Uncategorized

I’tikaf Bersama Anak: Repotkah?

Rasa-rasanya ini kali pertama saya i’tikaf setelah beberapa belas tahun lamanya. Kemana aja saya? Tapi Alhamdulillah masih diberi kesadaran untuk mencoba memperbaiki diri di momen-momen penghujung Ramadhan tahun ini. 

Mulanya agak ragu karena takut repot membawa 2 anak kecil. Namun setelah dijalani, ternyata tidak serepot yang dibayangkan. Rayan (9 tahun) sudah bisa dilepas sendiri (bersama sepupunya) di bagian laki-laki. Dan Raras (4 tahun) bisa tidur dengan nyenyak sampai habis subuh. 


Tapi jangan lupa untuk memperhatikan beberapa hal dan mempersiapkan beberapa perlengkapan berikut bagi yang ingin membawa anak kecil saat i’tikaf.

Berikut beberapa tips dari saya:

1. Datanglah lebih awal ke mesjid yang ingin dituju untuk i’tikaf. Kalau bisa, ikut solat taraweh di sana agar bisa mendapatkan posisi yang nyaman untuk tempat tidur anak-anak. Posisi yang nyaman menurut saya, tidak terlalu jauh dari kamar mandi, di shaf paling belakang dekat pintu masuk, dan bisa berdampingan dengan bagian anak laki-laki. Karena kalau di shaf depan, pastinya akan mengganggu pelaksanaan qiyamul lail malam nanti. Saat anak-anak masih tertidur nyenyak, kita harus menggeser-geser mereka.

2. Bawalah alas tidur yang cukup empuk bagi anak-anak. Tidak harus berupa kasur, agar efektif cukuplah membawa selimut tebal atau bedcover sebagai alas. Dan selimut tipis sebagai selimut (tergantung tingkat dingin atau tidaknya masjid).


3. Bawalah air mineral yang cukup. Meskipun disediakan air mineral di masjid, namun alangkah baiknya kita membawa persiapan sendiri karena peserta i’tikaf yang cukup banyak. Jangan lupa bawa asupan susu kotak.

4. Bawalah makan sahur yang mudah penyajiannya. Biasanya memang ada panitia yang menyiapkan kupon sahur, tapi dikhawatirkan menu yang disediakan tidak sesuai dengan lidah anak-anak. Bisa jadi pedas, atau bisa pula tidak kebagian kupon. Kalau saya cukup membawa nasi dan chicken nugget untuk Rayan. Alhamdulillah cukup. Juga bawa kurma. 

5. Sebelum berangkat, jangan lupa tanyakan pada anak apakah ada yang mau ke kamar mandi.

6. Untuk keamanan, kita yang dewasa bisa memakai tas pinggang atau tas selempang untuk menyimpan dompet dan hp. Tadinya saya juga malas membawa hp, tapi gimana kan harus pakai alarm untuk bangun malamnya, takutnya ga kebangun. Dengan adanya tas kecil ini, akan memudahkan pergerakan ketika harus ke kamar mandi dan ketika solat, tidak harus menenteng-nenteng tas besar. Repot banget.

Kalau yang ini saya salin dari grup whatsapp muslimah Salatiga, dari Ust. Ahmad Zainuddin:

قال ابن رجب رحمه الله تعالى : 

يا عباد الله إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

Berkata Ibnu Rajab rahimahullah : “Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa saja yang sudah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menyudahinya dengan yang terbaik”      

قال ابن الجوزي رحمه الله :

إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع…

Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah berkata :  “Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish ia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, maka jangan sampai kuda lebih cerdas darimu.. Karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.. Untuk itu, jika kamu termasuk dari yang tidak baik dalam penyambutan, maka semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan”             

وقال ابن تيمية رحمه الله :

العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات.

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Yang akan menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal, dan bukan buruknya permulaan…”             

وقال الحسن البصري رحمه الله :

أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله…

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata : “Perbaiki apa yang tersisa bagimu, maka Allah akan mengampuni atas apa yang telah lalu, maka manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih”       

Yaa Allah jadikanlah sebaik-baik amalanku adalah pada penutupannya.

  بارك اللّٰه فيكم وتقبل الله منا ومنكم

Selamat menikmati hidangan Allah Ta’ala yg terbaik di “Malam 10 hari terakhir” semoga Allah takdirkan keberuntungan di akhir perjalanan.

Taqobbalallaahu minna waminkum

Taqobbal yaa kariim

Semoga tulisan ini bermanfaat yaa 🙂
Depok, 30 Juni 2016

Suatu Hari Ketika Membuat Paspor

Namanya Ibu. Tidur paling malam, bangun paling pagi. Demikian pun hari ini. Bangun jam 04.30, dengan harapan dapat berangkat ke Semarang jam 6 pagi. Namun takdir berkata lain. Ya gitu deh. Namanya juga punya anak bocah 2 orang, yang harusnya 10 menit jadi sejam, yang harusnya sejam jadi 2 jam. Baru siap berangkat jam 7 kurang sedikit. Terima dan hadapilah.

Rombongan Salatiga mulai menyusuri jalanan bersama orang orang yang berangkat kerja dan anak anak yang menuju sekolah. Jalanan ramai lancar seperti biasa. Kami masuk tol dan Ayah mulai mencari alamat kantor imigrasi di Google map.

Hari ini, setelah usia menginjak ke-33, akhirnya saya bikin paspor. Segala puji bagi Allah. Tinggal perginya aja nih gatau ke mana. Hahaha. Anak anak saya lebih beruntung sepertinya, bisa membuat paspor di usia 8 dan 3 tahun. Semoga mereka ada rezeki untuk berkeliling dunia.

Seminggu sebelumnya, sudah pasti saya melakukan pengumpulan informasi melalui google. Tentang bagaimana cara membuatnya, di mana, perayaratannya, biayanya, dan lain sebagainya. Saya rasa kita beruntung sekali tinggal di era teknologi internet seperti ini. Mau cari informasi apa saja, ga perlu telepon atau cari buku yellow pages. Cukup duduk di sofa pakai daster dan pegang hp. Sambil sesekali nyuapin Raras yang makannya super lama (selalu ada bagian curhatnya, jangan bosan ya hehe).
Karena saya tinggal di Salatiga, saya harus membuat paspor di Kantor imigrasi Semarang yang beralamat di Jl. Siliwangi No.514 dengan alamat website http://semarang.imigrasi.go.id/
Kita bisa membuat paspor di kantor imigrasi manapun yang terdekat dengan tempat tinggal kita, tapi nanti alamat yang tercetak di paspor akan sesuai dengan alamat Ktp.

Beberapa blog yang sangat membantu saya di antaranya:

https://www.maxmanroe.com/cara-membuat-paspor-online-daftar-paspor-online-lebih-mudah.html

https://korhejdalle.wordpress.com/2014/02/28/cara-pembuatan-paspor-anak-dan-bayi-secara-online/

Dari hasil baca baca, saya putuskan akan melakukan pembuatan paspor secara online. Keuntungan membuat paspor secara online adalah, kita hanya perlu datang 2x ke kantor imigrasi. Yang pertama untuk foto dan wawancara, yang kedua untuk mengambil paspor yang sudah jadi. Kalau lewat offline atau daftar manual, kita harus datang 3x. Melalui pertimbangan emak emak rempong masa kini seperti saya, maka online merupakan pilihan yang terbaik.

Baiklah mari kita mulai tahapan pembuatan paspor secara online ini.

1. Buka alamat website http://semarang.imigrasi.go.id/ atau http://www.imigrasi.go.id/ atau langsung ke https://ipass.imigrasi.go.id:8443/xpasinet/faces/InetMenu.jsp

2. Pilih Layanan Paspor Online, biasanya ada kolomnya di halaman muka web.

3. Pilih Pra Permohonan Proposal

4. Kita masuk ke halaman Input Data Pemohon. Silakan masukkan data sejujur jujurnya agar tidak dosa dan tidak kena denda 500 juta.
Untuk Jenis permohonan pilih paspor biasa.
Untuk Jenis paspor pilih 48H Perorangan, maksudnya adalah paspor 48 halaman. Untuk yang 24 halaman belum tersedia layanan onlinenya.
Untuk lokasi kantor imigrasi: silakan cari lokasi yang dipilih.
Untuk alamat email, apabila membuat permohonan 3 paspor, maka siapkan 3 alamat email yang berbeda, karena 1 pemohon tidak bisa memiliki alamat email yang sama dengan pemohon lainnya. Bisa pakai email suami atau saudara asalkan emailnya masih aktif.
Untuk pekerjaan ibu rumah tangga, silakan pilih lainnya.
Untuk nomor identitas pada pembuatan paspor anak, pakai NIK di kartu keluarga yang tertera di nama anak.
Untuk ID berlaku sampai dengan, silakan tambah 5 tahun dari tanggal ID dikeluarkan.

Setelah itu klik tombol “Lanjut”

Input Data

Input Data

5. Kita akan masuk ke halaman Input Data Alamat Pemohon.
Pada halaman ini akan dibutuhkan:
-Alamat rumah
-Alamat kantor
-Alamat orangtua
-Alamat lama
-Nama ayah, tempat tanggal lahirnya
-Nama ibu, tempat tanggal lahirnya
-Nama suami/istri, tempat tanggal lahirnya
Kemudian klik “Lanjut”

Input Data Alamat

Input Data Alamat

6. Apabila semua data sudah benar, kita otomatis akan mendapat email dari spri@imigrasi.go.id yang berisi lampiran “Bukti Pengantar ke Bank”
Nah, lampiran ini harus dicetak.
Hasil cetak kita bawa sambil melakukan pembayaran di Bank BNI (tanpa nomor rekening, kita tidak mengisi formulir apapun, kalau tiba di bank, bilang saja ke satpamnya mau bayar paspor, pasti sudah mengerti, hanya mengambil nomor antrian).
Besarnya biaya saat saya membuat paspor pada Maret 2015 adalah Rp 355.000 per paspor.

Bukti Pengantar ke Bank

Bukti Pengantar ke Bank

7. Setelah membayar, teller akan memberikan resi bukti pembayaran. Simpan.
Kemudian klik “Lanjut” dalam email pertama yang kita dapat tadi.
Status permohonan kita akan tertulis sudah membayar.
Ada nomor jurnal bank di resi yang harus diisi di situ, dan juga kita harus menentukan tanggal kedatangan ke kantor imigrasi.

Resi dari Bank

Resi dari Bank

8. Setelah itu kita akan mendapat email baru lagi dari spri. Isinya “Tanda Terima Permohonan” dan 2 lembar formulir. Tanda terima dan formulir tersebut lalu diprint dan diisi, dengan menggunakan huruf cetak dan tinta.

Tanda Terima Permohonan

Tanda Terima Permohonan

Formulir SPRI

Formulir SPRI

Formulir SPRI

Formulir SPRI

9. Selesailah proses yang berhubungan dengan internet. Karena saya membuat 3 paspor, maka saya melakukan proses di atas 3 kali. Tidak perlu mengupload file file persyaratan seperti beberapa tahun yang lalu. Jadi lebih mudah bukan?

Langkah berikutnya adalah mempersiapkan kelengkapan persyaratan pembuatan paspor. Yaitu:

1) Mengisi formulir permohonan secara lengkap dengan huruf cetak (formulir yang tadi didapatkan di email).

2) Melampirkan:
a. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku
b. Kartu Keluarga (KK)
c. Akte kelahiran/Ijazah/Surat nikah/Surat baptis
d. Rekomendasi dari instansi apabila pemohon sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI, POLRI
e. Untuk paspor anak dilampirkan
-KTP kedua orangtua (cara fotokopinya harus berdampingan ktp ayah dan ibu, bagian belakang ktp juga difotokopi di kertas yang sama secara berdampingan. Tidak boleh satu kertas 1 ktp. Kesalahan ini terlihat sepele namun ternyata mutlak)
-Surat nikah
-Akte kelahiran anak
-Fotokopi paspor orangtua
-Surat kuasa orangtua bermaterai 6.000 (surat dan materai saya beli di tempat fotokopi di dalam area kantor imigrasi)

3) Persyaratan a, b, c, d, e difotokopi dengan ukuran kertas A4 (ukuran kertas ini mutlak, tidak bisa ditawar. Silakan diatur dengan tukang fotokopinya)

4) Membawa berkas persyaratan asli saat wawancara

Surat Kuasa untuk membuat paspor anak

Surat Kuasa untuk membuat paspor anak

Persyaratan Permohonan Paspor RI

Persyaratan Permohonan Paspor RI

Sumber: poster di dalam kantor imigrasi Semarang

Setelah semua persyaratan lengkap, silakan datang pagi pagi sekali ke kantor imigrasi sesuai tanggal yang telah dipilih.

Rombongan Salatiga sudah hampir sampai. Ternyata mudah sekali mencari kantor imigrasi Semarang. Tinggal masuk tol dan keluar di Krapyak. Belok kanan lalu putar balik sedikit dan sampailah kita di kantor imigrasi. Kantornya dekat dengan Dishubkominfo dan Pengadilan Negeri. Yang agak sulit adalah mencari tempat parkir karena kami tiba sudah agak kesiangan, sekitar jam 8 lebih. Saya cukup pede karena sudah daftar online.
Setelah menyerahkan sim ke satpam dan menukarnya dengan tanda pengunjung, saya menyeruak menembus keramaian pengunjung. Pintu kantornya belum dibuka, namun sudah ada sekitar 50 orang berkerumun di depannya. Pingin nangis lihatnya. Langsung saya cari orang yang kira kira petugas. Tidak sulit mencarinya, karena terlihat seorang pemuda paruh baya yang terlihat diintimidasi oleh beberapa pengunjung. Alias ditanya tanya secara berebutan. Btw paruh baya tuh apa ya?
Petugasnya pokoknya gak tua tapi ga muda gitu deh. Sekitar akhir 20an atau awal 30an. Dan langsung saya tanya.

Saya: Mas, saya sudah daftar online, mau ambil nomor antrian dimana ya?
Petugas: Oh sebentar saya ambilkan
Saya: Untuk bikin 3 paspor ya mas
Petugas: Oh iya

Masnya masuk sebentar ke dalam ruangan yang masih ditutup lalu keluar membawa 3 kertas kecil berisi nomor antrian. Saya dapat A006, A007, A008.
Rupanya kalau yang mendaftar manual, nomor antrian hanya dibatasi sampai 40. Bahkan hingga saat ini sudah sampai 53. Tapi kalau yang online, masih diterima.
Alhamdulillaaaah dalam hati saya kegirangan.
Dan tak lama kemudian pintu dibuka. Kami pun masuk mencari tempat duduk yang kosong. Penuh sekali.
Kami duduk di depan ruangan foto dan wawancara yang hanya dibatasi kaca, jadinya kami bisa melihat orang orang yang sedang difoto.
Saya melihat ke arah layar monitor yang disediakan untuk melihat antrian yang sedang berjalan. Ternyata langsung ada pemanggilan untuk A001.
Saya agak kaget, karena belum beres beres berkas takut ada yang kurang.
Dan juga membereskan bawaan anak anak saya yang rempong. Ada air minum, bekal makan, baju ganti, pampers, tisu basah, tisu kering. Ya standar emak emak lah.
Saya sudah kegirangan karena pemanggilan berlangsung cepat. Tidak sampai 5 menit sudah A002. Sebentar lagi nih. Saya agak bingung juga kok bisa dapet nomor cantik padahal tadi datang siang. Apa karena online?
Saya melihat lagi kertas antrian saya.
Dan disitulah saya merasa SEDIH.
Karena ternyata nomor antrian saya adalah A106, A107, A108…….
Zzzzzzzzzz

Ayah pergi meninggalkan kami karena harus bekerja. Saat itu pukul 9. Ayah bilang mungkin prosesnya jam 14 baru selesai. Saya gak percaya sih, paling jam 11 pikir saya.
Saya menangis pilu dalam hati. Mana belum makan, mana bawa 2 anak yang gabisa diem…
Saya menyesal gak berangkat jam 5 subuh.
Akhirnya kami menungu, menunggu, dan menunggu.
Jam 10.30 nomor saya dipanggil. Antrian A adalah menuju meja informasi. Disini berkas berkas saya dicek kelengkapannya. Setelah dilihat lengkap, saya menerima 3 buah map biru berisi berkas berkas tadi. Kami mendapat nomor antrian baru. Karena Rayan dan Raras anak kecil, maka mereka mendapat nomor antrian khusus untuk orang sakit dan lansia. Antrian D. Eh gak sampai 10 menit antrian D langsung masuk untuk foto dan wawancara.
Jangan lupa tidak boleh memakai baju berwarna putih, dan tidak boleh pakai celana pendek.
Sayang beribu sayang, antrian saya bukan D. Antrian saya antrian normal. Dan itu berarti anak anak harus menunggu juga bersama saya. Laaahhh??? Piye iki???? Yang ini benar benar gak masuk di akal saya. Masak anaknya dapet nomor istimewa biar duluan, tapi ibunya nomor normal, ya sami mawon…..
Baiklah.
Kami menunggu, menunggu dan menunggu…
Sekitar jam 14.30 nama saya baru dipanggil. Sudah mumet sekali rasanya.
Ngantuk, bete, laper, anak anak lari larian terus. Sumpek pokoknya. Dan oiya, di dalam ruang tunggu itu hp saya gak dapet sinyal. Lengkap.

Rayan dan Raras yang tabah nungguin saya

Rayan dan Raras yang tabah nungguin saya

Setelah foto dan wawancara, kami meninggalkan kantor imigrasi pukul 15.30. Ayah tidak bisa menjemput karena tertahan meeting. Akhirnya kami bertiga dengan gontai mencegat bis dari pintu tol dan menuju Salatiga.

Saran saya, lain kali naik taksi saja meskipun 300 ribu terasa berat, hehehe. Karena menggendong Raras yang tertidur sepanjang jalan itu rasanya pegal tak terkira. Dan tentu saja, menambah daftar kemumetan hari itu.

Tapi tak mengapa, itulah yang namanya PENGALAMAN. Tidak ada guru sehebat pengalaman kalo kata buku buku sih. Hahahaha.

Jadi, ingat ingat pesan saya untuk yang daftar online. Tetaplah berangkat pagi, kalo bisa jam 5 subuh, agar dapat nomor antrian cantik. Gak perlu pakai calo, karena prosesnya cukup mudah dan jelas kok. Cuma ya itu… Kalo kesiangan… Ngantriiiiii. Kapan ya proses administrasi kayak gini gak perlu memakan waktu seharian… Hiks.
Seminggu kemudian paspor kami jadi dan tentu saja bukan saya yang mengambil.

Maafkan agak agak norak ya, bikin paspor aja kok pake dicerita ceritain segala. Ya siapa tau aja ada yang butuh informasi ini…. 🙂 Demikian sharing saya kali ini, semoga bermanfaat yaa.

Saya dan paspor paspor yang penuh perjuangan :)

Saya dan paspor paspor yang penuh perjuangan 🙂

Salatiga, 1 April 2015