulu ama anak-anak. Setelah riset di internet pun, rasa-rasanya bisa kok naik gunung ini bawa anak. Hehehe pede bener.

Tiba di hari pendakian 9 Oktober 2016, pagi-pagi saya sudah siap siaga di depan keril. Menatap keril dengan nanar. Bertanya-tanya mampukah saya? Tapi juga sangat bersemangat. Akibat terlalu bersemangat alias gugup itulah, saya sampai sakit perut. Sehabis sarapan terlebih dahulu di sebuah warung nasi uduk, kami sekeluarga terpaksa kembali lagi ke rumah karena saya harus meeting sama toilet. Hahaha. Gugup bok… 😜

Setelah urusan saya selesai, berangkatlah kami. Eiya lupa, ada lagi dramanya. Karena celana gunung saya jarang dipakai, pas di mobil eh resletingnya rusak. Gak lucu rasanya kalau fotonya nanti membuat semua orang beristighfar.  Untung saya bawa celana training cadangan untuk ganti. Dengan lihai saya berganti celana di dalam mobil. Hahaha.

Berkat rute yang baik dan benar, tibalah kami di Basecamp Taruna Jayagiri Sawit. Kira-kira 45 menit perjalanan dari rumah kami di Salatiga. Ternyata parkiran sudah penuh. Mobil-mobil berderet sepanjang jalan menuju kaki gunung. Motor-motor penuh sesak di parkiran halaman rumah orang. Tapi bagusnya ada yang mengatur parkiran, sehingga formasi parkirnya lebih teratur. Ada masjid di dekat tempat kami parkir. Toilet ada banyak di sini, jangan khawatir buat yang tiba-tiba ngeri-ngeri sedap melihat gunung menjulang, para toilet siap menampung kegugupan anda semua, hihihi. Untuk tiket masuk, kita cukup membayar Rp 5.000 per orang (sudah termasuk Rp 1.000 untuk Kas Dusun Sawit), serta uang parkir (saya agak lupa jumlahnya sepertinya Rp 10.000).

IVZR3200.jpeg

Tiket pendakian gunung Andong

img_1463

Loket pendakian

img_1459

Bawaan kami yang minimalis

Setelah dirasa semua siap, melangkahlah kami menuju gunung Andong yang berkabut pagi itu. Tak lupa saya mulai merekam dan foto-foto. Penting banget loh ini, untuk dokumentasi dan kenangan anak-anak kelak.

img_1464

Gunung Andong yang berkabut pagi itu

Gerbang masuk gunung Andong terbilang cukup mewah, sepertinya sih baru direnovasi.

IMG_1470.JPG

Gerbang masuk.. Foto-foto dulu sebelum muka lecek ..makin deg-degan

IMG_1472.JPG

Awal pendakian disambut dengan jalan yang indah ini

Pendakian kami dimulai pukul 09.45. Rayan dan Raras terlihat sangat bersemangat. Rayan hanya membawa tas kecil yang berisi snack dan air minum secukupnya, sedangkan Raras tidak membawa apa-apa, hanya sebuah trekpole yang juga diperebutkan Rayan, hehehe. Saya membawa keril mini 30 liter yang berisi tenda dan air minum, ringan sekali. Sengaja memang kami membawa tenda meskipun tidak berencana menginap, karena maksudnya mau kemping-kemping cantik di atas nanti. Tas si Ayah memang terlihat kecil, tapi beratnya jangan tanya hihihi. Ada trangia, ada logistik, jaket, spirtus, air minum, dan lain-lain, wkwkwk.

Jalur awal berupa tanah berbentuk tangga, tidak terlalu licin meskipun agak basah. Untuk tiba di Pos 1 Watu Pocong, kami membutuhkan waktu 20 menit. Lumayan cepat ya? Saya bahagia sekali, karena biasanya untuk mencapai Pos 1 di gunung lain membutuhkan waktu ya rata-rata sejam.

IMG_1474.JPG

Ini dia jalur tangga tanah menuju Pos 1

img_1475

Orang-orang yang masih segar di Pos 1 Watu Pocong 🙂

Setelah beristirahat sebentar, minum air dan duduk-duduk, kami melanjutkan perjalanan. Jalur menuju Pos 2 sudah lebih terjal. Tapi tipe jalur masih serupa, tanah-tanah licin gitu karena memang sudah cukup sering hujan kemarin itu. Waktu tempuh untuk mencapai Pos 2 Watu Gambir ternyata lebih singkat lagi, hanya 15 menit. Saya cukup takjub melihat anak-anak yang tetap semangat dan ceria. Dan tak lupa, saya selalu menanyakan kepada mereka untuk beristirahat dan meminum air.

img_1487

Rayan di Pos 2 Watu Gambir

img_1485

Santai dulu di Pos 2

Di Pos 2 agak ramai, banyak pendaki yang sedang turun kemudian menghabiskan waktunya di sini karena pos ini cukup luas. Bahkan ada beberapa yang memasang hammock. Raras menjadi pusat perhatian para pendaki yang berpapasan dengan kami. Mereka agak takjub melihat Raras yang mendaki gunung. Meskipun banyak juga sih anak kecil yang saya lihat ikut mendaki hari itu. Mungkin mereka para anak-anak yang dipaksa Bapak Ibunya yang kangen naik gunung… Eh, itu saya deng hahaha.

Setelah Pos 2 langsung puncak. Menurut saya sih jalur menuju puncak inilah yang terberat dalam rute gunung Andong. Tanjakan demi tanjakan yang semakin terjal menyambut kami. Kadang harus antri menunggu rombongan pendaki yang sedang turun. Kalau tadi 15-20 menit sampai, kali ini kami membutuhkan waktu 50 menit untuk tiba di puncak. Kebayang ya jalan menanjak selama itu. Nafas saya agak sesak sewaktu mendaki menuju puncak. Beberapa kali saya sempat berhenti istirahat dan anak-anak duluan. Pokoknya hebat banget deh mereka. Mungkin bagi anak kecil mendaki gunung adalah kegiatan bermain yang sangat menyenangkan karena tempatnya sangat luas ya. Hehehe. Atau mungkin juga langkah mereka sangat ringan karena belum mempunyai beban hidup yang menghantui. Beuh, mulai deh ngawur. Hahaha.

Kabut mulai sangat menebal semakin mendekati puncak. Pandangan kami hanya terbatas beberapa meter dan harus melangkah dengan sangat hati-hati karena jurang di sebelah kiri kami tak terlihat. Beberapa saat sebelum puncak, kita akan menemukan sumber mata air yang sudah dipasang kran. Airnya sangat jernih, menggoda kami untuk berhenti dan sekedar membasahi wajah.

img_1494

Jalur menuju puncak yang mulai menguji nyali, Raras sih santai saja 🙂

IMG_1498.JPG

Kabut semua

IMG_1496.JPG

Sumber mata air sebelum puncak

img_1501

Horeee ketemu warung di atas….

img_1504

Sudah sampai senangnya, gaya dulu deh

Akhirnyaaa kami sekeluarga tiba di puncak Gunung Andong pada pukul 11.11 WIB. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Cukup singkat yaa? Gunung Andong memiliki 4 puncak, yaitu Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong, dan Puncak Alap-alap. Puncak Andong yang tertinggi, yaitu memiliki ketinggian 1.726 Mdpl. Disebut Andong karena memiliki beberapa puncak sehingga membentuk seperti punuk sapi. Tapi ada juga yang bilang kalau asalnya dari daun Andong (sumber: internet). Di puncak banyak berdiri tenda para pendaki yang mungkin sudah bermalam dan mengejar sunrise (puncak Jiwa). Pemandangan yang kami dapatkan kurang maksimal, karena semua tertutup kabut. Kalau cuaca cerah, seharusnya dari sini kami bisa melihat gunung Merbabu, Merapi, Ungaran, Telomoyo, dan si kembar cantik Sundoro Sumbing. Tapi alhamdulillah banget lah sudah bisa sampai dengan selamat di puncak. Kami tidak sempat ke puncak Alap-alap karena keburu turun rintik-rintik hujan.

img_1559

Yeeaaay.. Bisa juga foto keluarga di sini 🙂

img_1509

Anak-anak hebat!

Setelah menyalurkan hasrat narsis, kami berlari menuju warung karena hujan turun dengan derasnya. Di puncak terdapat 2 warung. Salah satunya warung Pak Imun. Di warung pak Imun inilah kami berteduh dan makan siang. Warung agak ramai karena banyak pendaki yang juga berteduh. Tapi tidak mengapa karena semakin padat semakin hangat ya kan? Suhu di atas sini tidak terlalu dingin seprti puncak gunung lain yang tingginya 3000an. Jadinya saya tidak terlalu khawatir Rayan dan Raras akan kedinginan.

Cita-cita kami mendirikan tenda sepertinya belum bisa terlaksana. Karena hujan deras sekali, agak malas untuk menggelar tenda. Kami cukup mengeluarkan trangia saja dan memasak chicken nugget untuk makan siang anak-anak. Tak lupa menyeduh teh dan kopi dong. Masa naik gunung nggak nge-teh… Hehehe. Selagi makan, tiba-tiba Raras sakit perut. Anak ini memang doyan sekali BAB. Teratur sehari sekali dia BAB. DI MANA PUN. Di tempat Rayan karawitan, di GPD tempat Rayan taekwondo, semuanya pernah dia coba. Kali ini nampaknya Raras tidak mau melewatkan tempat langka untuk BAB, yaitu di puncak gunung. Jadilah kami mencari tanah kosong dalam kondisi masih hujan, dan Raras sukses meninggalkan jejaknya di puncak gunung Andong. Selamat ya Ras 🙂

img_1531

Makan siang dulu

Setelah sekitar 1,5 jam beristirahat dan berteduh, hujan mulai mereda. Kami pun membereskan barang dan bergegas turun. Tidak lupa berpamitan kepada Bapak Ibu pemilik warung. Hebatnya mereka, turun naik gunung untuk meloading barang dagangan mereka… Salut…

Sebelum turun kami menyempatkan diri melihat makam Kyai Abdul Faqih (Ki Joko Pekik), seorang tokoh penyebar agama Islam (sumber: internet). Makam ini sering didatangi para peziarah. Makam ini berbentuk seperti rumah, dan di dalamnya makamnya dikelilingi lagi oleh tembok. Untuk masuk ke ruangan makam, kita harus melepas sepatu. Saya hanya melihat dari kaca luar.

Perjalanan turun memakan waktu sekitar 1,5 jam juga dengan diiringi hujan gerimis. Jam 15.00 kami sudah tiba lagi di Desa Sawit.Tiba di bawah hujan turun semakin deras. Bersyukur kami sudah di mobil saat itu. Perjalanan pertama mendaki gunung dengan anak-anak sangat menyenangkan. Apalagi anak-anak sangat menikmati dan tidak mengeluh sama sekali. Saya jadi tidak sabar untuk melakukan perjalanan berikutnya, tapi lain kali yang menginap di gunung, biar anak-anak merasakan nikmatnya tidur beratapkan bintang-bintang. Suatu kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Berarti persiapannya juga harus lebih matang agar perjalanan tetap aman dan menyenangkan.

Silakan mampir ke channel saya untuk menonton sedikit tentang perjalanan gunung Andong ini (jangan lupa LIKE & SUBSCRIBE :D). Membuat videonya kemarin lebih cepat selesai karena saya memang lagi senang bikin vlog-vlog an gitu deh. Yah maklumlah saya kan emak-emak kekinian hahaha. Dan membuatnya juga jauuuh lebih mudah daripada menulis blog. Kalau menulis, musti nunggu mood datang, dan datangnya pun tak jelas kapan. Suka-sukanya dia aja hehehe.

Makasih ya sudah mampir 🙂

Salam dari Salatiga, 13 Desember 2016

Munggah Merbabu

Kaki mana kaki…
Ingin rasa rasanya punya cadangan kaki saat ini.
Turunan demi turunan yang terjal lagi berdebu tak elak membuat ujung kaki saya terasa sakit, dengkul serasa mau copot. Pos 1 masih jauh di depan mata.
Saya memutuskan untuk melepas sepatu sejak jauh di atas pos 3. Rasanya lebih enak, meskipun dengkul masih juga gemetaran. Resikonya, tapak kaki yang terasa sakit ketika menginjak batu batu dan tangkai kayu. Menuju pos 1, saya putuskan untuk memakai sepatu kembali.
Setelah minum sedikit, tiba tiba di hadapan saya muncul pahlawan super keren: Gigih. Hahaha. My superhero rescuer!
Gigih naik kembali ke atas menjemput saya setelah ia dan teman teman sampai di desa. Jarak kami terpaut sekitar satu jam. Saya sih udah berdoa doa dalam hati agar ada yang dateng, tapi saat Gigih benar benar datang, itu luar biasa rasanya. Meskipun entah karena ia takut ketinggalan kereta atau memang tulus atau dua duanya gapapa deh. Hahaha.

Salah satu sisi Merbabu dari arah alun alun Pancasila, kota Salatiga

Salah satu sisi Merbabu dari arah alun alun Pancasila, kota Salatiga

Persiapan Emak Rempong

Berawal dari komen mengkomen di sebuah foto di facebook, Gigih menginformasikan bahwa ia dan teman teman akan naik gunung Merbabu tanggal 1 November. Wah, Merbabu tuh cuma 5 langkah dari rumah sayaaa (lebay). Masak ga ikutan sih? Beberapa waktu yang lalu anak Mapala juga sempat ada yang naik, tapi waktu itu saya dan Peni (Bkp 2003) belum jadi ikutan karena persiapan kami yang mendadak. Tawaran Gigih sepertinya menarik, masih ada waktu sekitar sebulan sebelum tanggal 1. Saya pun memantapkan hati untuk gabung trip kali ini, naik lewat Cunthel, turun di Selo (Boyolali). Sounds great. Mantap.

Sabtu, 25 Oktober 2014, 23.45
Siap tidur di kamar bersama 2 buah hati saya.
Pada jam yang sama seminggu ke depan, saya akan tidur di dalam tenda berbalutkan sleeping bag di suatu ketinggian gunung Merbabu, bersama teman teman Mapala.
Setelah 8 tahun lamanya..

Senin, 27 Oktober 2014, 23.55
Pagi tadi kerilnya datang. Atau lebih tepatnya semi carrier, atau daypack ya? Karena ukurannya mungil bingiits.. Cuma 30 liter. Hahaha. Selain karena perjalanan Merbabu ini singkat, untungnya saya jalan dengan junior yang baik hati sehingga saya hanya membawa barang barang pribadi. Asik lah ya. Jadi saya pikir, cukuplah segitu hehehe. Keril ini seumur umur baru pertama kali saya membelinya. Dulu jaman kuliah, mana mampu saya beli keril. Sekarang, lumayanlah, bisa pake duit suami. Uhuy. Sengaja dong, belinya yang agak mahal, selain karena suka sama warnanya, juga saya pikir kualitas back system sebuah tas tuh penting banget buat kenyamanan perjalanan kita. Dulu sih masih muda kuat kuat aja, pake keril 60liter padahal badan cuma seiplit. Eh, nggak kuat juga deng, selalu saya kalau turun gunung dengkulnya sakit dan lamaaaa banget turunnya. Nah apalagi sekarang, ya siapa tau kalo tasnya mahal jadi berasa enteng aja jalannya. Hahaha. Amiiiin.
Seneng banget rasanya punya keril. Alhamdulillaaah. Ini juga belinya pertimbangan banget. Begadang berapa malem gugling model keril yang bagus kualitasnya dan enak di mata. Saya kan libra ya, jadi beli apa apa tuh timbang sana timbang sini. Beli baju lebaran bisa muter muter mall 2 jam. Kalo modelnya gaada yang pas sama hati, ya gajadi beli. Atau kalau masih ragu besoknya saya balik lagi deh ke mall itu. hahaha. Silakan tanya sama Nitut Lelonot. Kebanyakan sih ujung ujungnya gajadi beli dan menyesal kemudian. Hihihi. Padahal model baju saya juga gak aneh aneh banget. biasanya cuma kaos polos atau kemeja gitu deh. bukan model gamis ala ala syahrini.
Makin ga sabar euy rasanya menanti tanggal 1.

Osprey Tempest 30

Osprey Tempest 30

Tampak samping

Tampak samping

Backsystem yang "cantik" yang membuat saya terpaut

Backsystem yang “cantik” yang membuat saya terpana

Kamis, 30 Oktober 2014, 11.06
Tadi malam konfirmasi ke Gigih (Bkp 2009), masih ok gak nih rencana Merbabunya. Ternyata dia tadi malam belanja buat persiapan Sabtu. Oke deeeeh… Deal berarti nih. Insya Allah. Karena saya suka bikin rencana rencana iseng seperti manjat, mau naek gunung atau mau trail running, keseringan ga jadinya hahaha. Jadi sejak awal sebenarnya sudah pasrah untuk kemungkinan terburuk akan ga jadi. Yang gak oke cuma satu nih: sepatu. Saya belum nemu sepatu trail hingga detik ini. Kemaren nyari di Magelang gak dapet. Okelah gakpapa, saya pakai sepatu lari aja. Seperti dulu dulu. Toh perjalanannya singkat. Semoga gak ada kendala yang berarti. Gak ada kendala juga seperti: suami saya lupa pulang malem Sabtu buat jagain anak anak… Zzzzzzzzzzz

Jum’at, 31 Oktober 2014, 21.04
Packingnya sudah selesaaii… Dan… tas 30 liter itu terisi penuh sesak hiks. Dengan sangat terpaksa buahnya besok daku serah terimakan saja ke semuanya yaaa hahaha. Agak agak gugup deh, takut ada yang kurang bawaannya. Sampe sampe bikin list bawaan gitu kayak zaman caang. Padahal cuma bawa barang barang pribadi tapi kok udah berasa beraaattt banget. Nangis lagi.

Daftar barang bawaan saya. Caang Bkp 2015 hehe. Tuh kan sikat gigi belom kebawa....

Daftar barang bawaan saya. Caang Bkp 2015 hehe. Tuh kan sikat gigi belom kebawa….

Sendal Jepit
Ada cerita sedikit dari sendal jepit. Karena saya gak punya sendal yang bener bener sendal jepit, akhirnya pemburuan sendal jepit swallow pun dimulai. Kenapa harus swallow? Ya seingat saya merk sendal jepit ya itu. Ketawan jadulnya. Setelah ke Alfa, Indomaret, Carrefour dan beberapa toko kelontong di area Salatiga, saya hampir putus asa karena gak berhasil menemukan sendal jepit Swallow. Ada merk Ando di Carrefour, tapi harganya… Zzzzz… 35 ribu rupiah. Ga ikhlas gitu mau beli sendal jepit seharga segitu… Hihihi medit ya. Seingat saya pun dulu sendal Ando masih 20 ribu deh, kenapa jadi mahal banget gitu??? No way deh. Karena sehari hari saya udah punya sendal crocs untuk rumahan, maka saya pikir sendal ini gak akan sering dipake. Tapi untuk bawa sendal crocs ke gunung, males aja packingnya. Tuh kan pertimbangan banget ya saya… Hihihi
Nah, maka suatu ketika saya ke toko kelontong (masih area Salatiga), saya pun melihatnya tergolek di pojok toko. Tadaaaa…. Sendal jepit Swallow! Langsung deh saya pilih warna dan ukuran. Tapi gak ada harganya.. Ah biarlah batin saya, pasti gak sampe 20 ribu dan udah butuh banget. Ketika di kasir, puji syukur saya panjatkan karena harganya hanya…. 8.500 rupiah!!! Hahahaha puaaaaaassss (senyum lebar sambil menatap sinis ke sendal Ando di Carrefour).

Sendal jepit kuning "Swallow"

Sendal jepit kuning “Swallow”

Sabtu, 1 November 2014
Bangun jam 4.30 pagi. Agak gak bisa tidur nyenyak semalam. Mengingat Gigih dan kawan kawan sudah berangkat naik bis dari Jakarta kemarin sore. Tanya posisi ke Gigih sekitar jam 7, ternyata masih di Kendal. Rupa rupanya banyak kemacetan di jalur Pantura akibat perbaikan jalan di sana sini. Hmm… Kira kira 2-3 jam lagi tiba di Salatiga, tergantung kemacetan.
Baiklah, berarti masih bisa mandiin dan kasih makan Raras. Hal terpenting yang saya khawatirkan adalah makannya Raras. Saya takut Ayahnya lupa kasih makan Raras atau gak sabar nyuapinnya. Karena Raras ngunyah makanannya lamaaa banget. Tapi masa anak sendiri gak dikasih makan? Hehe. Karena sejak lahir Raras, ini benar benar pertama kali saya tinggalin Raras, tidak tidur bareng dia. Semua pasti ada saat pertamanya ya.

09.10
Ada telepon masuk dari Rinjani M. Wah asyik, si Gita ikut. Kita sudah pernah bertemu beberapa kali di Depok, jadinya agak agak kenal lah. Rombongan sudah di Pasar Sapi. Sedang sarapan di warteg.
Saya menyusul ke sana dan 10 menit kemudian sudah bergabung bersama mereka. Ada Gigih, Hari, Menwa, Novia, dan Ade dari Bkp 2009. Ghali 2007, dan Gita 2011.

Akhirnya berkumpul di sebuah warteg dekat Pasar Sapi Salatiga

Akhirnya berkumpul di sebuah warteg dekat Pasar Sapi Salatiga

10.15
Dengan bis kecil 15 seat jurusan Salatiga-Magelang, kami beranjak dari Pasar Sapi ke Desa Cunthel (Kopeng). Ongkos perorangnya 18 ribu rupiah. Hanya sekitar 40 menit, setelah melalui jalanan Kopeng yang berkelok kelok, kami pun tiba di gerbang masuk Gunung Merbabu via Cunthel. Tepatnya dusun Cunthel, desa Kopeng, kecamatan Getasan, Semarang.
Basecamp Cunthel terlihat cukup terawat dari luar, ada lahan parkir kecil bagi yang ingin menitipkan kendaraan.
Pemandangan yang disajikan juga langsung mempesona, gunung Andong dan di belakangnya Gunung Sindoro Sumbing yang berjejer cantik.
Bernarsis narsis sedikit, kami memulai perjalanan ini dengan berdoa bersama.

Basecamp Cunthel

Basecamp Cunthel

Nomor telepon BC Cunthel

Nomor telepon BC Cunthel

Rute jalur pendakian gunung Merbabu via Cunthel

Rute jalur pendakian gunung Merbabu via Cunthel

Pemandangan di depan BC Cunthel. Gunung Andong terlihat jelas, Sindoro Sumbing tertutup kabut

Pemandangan di depan BC Cunthel. Gunung Andong terlihat jelas, Sindoro Sumbing tertutup kabut (Foto oleh: Gigih Indra)

Tim memulai perjalanan

Tim memulai perjalanan (Foto oleh: Gigih Indra)

Gunung Itu Tinggi Sobat

Berbekal baca baca di internet, saya awalnya menyimpulkan pendakian gunung ini agak agak mudah. Namun sobat, namanya gunung ya gunung. Jalanannya nanjak. Yaiyalaaaah….
Sejak awal pendakian sekitar pukul 11 siang, jalur yang kami lewati terus menanjak. Saya berasa dihukum atas kesombongan saya untuk naik gunung lagi setelah 8 tahun. Awal awal perjalanan, tepatnya sampai Pos Bayangan 1, rombongan masih menanti saya yang tertinggal. Selanjutnya, perjalanan panjang ini saya lewati sendiriaaaan… Hahaha. Saya sih gak masalah, masa iya mereka harus nungguin saya yang jalannya super lelet ini. Namanya juga anak muda. Semangat bener jalannya. Padahal kerilnya besar besar. Ckckck. Luar biasa. Tim ngebut lah pokoknya.

Dari dusun Cunthel ke Pos Bayangan 1, memakan waktu sekitar 30 menit. Jalurnya masih terbuka, jalanan setapak tanah kering. Kiri kanan masih sempat bisa melihat sawah. Jalanan menanjak dengan stabil, tapi masih bersahabat. Di Pos Bayangan 1 terdapat sebuah pendopo yang bangunannya masih lumayan bagus. Tapi jangan terlalu lama duduk disini, karena perjuangan baru saja dimulai.

Jalur menuju pos bayangan 1, gunung Andong masih kelihatan

Jalur menuju pos bayangan 1, gunung Andong masih kelihatan (Foto oleh: Gigih Indra)

Dari Pos Bayangan 1 — Pos Bayangan 2 (Gumuk) masih jalan setapak menanjak yang cukup bersahabat. Meskipun saya juga sudah ngos ngosan. Hehe. Di pos bayangan 2 terdapat sumber mata air, namun karena kemarau, airnya kering. Jadi lebih baik bawa sendiri dari bawah. Saya dan teman teman membawa masing masing 3 liter. Cukup kok. Waktu yang diperlukan juga antara 30–40 menit.

Pos bayangan 2 — Pos 1 (Watu Putut) — Pos 2 (Kedokan) — Pos 3 (Kergo Pasar). Berjalan dengan lancar. Sesekali berhenti untuk minum sambil menikmati keheningan hutan yang misterius. Beberapa kali berjumpa dengan pendaki yang turun. Mereka selalu menyemangati dengan “semangat mba!” Hehehe, emangnya muka saya segitu lemesnya kali ya. Wkwkwk. Sampai di Pos 3 sekitar pukul 14.00. Saya perkirakan saat ini rombongan sudah tiba di Pos 4 (Pemancar). Pos 3 (Kergo Pasar) cukup luas, bisa untuk mendirikan beberapa belas tenda kira kira. Saya agak bingung mencari jalur dari Pos 3 ini, untungnya ada sebuah tenda yang di dalamnya terdengar beberapa abege sedang mengobrol. Mungkin mereka tidak menyadari keberadaan saya. Begini kira kira obrolannya:

X: lu suka ya ama dia?
Y: ya gitu kali
X: ya anaknya asik sih

Eciyee asiknya anak muda. Sebenarnya saya penasaran mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut, tapi takut ketawan lagi nguping nanti mokal dan takut keburu sore juga, maka saya terpaksa memotong obrolan mereka

Saya: maaf mas, jalurnya ke atas mana ya?
Mas dalam tenda bergegas membuka pintu tenda sambil menjawab: itu mba, ke kiri aja, nanti ada jalurnya.
Saya: ooh ya ya, makasih ya mas. Masnya ga naik? Saya sedikit berakrab ria.
Mas mas: hehehe, nggak mba, lagi santai santai aja malam minggu… Mba sendirian?
Saya: ngga mas, temennya udah di depan, mari mas.. Makasih…

Pos 4: Pos Pemancar (Gunung Watu Tulis) si Pemberi Harapan Palsu

Perjalanan ke pos 4 ternyata adalah ujian yang lebih berat. Sama seperti kehidupan, kadangkala kita merasa ujian yang sedang kita hadapi terasa berat sekali. Padahal siapa yang sangka, ternyata di depan sana ujiannya masih jauh lebih berat. Duile curcol. Mangkanya, jangan terlalu lebay ketika menghadapi ujian yang dianggap berat. Santai aja. Hahaha. Jalani dengan penuh sukacita, berfikir bahwa semua ini pasti kecil kok pada waktunya. Seperti saya ketika menuliskan cerita ini. Perasaan enteng saja, padahal saat itu rasanya ngap ngap an dan mau berhenti terus. Perjalanan ke pos 4 benar benar menanjak dengan tanjakan yang membuat saya harus tertatih tatih merangkak. Ditambah debu karena musim kemarau, maka bandana atau buff untuk menutup hidung dan kacamata sangat diperlukan dalam pendakian ini. Saya gak bawa kacamata, jadinya musti sebentar sebentar memejamkan mata ketika ada angin yang meniupkan debu debu. Fiuh. Ya sebenernya sih…. merem sekalian curi curi waktu istirahat tuh… huhuy.

Namun perjalanan yang sulit sekalipun pasti ada akhirnya. Demikian pula perjalanan ke pos pemancar ini. Dengan susah payah dan segala daya upaya, saya berhasil mencapai rombongan. Sebenarnya pemancarnya sudah kelihatan sejak sejam yang lalu, entah mengapa rasanya nggak sampai sampai. Baiknya pos ini dinamakan juga pos Php (pemberi harapan palsu-bagi yang gak tau artinya), hehehe.

Jalur tanjakan berdebu yang harus saya daki menuju pos 4 Pemancar

Jalur tanjakan berdebu yang harus saya daki menuju pos 4 Pemancar (Foto oleh: Gigih Indra)

Di atas saya mendapati teman teman sudah makan makan snack sambil foto foto. Novia sudah tertidur pulas di bawah. Sepertinya sudah sejam lebih mereka menunggu saya. Kami pun berfoto foto sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke pos helipad untuk mendirikan tenda. Waktu ternyata sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih. Waw, ternyata dari pos 3 ke pos 4 memakan waktu hampir 2 jam lebih. Luar binasa. Ade menawarkan untuk membawakan barang saya yang berat. Jadilah Aqua 1,5 liter berpindah manis ke keril Ade. Hihihi. Makasih Ade.

Pose dulu meskipun capek di Pos 4

Pose dulu meskipun capek di Pos 4 (Foto oleh: Gigih Indra)

Tim ngebuts yang kece bersama satu bintang tamu :)

Tim ngebuts yang kece bersama satu bintang tamu 🙂 (Foto oleh: Gigih Indra)

Gigih memanjat pemancar sekitar 3 meter untuk mengambil foto ini

Gigih memanjat pemancar sekitar 3 meter untuk mengambil foto ini (Foto oleh: Gigih Indra)

Novia yang tertidur menunggu saya tiba

Novia yang tertidur menunggu saya tiba (Foto oleh: Gigih Indra)

Menuju pos helipad tidak terlalu jauh, hanya sedikit naik turun sekitar 15 menit, kami sudah tiba. Rombongan langsung mendirikan 2 buah tenda yang saling berhadapan, di area terbuka helipad. Entah apakah ini bekas helipad beneran atau bukan. Terdapat sebuah papan memoriam di sini.

Papan memoriam di pos helipad

Papan memoriam di pos helipad

Angin berhembus sangat kencang. Dingin dan membawa pasir. Kami tidak dapat mendirikan tenda di tempat lain, karena sudah penuh. Hanya ini satu satunya tempat. Tapi sunset terlihat indah dari sini, meskipun resikonya adalah badai angin yang kami hadapi di esok hari.

Setelah bersih bersih, solat, makan, dan bercanda canda alias ceng cengan, kami pun masuk ke dalam sleeping bag. Menunya soto ala chef Menwa dan Gita, dan mpek mpek ala chef Ghali. Menwa tuh keren loh. Jago masak, jago naik gunung, jago ngecengin orang… Wih, kurang apa coba?

Malam yang sangat dingin. Saya sudah memakai polar, jaket, kaos kaki, namun kedahsyatan dinginnya masih juga menembus tangan dan muka saya. Sangat dianjurkan untuk membawa sarung tangan dan penutup muka. Brrrrr…

Dan ternyata malam belum berakhir. Hingga tengah malam bahkan dini hari, dari dalam saya bisa mendengar suara pendaki yang lalu lalang. Entah mereka sengaja jalan malam atau gimana, tapi suaranya sangat mengganggu dan membuat saya malam itu sukses tidak bisa tidur pulas. Ditambah hembusan angin kencang yang menerpa tenda kami. Mata saya terpejam tapi suara bising tetap memenuhi kepala saya.

Camp kami di Pos Helipad. Di kejauhan terlihat pos Pemancar

Camp kami di Pos Helipad. Di kejauhan terlihat pos Pemancar

Minggu, 2 November 2014

Pagi dimulai jam 5. Solat subuh di dalam tenda, dan selanjutnya gabisa ngapa ngapain karena angin sangat kencang dan dingin. Sekalinya membuka tenda, pasir pasir halus berebutan masuk. Saya gak berani lama lama di luar. Padahal pengen ngapain gitu. Mejeng mejeng kek. Sampai akhirnya saya bilang ke teman teman bahwa angin semakin kencang dan flysheet sudah hampir terbang. Akhirnya tenda yang satu dipacking. Menwa dengan hebatnya masih bisa masak dalam kondisi badai angin+debu tersebut. Kami pun sarapan di dalam tenda disertai badai debu yang mengotori segala yang ada. Dan Ade pun lagi lagi menawarkan bantuannya, “keril gue kosong kok” jiyeeee. Saya ragu. Sebenarnya keril saya juga sudah kosong, tinggal sleeping bag, polar, baju ganti dan air 1,5 liter. Itu kan buat bekal di jalan. Tapi bantuan sayang kalau dilewatkan begitu saja. Saya tuang air secukupnya untuk di jalan, sisanya saya kasih Ade. Eh ujung ujungnya pada buat cuci muka. Zzzzzz.

Di dekat pos Helipad ini terdapat kawah Condrodimuko di bawah jalur pendakian. Konon dikeramatkan dan banyak terdapat sesaji. Terdapat 2 mata air di sana, air gunung yang segar, dan air belerang yang sepat.

Menuju Puncak!

Jam 9 kurang, saya mulai jalan menuju puncak. Sengaja saya jalan duluan, mungkin beda setengah jam, agar kelak tidak terlalu jauh tertinggal teman teman. Sudah bisa diduga, jalurnya lebih terjal dari yang kemarin, karena dari camp helipad tadi saya bisa melihat orang orang yang mau muncak seperti memanjat vertikal di jalur ini. Hmm… Okey.

Meski lebih terjal, tapi lebih banyak batuan, sehingga lebih memudahkan saya untuk menggapai langkah demi langkah. Meski tetap harus berhati hati, karena membawa keril dalam medan yang terjal seperti ini. Kebanyakan pendaki yang saya lihat muncak dari helipad, meninggalkan bawaan mereka dan ke atas dengan hanya berbekal minum dan tongsis. Tapi karena kami akan turun melalui jalur Selo, mau tidak mau barang harus dibawa. Dan seperti sudah saya duga, tak lama kemudian rombongan sudah berhasil menyusul saya. Luarrrr biasa. Tim ngebut beneran.

Jalur bebatuan terjal menuju puncak

Jalur bebatuan terjal menuju puncak (Foto oleh: Gigih Indra)

Saya melewati yang namanya Jembatan Setan, yang saya sendiri masih agak bingung mendeskripsikannya, yang manakah yang dimaksud jembatan.
Sebagian orang menganggap bahwa jalan setapak yang kiri dan kanannya jurang terjal itulah yang dinamakan jembatan setan. Karena jalannya harus hati hati, agar tidak tergelincir.
Kalau saya, bagi saya, jalur pas menuju puncak itulah yang mirip banget jembatan setan. Bayangkan saja, memanjat sambil bawa keril di tebing vertikal tanpa pakai pengaman! Dalem hati mungkin banyak orang membatin “setan nih jalur”.. Mangkanya namanya jembatan setan. Hihihi. Tapi serius ya, buat saya bagian yang ini memang benar benar gak safety, baiknya ditambah semacam pegangan entah besi atau tali statis yang ditambatkan di sana. Serem euy.

Jalur yang menurut saya benar benar nggak safety, apalagj sambil membawa keril

Jalur yang menurut saya benar benar nggak safety, apalagj sambil membawa keril

Setelah itu, sedikit memanjat lagi dan…. Akhirnya puncak Kenteng Songo (3.140 mdpl) tergapai sekitar jam 11 siang. Tuntas sudah peer untuk main ke halaman belakang rumah saya. Hahay.

Perjuangan menggapai puncak

Perjuangan menggapai puncak (Foto oleh: Gigih Indra)

Gunung Merbabu memiliki 3 puncak, puncak Syarif (3.120 mdpl), puncak Kenteng Songo (3.140 mdpl) dan puncak Triangulasi (3.142 mdpl). Di suatu pertigaan setelah panjat memanjat tadi, ke kiri akan membawa kita ke puncak Syarif, sedangkan ke kanan ke puncak Kenteng Songo.

Di atas puncak Kenteng Songo terdapat kenteng kenteng (tumbukan dari batu) yang jumlahnya kalau dihitung hanya 3, dan 1 terlempar agak jauh di turunan menuju Selo, bukan 9. Ada mitos yang mengatakan kalau yang 5 kenteng lagi hanya bisa terlihat oleh energi supranatural. Wih.
Dari puncak terlihat Gunung Merapi dengan jelas. Indah sekali. Pemandangan seperti inilah yang akan terekam dalam benak kita hingga tua nanti. Awesome. Memang, sesuatu yang indah dan luar biasa itu, tidak akan didapat dengan cuma cuma, ada harga yang mesti dibayar, penuh perjuangan dan pengorbanan 🙂
Kami pun berfoto foto sebentar, dan juga tak lupa merayakan ulang tahun Ghali dengan sebuah cupcake.
Happy birthday Ghali… All the best ya… 🙂
Kemudian bergegas turun.

Puncak Kenteng Songo (3.142 mdpl) horeeeeee

Puncak Kenteng Songo (3.142 mdpl) horeeeeee (Foto oleh: Gigih Indra)

Foto keluarga di puncak Kenteng Songo

Foto keluarga di puncak Kenteng Songo (Foto oleh: Gigih Indra)

Selamat ulang tahun Ghali

Selamat ulang tahun Ghali

Kenteng kenteng di atas puncak. Banyak sesaji yang diletakkan masyarakat

Kenteng kenteng di atas puncak. Banyak sesaji yang diletakkan masyarakat

Gunung Merapi dari Puncak

Gunung Merapi dari Puncak

Turun Lewat Selo

Dari puncak Kenteng Songo, kami mengambil jalur Selo. Jalur ini terkenal dengan padang sabananya yang indah.
Dan disinilah juga penderitaan kaki saya dimulai.
Waktu turun kemarin, kami harus melewati turunan demi turunan yang longsor dan berdebu. Butuh usaha keras, dan kalau saya, butuh kaki cadangan.
Kalau kata Gigih, jalurnya lagi rusak karena kemarau. Jadi kesannya susaaah banget. Ah masa iya sih Gih, mungkin dia cuma mau menghibur saya. Track record pendakian gunung saya memang buruk. Baru gunung Gede, Pangrango dan Salak yang pernah saya sambangi. Itupun, 2x turun lewat Cibodas, saya harus tertatih tatih dan tiba paling belakang di antara rombongan. Pernah Juferdy yang menemani perjalanan turun saya tahun 2005. Terima kasih ya Ju.
Tapi kenapa ya, saya mau tulis penderitaan kok rasa rasanya sekarang sudah lupa dan mau naik lagi. Hahaha. Padahal cuma nyusah nyusahin orang yaaa.
Jalur Selo memang top lah. Tapi ingat, lebih baik tidak naik lewat sini. Dari pos 3 ke puncaknya widiiiih… Bisa bisa ga kuat iman dan turun lagi wkwkwk. Mending lewat Cunthel deh kalau naik.
Base campnya memang lebih luas dan indah, meski anginnya sama kencangnya dengan di helipad. Padang sabananya baguuus… Bisa untuk guling guling ala film India. Sayang, saat melewatinya saya sedang sendirin menenteng sepatu sambil berjalan beralaskan kaos kaki tertatih mengejar rombongan. Hihihi. Malu maluin ya… Maafkan aku ya teman temaaaaan…. Dari puncak ke pos 3 lalu ke pos 2 jangan tanya tanya deh, dijamin kume saya masih longsor selongsor jalurnya wkwkwk. Nah, dari pos 2 ke pos 1 sudah lumayan nemu jalan datar sedikit. Apalagi waktu mau sampe pos 1, wah, nemu Gigih! Hehehe. Saya sudah menolak dibawain kerilnya sebenernya, tapi beliau nampaknya doyan tuh bawa keril sambil lari lari, yowes saya kasih deh si Tempest. Saya dibekali sebotol Pocari sama Gigih. Tak lama kemudian, Gigih sudah menghilang di kejauhan. Dasar anak muda. Hehehe. Saya pun meneruskan langkah sambil senyum senyum sendiri. Yaelah, ampe direscue gitu. Lucu amat sih. Ada ada aja. Dan baik banget siiiih :D. Untung udah jauh lebih senior, jadi bisa pakai alesan umur dong… Wkwkwk.

Tim bersiap turun dari jalur Selo. Saya masih bisa berfoto bersama di awal awal. Hehehe.

Tim bersiap turun dari jalur Selo. Saya masih bisa berfoto bersama di awal awal. Hehehe. (Foto oleh: Gigih Indra)

Turunan tanah longsor yang harus saya lewati hingga Pos 3 Selo

Turunan tanah longsor yang harus saya lewati hingga Pos 3 Selo

Salah satu kenteng yang saya temui di jalur Selo

Salah satu kenteng yang saya temui di jalur Selo

Jadi akhirnya tibalah saya di Desa Selo sekitar jam 14.30. Rombongan sih sudah sampai dari jam 13.00. wekweeew… Kalo dihitung berarti mereka naik hanya 4 jam (sampai Pos Pemancar) + 2 jam (helipad-puncak Kenteng Songo) + 2 jam turun lewat Selo. Sadeeessss….
Menwa ama Gita udah cakep deh pokoknya. Maklum pengen ngeceng di kereta. Hihihi. Eh nggak ding, Menwa aja yang naik kereta, Gita katanya pengen sowan dulu ke rumah kerabat di Bandungan.
Saya males ah bersih bersih, nanti aja di Salatiga.
Dengan mobil APV carteran, keril keril dipacking dan kami berdelapan meninggalkan gunung Merbabu yang penuh pesona itu.

Apv carteran dari Selo menuju Semarang

Apv carteran dari Selo menuju Semarang

Selamat tinggal ya, mungkin kapan kapan saya datang lagi lewat jalur yang lain. Nyari korban lagi, siapa tau Gigih udah kapok hahahaha.
Bangga punya junior kece kece. Tanpa kalian, impian saya mendaki gunung di belakang rumah belum akan tercapai. Penghormatan tertinggi saya buat Gigih Indra, Ade Saptari, Hari Mugti, Novia Valentina, Ghali Zakaria, Menwa (Fitri Lestari ya namanya?) dan Gita Rinjani. Kalian kece bingiiitttssss. Naik turun gunung lari larian gitu. Ish, ngeri! Tetap berprestasi dan baik hati yah adek adek 🙂
Jayakan nama Mapala Ui di manapun kalian berada, dengan tetap menyayangi lingkungan dan tetap rendah hati. Iooooooo…..

Salatiga, 3 November 2014

Novia, Gita, Ghali, Menwa

Novia, Gita, Ghali, Menwa

Gigih, Ade, Hari, Saya

Gigih, Ade, Hari, Saya

Catatan Luweng Ombo (Yang Tersisa dari Ekspedisi Langit dan Bumi)

Tahun 2003, saya dan beberapa teman teman Bkp 2001 Mapala UI menyusun sebuah ekspedisi. Temanya adalah Ekspedisi Putri Langit dan Bumi, dimana kami akan melakukan pemanjatan tebing dan penelusuran gua di perut bumi. Namun sayang, ekspedisi tersebut gagal kami laksanakan karena faktor faktor tertentu yang biarlah menjadi pembelajaran bagi kami. Namun sebelum ekspedisi tersebut kami batalkan, kami sempat melakukan latihan lapangan telusur gua. Dan Luweng Ombo di Pacitan Jawa Timur adalah yang terpilih. Tulisan ini saya ambil dari blog M. Latief, salah satu anggota Mapala UI yang menuliskan kisah perjalanan telusur gua kami ke Luweng Ombo. Linknya bisa dibuka di sini


***********

Disekap udara lembab dan ancaman hilangnya suhu tubuh, enam caver putri Mapala UI sanggup menembus Luweng Ombo, Pacitan, hingga beratus-ratus meter. Nismadha, salah seorang anggota tim, menceritakan kisah mendebarkan itu khusus kepada MATRA.

Luweng Ombo menganga begitu lebar. Berada di tengah-tengah bukit kerontang Desa Klepu, kabupaten Donorojo, Pacitan, Jawa Timur, suasana di sekitarnya pun tampak lengang. Hanya sayup-sayup angin terdengar bertiup.

Cukup lama aku bergantung di tali dan memerhatikan sekelilingnya. Dan, yang terlihat di dasar gua sedalam 107 meter itu hanyalah kengerian. Hampir, tak satu pemandangan pun terlihat jelas.

Separuh wilayahnya terkungkung gelap, lantaran sinar matahari tak sanggup menyentuh seluruh permukaannya. Secara samar-samar, hunian dasarnya hanyalah rerumputan dan hutan semak.

Memang, sekilas tampak megah, mengingat lebar kelilingnya mencapai 50 meter. Tak pelak, butuh waktu semalam suntuk untuk merenungi keberanianku meluncur seorang diri ke dalam lubang gua vertikal ini.

Bukan apa-apa. Sebab, hanya percaya seratus persen pada tali berdiameter 10 milimeter, aku harus bergelantungan seorang diri di ketinggian seratus meter lebih. Sementara itu, tepat di bawahku, menganga “sumur raksasa” yang pekat, bersimbah misteri.

Tapi, dengan segumpal keyakinan, kubiarkan tanganku mengulurkan tali yang melilit di dalam bobin (alat untuk menuruni gua). Pelan-pelan, tubuhku mulai melaju turun.

Hanya sekian detik, jantungku seketika berdegup kencang. Entah mengapa, daya luncurku mendadak sangat cepat. “Sial! Ada apa dengan alat ini? Mengapa cepat sekali turunnya?” ucapku panik, melihat laju tali tanpa terkontrol.

Rupanya, ujung bobin tersangkut kuat di antara jangkar pengait tubuhku. Alhasil, tali terburai sangat cepat. Untunglah, aku cepat tanggap dan tak sempat membuyarkan konsentrasi. Padahal, peluh sudah menderas bercucuran, saking paniknya.

Dengan segenap ketenangan yang ada, pelan-pelan aku membetulkan posisi bobin. Satu masalah baru saja terlewatkan. Sejenak, aku bisa menarik napas lega.

Namun sayangnya, itu tak berlangsung lama. Tepat di pertengahan, di ketinggian sekitar 70 meter, tiba-tiba terjadi spinning rope. Yaitu, efek berputarnya tali akibat penjuntaian dari tempat tinggi lantaran terbebani oleh bobot tubuhku.

Akibatnya, bak sebuah gasing, tubuhku berputar-putar di tali, sangat cepat. Sementara itu, tak ada yang bisa mencegah laju meluncurku.

Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh. Seketika, kepala terasa pening dan perut mual tak keruan. Ingin rasanya kutumpahkan seluruh isinya.

Lama aku berjuang menghadapi kondisi tersebut. Sialnya, tak ada yang bisa kuperbuat, selain berusaha untuk tidak panik. “Semoga tidak pingsan sampai di bawah nanti,” gumamku, pasrah dengan mata terpejam.

Perlahan, angin lembah petang itu mulai bertiup. Kencang mengayun-ayunkan tubuhku yang semakin limbung ini terbenam di antara dalamnya kesenyapan dasar Luweng Ombo.

***

SEBETULNYA, cobaan mental di hari pertama itu sudah kuperhitungkan sebelumnya dengan masak-masak. Maklum, aku, Visna, Riri, Pare, Anne, dan Mira, yang tergabung dalam tim Ekspedisi Putri MAPALA UI ini telah merancang persiapannya secara khusus.

Kurang lebih tiga bulan, baik teknis, fisik, maupun mental kami digenjot habis-habisan. Praktis, tak ada aral merintangi hingga kami semua tetap sehat walafiat saat tiba di dasarnya.

Setelah semua anggota bergabung, strategi pun diatur sedemikian rupa. Sebagian membuat peta lorong di sebelah barat daya. Sementara, rekan lainnya sibuk mendokumentasikan ornamen dan mengadakan kontak radio dengan Opa David Teak di bagian base camp yang ada di atas mulut gua.

Baru beberapa langkah, pemandangan di sekitar dasar gua ini membuat kami terhenyak kagum. Ternyata, kondisi sesungguhnya dasar Luweng Ombo ini sangat jauh berbeda.

Penghuni dasarnya yang semula kukira rerumputan itu ternyata pepohonan rindang. Tingginya berkisar antara 1-5 meter. Uniknya, vegetasi tumbuhan tersebut sangat rapat, alhasil, seakan berada di dalam hutan tropis di pegunungan.

Dari situ tim bergerak menuju lorong utama. Berangsur-angsur, kondisi medannya berubah. Hampir di semua penjuru lorongnya terserak batu-batu sebesar rumah.

Akibatnya, pergerakan menjadi sulit. Selain ukurannya besar, batu-batu itu juga licin karena ditumbuhi lumut. Tak sedikit pula terdapat lorong yang bentuknya miring.

Penuh konsentrasi, satu per satu berhasil melewati medan tersebut. Namun, bukan berarti detak adrenalin sejenak berhenti berloncatan. Karena, lorong selanjutnya mengharuskan kami mengendap-endap, menembus lorong yang mulai berliku-liku dan tergenang air.

Belum lama cahaya kami menelusup jauh, langkah terpaksa harus dihentikan. Karena, tepat di depan kami berdiri, segugus rimestone pool terlihat begitu menakjubkan. Berkilatan, saat kristal yang melekati seluruh permukaannya disinari cahaya.

Sejenak, kubiarkan batinku riuh rendah melukiskan kekagumanku terhadap perhiasan alam gelap pekat ini. Heran sekaligus kagum, betapa di dalam bagian paling gelap bumi sekalipun, “Sang Maestro Alam” pun masih menyimpan satu hasil karyanya terindahnya.

Lama-kelamaan suasana berubah syahdu. Di tengah kesunyian itu, tak ada lagi yang terdengar, kecuali gemericik air yang mengaliri sekujur tubuh ornamen tersebut.

Sangat kontradiktif dengan buntut kemarau panjang di desa sekitar ini. Selama beberapa bulan terakhir, penduduk harus menempuh berkilo-kilo meter jalan gersang. Tak lain, demi beberapa liter air bersih. “Semoga kesulitan ini segera berakhir,” batinku, trenyuh.

Kiranya, langkahku semakin gontai saja menghadapi sensasi medan berlumpur selanjutnya di muka. Menunduk, merayap, dan basah kuyup menembus kubangan panjang berlumpur hingga sebatas lutut. Kadung kaki terbenam, jangan harap mudah dikeluarkan.

Kurang lebih dua jam kami benar-benar “berkubang” lumpur. Merayap, jalan jongkok, dan basah kuyup. Seakan tak henti, sebuah lorong anjlok ke bawah sudah menanti.

Berdasarkan perkiraan, kedalamannya sekitar 10 meter. Mau tak mau, tali harus kembali digunakan. Otomatis, butuh tenaga ekstra untuk memasang dan menuruni hingga dasarnya.

Tapi, untunglah rencana itu dibatalkan. Melihat anjloknya kondisi tubuh, mustahil kami bisa menembusnya. Misi pun tertunda sampai esok pagi.

***

PADA 1981 silam, almarhum Norman Edwin telah menjadi pionir di Luweng Ombo. Kala itu, seberkas cahaya yang dibawanya menerangi hampir semua lorong gua ini. Namun sampai sekarang, Luweng Ombo seolah tak berujung.

Hingga berselang dua hari ekspedisi ini berlangsung, kami memang telah membuktikannya. Semakin tembus jauh ke dalam, indahnya variasi ornamen Luweng Ombo kian mengobarkan semangat untuk menuntaskan misi ekspedisi yang mirip-mirip napak tilas perjalanan Norman Edwin dua puluh dua tahun silam tersebut.

Demi menyingkat waktu, tim merombak strategi perjalanan dengan Alpine Style. Dengan cara ini seluruh penelusur akan menginap di titik akhir pemetaan. Jadi, takkan merasa lelah lantaran bolak-balik ke titik semula di awal penelusuran sebelumnya.

Sayang, Riri menderita sakit dan terpaksa naik ke atas. Keputusan itu mutlak diambil, karena kondisinya sangat bertentangan dengan lembabnya suhu dalam gua yang terkadang malah minim oksigen. Fatal jika tetap nekat untuk menelusurinya.

Maka, jadilah kami bertiga yang akan menuntaskan misi ekspedisi ini. Dan sejak hari itu, kami merasakan “nikmatnya” menginap dalam gua.

Praktis, berhari-hari dalam pelukan gelap, kami hampir tak bisa membedakan antara pagi dan siang. Tak ada aktivitas normal seperti biasanya di rumah, karena pasokan cahaya hanya berasal dari cahaya karbit.

Namun, justru di situlah nikmatnya. Karena prinsip caver, jangan tinggalkan apa juga kecuali jejak kaki, selalu kami pegang teguh.

Sampah, bahkan kotoran bekas buang hajat sekalipun dibungkus rapi dalam kantong plastik. Semuanya wajib dibawa keluar begitu ekspedisi ini berakhir.

Toh, kewajiban itu tak menghalangi laju ekspedisi. Terbukti, di hari terakhir penelusuran lorong barat daya itu kami berhasil mengumpulkan 784 meter panjangnya peta gua ini.

Semakin jauh, Luweng Ombo memang seperti tak puasnya menyajikan keindahan dan misteri. Sepanjang jalan, kami selalu terpukau oleh kilatan-kilatan kristal flowstone, straw, atau pun gourdijn berukuran raksasa yang menghuninya.

Semua itu jadi semakin tampak indah, apalagi jika dinaungi aliran air. Fantastis, bak pancuran alam di “istana kegelapan” perut bumi. Karena itulah, tak ada penyesalan sama sekali, ketika seluruh tim terpaksa menyudahi ekspedisi karena terbatasnya waktu.

Di hari terakhir itu, langkah kami terhalang genangan air setinggi dada. Dasarnya berupa pasir yang sangat riskan untuk dilalui tanpa safety prosedur memadai.

Selain hanyut, risikonya bisa terserang hipotermia. Apalagi, kondisi tubuh sudah kepalang ambrol, lantaran setiap hari bertempur dengan suhu pengap dan basah kuyup. Sebab, kondisi inilah yang sangat merangsang timbulnya penyakit kehilangan suhu tubuh tersebut.

Nyawa hanya satu. Namun, kesempatan menelusuri ke Luweng Ombo masih beribu kali. Segudang misteri di dalamnya takkan habis untuk selalu disingkap.

Tentu saja. Karena, menjadi suatu hal paling menakjubkan bagi seorang penelusur gua, tatkala sinar lampu yang dibawanya itu menjadi sinar pertama yang menerangi keindahan di dalam perut bumi. Seperti kata Norman dua puluh dua tahun silam di kegelapan lorong luweng ini.

© Copyrights 2003 PT. Mitra Media Matra Jakarta

Kisah tambahan tentang perjalanan ini juga bisa dibaca di Sini

Video tentang perjalanan dapat dilihat di Sini

20140306-114257.jpg

20140306-114709.jpg

Bravo Tim Support!

Malam ini, tetiba ingin membahas mengenai tim support aka tim nonteknis dalam suatu ekspedisi… Apaan nih tiba tiba tim support segala?

Jadi tadi siang di salah satu grup whatsapp saya ada celetukan ekspedisi. Belum tahu sih lengkapnya gimana, wong saya tanya ekspedisi apaan belum ada yang menanggapi.. Hehe. Tapi berkat itu saya jadi punya inspirasi untuk menulis. Asek.

Ekspedisi yang dimaksud disini bukannya ekspedisi pengiriman barang barang itu ya, bukan. Bukan juga berkurangnya salah satu peserta Indonesian Idol…………
……………………………….
Eh, itu eliminasi ya? Jauh ya? Gapapa deh garing sedikit.. 😀
Ekspedisinya adalah Perjalanan yang dilakukan untuk tujuan tertentu, biasanya penjelajahan dan/atau penelitian (sumber: wikipedia). Ekspedisi ini acapkali berlangsung dalam durasi waktu yang cukup lama, kalau menurut kasarnya saya sih ya, paling sebentar 10 hari perjalanan lah, baru bisa dibilang ekspedisi.

Jaman saya muda dulu,……. aduh, gaenak banget bacanya. Ganti deh.

Jaman saya masih aktif berorganisasi dulu, saya dan teman teman sempat melaksanakan ekspedisi (latihan lapangan) telusur gua di Pacitan, Jawa Timur. Tepatnya pada tahun 2003. Nama guanya Luweng Ombo, dengan kedalaman vertikal sekitar 110 meter. Luweng ini menganga di tengah persawahan dengan diameter lubang atas hampir selebar lapangan bola. Nanti setibanya di dasar gua, akan ada 2 lorong besar yang saling berseberangan. Dua lorong ini sangat besar, jangan bayangkan lorong dalam jalan tol, lorong ini jauuuuh lebih besar. Di dalam lorongnya pun banyak terdapat bongkahan batu sebesar rumah. Dan itu langit lorongnya masih sangat tinggi. Aduh. Susah banget ya menjelaskannya. Semoga bisa dibayangkan.

Naaaaah. Tim kami terdiri dari 8 orang anggota Mapala UI dan 2 orang teman dari Mahipa Ponorogo. Dengan lokasi ekspedisi yang ekstrim seperti ini, sebenarnya jumlah tersebut dapat dikatakan sangat kurang. Karena dalam suatu penelurusan dan pemetaan gua, minimal ada 3 orang. Satu orang di depan sebagai leader bertugas mencari jalan dan membawa ujung tali meteran, yang kedua memegang ujung meteran dan orang ketiga bertugas mencatat angka angka hasil pengukuran gua dan menggambar sketsa lorong gua tampak depan dan tampak samping. Hal ini penting, sebagai dokumentasi dan sebagai pegangan agar tidak tersesat di dalam lorong gua yang berkelok kelok dan tentu saja gelap. Sempurnanya lagi, seharusnya ada 1 orang lagi yang bertugas mengambil gambar dengan leluasa, tanpa harus mengemban tanggung jawab lain. Itulah mengapa saya katakan jumlahnya sangat kurang. Karena gua yang besar dan durasi ekspedisi yang panjang, seharusnya jumlah atlit minimal 2 tim, sehingga dapat dilakukan pergantian shift dan penulusuran dapat berjalan efektif dan maksimal. Namun apa daya, karena ekspedisi ini adalah sampingan kami sebagai mahasiswa saat itu, maka hanya kami berdelapanlah yang akhirnya bisa berangkat ke Luweng Ombo. 4 Orang sebagai tim teknis yaitu Fadly, Visna, saya dan Riri, dan 4 lainnya sebagai tim non teknis atau support yaitu Daus, Mira, Anne dan Pare. Namun Pare di 2 hari terakhir sempat turun sebagai teknis menggantikan Riri yang kurang sehat. Sedangkan Mira dan Anne sejak awal memang saat itu sedang memiliki keadaan kesehatan yang kurang memungkinkan untuk turun. Padahal mereka berdua juga tidak diragukan ketangguhannya, namun kita tidak bisa mengambil resiko dalam medan yang ekstrim seperti ini. Sedangkan Daus memang total membantu dalam bidang komunikasi dan senyum senyum manis. Loh?

Saat itu, saya bersama teman teman teknis mulai masuk ke dalam gua dan berada di sana untuk 6 hari ke depan. Kami makan, tidur, dan buang air di bawah selama itu. Sekarang saya tidak akan membahas kami yang di bawah, tapi saya ingin mendedikasikan tulisan ini untuk teman teman support atau non teknis yang siap siaga di atas selama ekspedisi. Bravo! Standing applause untuk kalian.. Kalian lah yang sejatinya menerima penghargaan atas berjalannya ekspedisi ini.

Kenapa sih, tim support emangnya penting ya? Bukannya lebih keren atlit? Oit, jangan salah, tim support itu amat sangat berjasa dalam banyak hal. Iya, banyak hal. Selama kami di bawah, tim support lah yang selalu mengirimkan makanan untuk kami sehari hari. Bahkan support harus sudah mengirimkan paket untuk dua kali makan pada pagi hari, yaitu paket makan pagi dan makan siang, karena sangat tidak efektif kalau kami harus keluar lorong gua hanya untuk makan siang. Maka kami tim penelusur, saat masuk lorong sudah lengkap membawa perbekalan makan siang dan snack yang disediakan support. Bayangkan, kalau kami start penelusuran jam 7 pagi, jam berapakah support di atas sudah harus bangun memasak? Tim juga harus belanja sayuran di pasar dan memikirkan menu yang cukup kalori bagi kami untuk beraktifitas cukup berat. Harus putar otak juga dalam memvariasikan menu sehari harinya agar tidak bosan. Bagi yang budget ekspedisinya berlebih, mungkin bisa minta bantuan warga sekitar untuk memasak dalam partai besar. Bagi kami saat itu, semuanya serba penghematan. Hehe. Setelah dipacking makanannya, barang harus dihauling ke bawah dan memakan waktu sekitar 15 menit. Jadi, yes, hidup tim support!

Selain konsumsi, tugas lainnya tim support adalah komunikasi. Merekalah yang merelay berita kami dari bawah ke sekretariat di Depok. Kami menentukan waktu waktu untuk berkomunikasi, dan kemudian tim support akan menyampaikannya ke Depok. Kalau kami kenapa kenapa di bawah (alhamdulillah nggak kenapa kenapa saat itu), siapakah yang akan paling repot? Jawabannya: tim support. Kami sih yang di bawah tinggal menunggu helikopter dan tim rescue saja. Hehe.

Menjadi tim support adalah tantangan yang menyenangkan sebenarnya. Salah satu fungsi lagi dalam tim ini adalah sebagai Camp Manager. Yes, bukan cuma rumah yang perlu didekorasi dengan indah. Namun tenda dan seisinya pun harus diatur sedemikian rupa sehingga kami betah dan nyaman menempatinya selama jangka waktu yang cukup panjang tersebut. Letak dapur, tenda alat, tenda makanan, dan jemuran baju diatur seindah dan setertata mungkin (setertata?!?!?!?) saat itu. Apalagi barang barang dan peralatan yang segambreng sudah bisa dipastikan berantakan dimana mana bila tidak dirapikan dengan baik. Belum lagi akan adanya jemuran pakaian dalam yang berseliweran, fiuh. Di sanalah teruji kehandalan seorang camp manager dalam mengatur base camp, agar terlihat indah, rapi dan nyaman di tengah persawahan kering tersebut. Wuhuw.

Yang patut dibanggakan lagi dari tim support adalah kesabaran mereka. Siapa sih yang nggak bosan selama 6 hari di atas gua? Dan tau dong ya cuaca di sekitar batuan karst seperti apa panasnya. Hehe. Jemuran kering deh pokoknya. Bukan hanya jemuran sih, mungkin hatinya ikut kering karena kangen sama yang di Depok… Haiyaaaaa 😀

Masih banyak tugas tim support yang tidak saya jabarkan di sini. Maka, saya salut sekali kepada teman teman saya saat itu, Mira, Anne, Pare, dan Daus yang bersedia menjadi tim support. Berkat merekalah, kami bisa selamat lagi sampai di atas. Izinkan saya, dalam tulisan ini melakukan penghormatan dan terima kasih sebesar besarnya terhadap teman teman semua.. Tim support bukanlah terdiri dari orang orang lemah yang tidak mampu menjadi atlit, sama sekali bukan. Support dan atlit sama pentingnya. Bahkan menjadi otak atlit saat otak atlit sudah kejepit otot. Hahaha. Suatu ekspedisi, meskipun memiliki 100 orang atlit handal, tidak akan dapat berjalan tanpa adanya seorang tim support. Bagaimana menyatukan kedua tim agar dapat bekerja harmonis dan sinergis, akan menentukan keberhasilan suatu ekspedisi. Iya apa iya? Sekali lagi, bravo tim support!

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

Foto diambil dari film yang dibuat oleh Asmar Yadri

P.s. foto Pare belum saya tampilkan karena saat itu yang bersangkutan belum berhijab, nanti saya carikan foto yang baru 🙂

P.s. lagi: tidak lupa terima kasih yang sebesar besarnya untuk Opa David Teak yang berjasa besar dalam mengajarkan kami tentang radio komunikasi, almarhum bang Ian yang menampung kami di Madiun, Sunkid di Madiun dan teman teman Mahipa di Ponorogo, terutama Mas Taufik, Mas Melon, Mas Slamet dan lainnya yang kepanjangan disebutkan di sini. Rocks banget semuanya!

Salatiga, 28 Februari 2014
Ditemani The Best of Cranberries

Menyembah Dewa Matahari di Ujung Kulon

Cerita lawas dari tahun 2003… Sudah hampir putus asa mencari tulisan ini karena dulu terbitnya di mapalaui.info yang kini sudah tidak aktif lagi. Ternyataaaaa setelah digoogle… Ada orang yang baik hati (entah siapa) yang sudah mengcopy tulisan ini di blognya. Alhamdulillah ketemu…. Karena perjalanan ini bersejarah sekali buat saya. Bersyukur dulu gak malas untuk menulis jurnal singkatnya selepas perjalanan. Karena setelah 11 tahun berlalu, wow, tulisan ini menjadi begitu berharga, terutama buat saya 🙂
Hanya satu, gak ada fotonyaaaaaa…
Tapi anyway, selamat membaca!!

Katanya kalau kita ke Ujung Kulon, maka kita akan menyembah Dewa Matahari. Awalnya saya bingung tetapi setelah mengalami perjalanan 19 km yang ditempuh selama 5 jam menyusuri pantai berpasir putih ditemani matahari, matahari dan hanya matahari barulah saya mengerti apa maksud pernyataan itu.

Mari kita mulai cerita yang cukup panjang ini…..

Rombongan Mahasiswa FISIP UI kerap membuat acara jalan-jalan ke Ujung Kulon. Bersama dengan beberapa teman dari Mapala UI (Biji, Tajid, Tegar dan Dodot) saya ikut dalam perjalanan mereka kali ini. Rombongan anak FISIP sendiri berjumlah 15 orang.

Perjalanan ini kami mulai pada tanggal 2 Agustus 2003. Rombongan berangkat dari Depok langsung dengan target Desa Taman Jaya. Desa Taman Jaya merupakan salah satu pintu masuk ke Taman Nasional Ujung Kulon. Perjalanan hari pertama ini memakan waktu sekitar 10 jam dengan melewati Propinsi Banten dari ujung Timur sampai ke ujung Barat.

Kami tiba di Labuan setelah lebih kurang 3 jam berada dalam bis yang mengangkut kami dari Kalideres, rasa penat belum hilang tetapi kami harus segera melanjutkan perjalanan dengan mobil jenis L 300 yang kami carter.

Malam ini kami bermalam di Guest House di Desa Taman Jaya. Kondisi Guest House tempat kami bermalam amat memprihatinkan karena dinding, atap dan lantai kayu mulai jebol di beberapa tempat. Guest House ini juga menyediakan seekor kodok yang menjadi teman kami mengisi malam yang sunyi.

Angin laut dan bintang-bintang di langit menemani kami makan malam. Janji keindahan alam yang akan kami jumpai esok hari membuat kami tak sabar menunggu perjalanan esok hari.
Wow…hari pertama saja sudah begini…

Karang Ranjang menjadi target kami di hari kedua perjalanan. Perkiraan jarak dari Taman Jaya ke Karang Ranjang sekitar 8 km. Rute perjalanan kami melewati sawah, desa, hutan bakau dan hutan kayu. Medan yang relatif datar membuat perjalanan ini tidak terlalu sulit walaupun beban di ransel masih sangat berat.

Pos Karang Ranjang terletak tidak jauh dari pantai, kondisi pos agak kotor tetapi secara umum masih bagus. Sore harinya kami sempat menyaksikan sunset. Tentu saja momen indah ini tidak kami lewatkan begitu saja. Matahari yang tenggelam sedikit demi sedikit di ujung laut, terlihat bagaikan seorang puteri jingga yang malu dan harus segera kembali tidur.

Setelah terpesona oleh keindahan sunset sore itu, kami segera kembali ke basecamp untuk menyiapkan makan malam. Hari ini jumlah rombongan bertambah satu orang yang menjadi guide sekaligus porter kami. Pak Mista menjadi anggota keluarga besar kami mulai dari Karang Ranjang.

Salah satu keuntungan dari jalan-jalan di Ujung Kulon ini adalah tersedianya sumber air tawar di tiap pos pemberhetian (kalo tidak sedang kering tentunya) di Pos Karang Ranjang terdapat sebuah sumur kecil dan tempat mandi yang lumayan nyaman.

Hari ketiga yaitu rute dari Karang Ranjang menuju ke Cibunar dan ini merupakan hari paling bersejarah sepanjang karir jalan-jalan saya. Awal perjalanan dari Karang Ranjang sampai di Cibandawoh kami melewati hutan di atas tebing dengan pemandangan laut di kejauhan. Keluar dari hutan, kami langsung berjalan di pasir pantai yang lembut menuju ke Pos Cibandawoh untuk makan siang.

Perjalanan lintas pantai ini baru terasa ketika kami mulai perjalanan dari Cibandawoh menuju ke Cibunar. Kami harus berjalan di atas pasir lembut yang masuk sampai 5 cm kalau diinjak, sehingga dibutuhkan tenaga ekstra untuk mengangkat kaki lagi. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya pantai, pantai dan pantai. Rencana perjalanan kita hari ini adalah menyusuri pantai sampai di Citandahan kemudian baru berjalan dipadang rumput menuju ke Cibunar.

Kondisi pasir pantai yang menghisap tenaga, panas yang melelehkan kepala dan target yang tak pernah kelihatan sempat membuat saya drop dan berjalan ketinggalan jauh di belakang rombongan.

Ketika pasir pantai telah terganti dengan padang rumput mulai dari Citandahan saya merasa lega karena sebentar lagi kami akan tiba di Cibunar. Ternyata, padang rumput tersebut juga tidak berakhir setelah kami jalani selama 2 jam Perasaan sebal, cape, bosan, dan ingin marah bercampur menjadi satu saat itu. Tetapi akhirnya saya sampai di rumah peristirahatan Cibunar yang bentuknya sudah tidak karuan lagi.

Untungnya, di depan rumah tersebut terbentang Samudera Hindia yang indah lengkap dengan karang-karang hitamnya yang menonjol. Karang-karang tersebut menghasilkan deburan ombak dengan buih-buih putih di sekitarnya. Muara Sungai Cibunar terdapat di sisi Timur Pos Cibunar . Muara sungai Cibunar dapat mengobati rasa lelah kami karena keesokan harinya kami dapat mandi dan berenang sepuasnya. Hari keempat di Cibunar, kami manfaatkan sebaik-baiknya dengan istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk perjalanan berikutnya. Selain hari recovery tenaga, hari itu juga merupakan hari pengobatan untuk jari-jari beberapa orang yang bejendol berisi air ataupun lecet-lecet. Tentu saja dengan jasa baik jarum ,alcohol, plester, kain kassa dan betadin.

Pengalaman di hari ketiga membuat saya bersiap-siap untuk keadaan yang mungkin saja lebih buruk lagi pada perjalanan esok harinya. Karena itu, saat makan malam saya mempersiapkan mental dengan membuka peta dan menghitung jarak yang akan kami tempuh besok. Menu malam itu special, karena kami menyantap spagethi lengkap dengan saus dan roti perancisnya mmm….. Untung ada koki dalam kelompok ini.

Esok pagi kami akan menuju ke Sang Hyang Sirah, tempat paling ujung di sebelah Barat Laut pulau Jawa. Menuju ke Sang Hyang Sirah, kami harus melewati Gunung Payung ( 491 m), dari peta yang saya pegang terbayang kondisi jalur besok akan banyak tanjakan dan turunan yang asoy.

Esoknya hari kelima perjalanan kami memulai mendaki Gunung Payung dari belakang Pos Cibunar. Suguhan awal sudah sangat menantang, beberapa anggota rombongan bahkan ada yang memaki-maki tanjakan untuk melampiaskan rasa kesalnya. Selain itu banyak anggota rombongan yang merenung lagi sepanjang jalan, mengapa harus mengikuti perjalanan ini?

Tetapi tak disangka, perjalanan ke puncak gunung Payung dapat diselesaikan dalam waktu hanya 2 jam oleh orang yang pertama tiba di puncak. Ujian yang sebenarnya adalah ketika menuruni gunung tersebut, karena kita harus benar-benar sabar ketika menghadapi kenyataan bahwa jalurnya masih juga naik turun meskipun judulnya turun gunung. Selain masih adanya tanjakan curam juga mulai disediakan turunan yang bisa dibilang najis tralala. Ketika naik saya bisa full speed karena ransel saya banyak yang “dicolong” isinya oleh kakak kakak Tegar dan Tajid yang baik hati, tetapi ketika melihat turunan itu, saya langsung drop. Anak tangga turunan sepanjang 20 meter ke depan bisa dilihat selisih satu meter tiap anak tangganya. Untung saat itu bukan musim hujan, sehingga jalur tidak terlalu licin. Siapapun kemudian mengakui, bahwa turunan tersebut memang jahanam.

Stamina pun sudah menurun setelah seharian naik turun gunung.
Setelah mengalami turunan yang ajaib itu, sampailah kami di Sang Hyang Sirah. Sang Hyang Sirah merupakan tempat berziarah bagi sekelompok orang yang percaya bahwa di tempat itu dimakamkan kepala Prabu Siliwangi.

Dekat camp kami terdapat sebuah gua yang di dalamnya ada tumpukan batu-batu yang menyerupai makam di sinilah biasanya orang bersemedi dan memanjatkan doa-doa. Lebih masuk lagi ke dalam gua maka terdapat sebuah telaga berwarna hijau.

Tegar adalah orang pertama yang sampai di Sang Hyang Sirah dan dia pula yang pertama masuk ke dalam gua tersebut. Ketika sedang melihat-lihat isi gua dia dikagetkan karena ada suara orang yang mendehem ternyata ada orang yang sedang bersemedi. Orang itu berperawakan kurus, berambut gondrong keriting dan berbaju hitam telah 2 bulan berada di Sang Hyang Sirah. Waktu saya mencoba masuk ke dalam gua, suasana mistis sangat terasa.

Untung saat itu saya ditemani Pak Mista yang mengajak ngobrol orang yang sedang semedi itu.
Di luar gua, tak jauh dari base camp kami, terdapat sumber air tawar yang tertampung dalam sebuah kolam kecil. Pemandangan dari base camp sangat indah, kami berada di sebuah ceruk dengan Samudera Hindia yang terbentang di hadapan kami. Di hadapan kami terdapat sebuah batu yang bentuknya menyerupai seekor gorilla dengan mulut tergangga. Ketika sunset tiba maka gambaran Gorilla yang menelan matahari dapat dengan jelas terlihat. Ombak yang menghantam karang-karang sangat ganas, tingginya mencapai 5 meteran. Kita harus berhati-hati kalau ingin sejenak berjalan-jalan di atas karang di tepi pantai. Suasana malam ini terasa sangat aneh, karena tiba-tiba saja datang rombongan penziarah yang jumlahnya lebih dari 10 orang yang melakukan pengajian di depan mulut gua.

Esoknya kami makan Escargot (semacam siput laut) yang berhasil kami kumpulkan. Escargot itu kami oleh menjadi semur yang lezat malam harinya. Satu kelebihan tempat ini lagi, di dekat base camp terdapat sebuah sungai yang ujungnya membentuk semacam spa alam selebar 5 meter. Disinilah kami bermandi-mandi ria. It just so beautiful !

Hari ini adalah hari ketujuh perjalanan dan perjuangan belum selesai. Target kami hari ini adalah Tanjung Layar yang terdapat Mercu Suar milik Departemen Perhubungan. Sebelum ke Tanjung Layar, kami singgah sebentar di Cibom. Di sini terdapat pos untuk beristirahat dan papan-papan informasi yang berisi sejarah Cibom-Tanjung Layar. Disana tertulis bahwa pada tahun 1808 pemerintah Hindia Belanda sempat ingin menjadikan Cibom sebagai sebuah pelabuhan laut. Namun, karena para pekerjanya banyak yang sakit-sakitan dan akhirnya meninggal, maka banyak yang melarikan diri dari tempat itu, sehingga pembangunannya tidak pernah terselesaikan. Sedangkan Tanjung Layar saat itu merupakan penjara bajak laut yang membantu sultan. Diperkirakan, saat itu pulalah mercu suar yang pertama dibangun. Mercusuar yang kedua hancur akibat letusan Krakatau tahun 1883, dan mercu suar yang ketiga adalah yang masih berdiri sampai sekarang. Di pantai Cibom ini kami masih bisa melihat bekas tanggul-tanggul dermaga.

Di perjalanan menuju Tanjung Layar, saya sedikit ngeri karena terbawa sejarah tempat ini yang baru saya baca. Meski jaraknya tidak terlalu jauh –hanya 15 menit jalan kaki- , namun seolah jalan setapak itu tidak berujung, apalagi saat itu saya sendirian. Lorong dari batang pohon yang menakjubkan tidak berhasil memperlambat langkah kaki saya untuk segera tiba di kantor mercu suar. Saya agak lega ketika bangunan mercu sura sudah terlihat, di sebelah kanan jalan setapak yang saya lalui terhampar kuburan dan sumur tua yang umurnya sama dengan mercusuar pertama. Hari sudah sangat senja, suasana semakin mencekam, setengah berlari saya menuju rombongan yang sudah tiba duluan. Meski sedikit berkeringat dingin, setibanya di kantor saya langsung melepas ransel dan langsung menaiki mercusuar setinggi 30 meter. Dari atas mercusuar, pemandangan benar-benar indah. Kita bisa melihat reruntuhan mercusuar yang pertama di sebelah Utara, dan sisanya adalah hutan hijau, pantai karang dan laut biru nan luas. Indah sekali. Angin pantai yang sangat dingin di senja ini tidak mampu mengusir saya untuk segera turun , saya tunggu sampai sunset berlalu.
Pada saat kami tiba, Mercusuar dijaga oleh dua orang pegawai Departemen Perhubungan yaitu Pak Suwarno dan Pak Suharno. Terbayang beratnya tugas yang mereka pikul, jauh dari keluarga di tempat terpencil.

Malamnya kami pesta gule kambing. Di perjalanan tadi, teman-teman menemukan seekor kambing hitam di hutan. Diduga kambing tersebut adalah kambing seserahan yang dilepas para penyemedi. Nahas nasib kambing itu bertemu dengan kami. Entah karena stres tingkat tinggi atau faktor persediaan makanan yang menipis, teman-teman semua rela bergantian menuntun kambing tersebut dari hutan sampai ke mercu suar.

Esoknya kami menuju tempat peristirahatan terakhir di wilayah Ujung Kulon, yaitu pulau Peucang. Kami berjalan kembali menuju Cibom kemudian meneruskan perjalanan menuju ke Cidaon. Sebelum menyeberang ke Pulau Peucang , kami harus mengibarkan bendera kepada petugas resort di Peucang minta dijemput dengan kapal.

Bayangan tentang pulau Peucang dengan sebuah resort yang sangat nyaman, harus melayang ketika kami menjejakkan kaki di pulau tersebut dan mendapatkan bahwa, “God, this resort needs help?. Resort yang mungkin beberapa tahun yang lalu masih sebagus di brosur, kini terlihat usang termakan usia, tidak terawat dan menyedihkan. Itulah kesan pertama yang muncul di benak kami ketika melihat barak tempat kami menginap malam itu. Monyet-monyet dan menjangan yang kelaparan berkeliaran di sekitar barak.
Untunglah lagi-lagi keindahan alam menjadi pengobat rasa lelah yang telah menderu 8 hari ini. Pulau Peucang dengan dermaga dan pasir putihnya yang begitu halus, menjadi saksi bisu betapa kami lega telah dengan selamat menyelesaikan perjalanan yang panjang ini. Indahnya pemandangan laut dari dermaga di malam hari, membuat beberapa anggota rombongan sempat berfikir untuk membawa pasangannya sekali-kali kesini. Ditambah lagi suhunya yang dingin dan langitnya yang hitam kelam bertaburan bintang, membuat suasana romantis semakin tercipta.

Jalan-jalan ke Ujung Kulon memang menyenangkan dan tak terlupakan dengan segala keindahan alamnya yang terpampang walaupun itu semua harus ditebus dengan perjuangan berat.
Esok pagi, kami semua harus kembali ke kehidupan nyata. Ke kantor, ke kampus, ke organisasi, ke kantin. Nongkrong bersama teman-teman sudah kami rindukan meskipun memang terkadang menjemukan. Rutinitas harus kembali dijalani demi menyambung hidup. Selamat tinggal Ujung Kulon, selamat tinggal badak bercula satu yang tidak pernah kami jumpai, selamat tinggal mercu suar, selamat tinggal pasir putih, selamat tinggal dewa matahari…