jalanjalan

Semalam di Jepara

Baiklah, sekarang saya akan menceritakan perjalanan saya bersama Ibu-ibu seperjuangan di Salatiga. Seperjuangan dalam arti…. anak-anak kami pernah di TK yang sama, sama-sama butuh hiburan di kala mumet, sama-sama suka guyon gak jelas menertawakan kehidupan, sama-sama mikir beribu kali saat mau nyari tempat arisan, dan sama-sama berusaha menurunkan berat badan 🀣. Emak-emak yang suka berseliweran fotonya di timeline FB dan profil instagram saya. Yang suka saya candid kalau lagi manyun. Hahaha.

Perjalanan kali ini agak jauhan sedikit. Rekor terjauh kemarin ke Semarang, lalu kami berencana ke Eropa tapi gajadi-jadi karena memang gak mampu (sekate-kate). Maka jadilah Jepara menjadi tujuan yang “pertengahan” alias, dekat nggak… tapi gak terlalu jauh juga..

Persiapannya gak terlalu lama sebenarnya, kira-kira 2 minggu sebelum hari H. Cumaaa dramanyaaa yang banyak.. hahaha. Dari mulai drama menentukan tanggal, lalu menentukan lokasi tujuan, terus ngedata siapa aja yang bisa ikut, nyari mobil sewa, nyari villa, dan lain-lain… Kenapa tiba-tiba kita jalan-jalan gini? Karena ya saudara-saudara, suatu hari tiba-tiba datang surat dari sekolah anak-anak, yang memberitahukan bahwa sekolah libur….. 10 hari….. karena anak kelas 6 ujian… Bayangkan yaaaa 10 hari…. anak-anak di rumah…. yah… gitu deh, silakan dibayangkan di alam pikiran masing-masing sesuai karakter anak masing-masing πŸ˜‚.

Ok, lalu kami memutuskan Jepara yang akan jadi lokasi liburan kami. Kenapa? Gatau, saya juga lupa kenapa πŸ˜€ . Terus setelah didata yang bisa ikut siapa aja, ternyata gak semuanya bisa ikut. Sediiiiih. Karena gak lengkap gitu girl squadnya. Preetttt. Yang gak bisa ikut tuh: Nia Ramadhania, Jessica Iskandar… eh salah deng, itu mah geng arisan yang satu lagi. Oyaya saya lupa. Ya gitulah, ada yang gabisa ikut karena musti jagain toko, ada yang karena kerja, ada yang musti jagain tukang…. eh, kok tukangnya dijagain? Maksudnya gimana? Ya maksudnyaaaa dia lagi bangun rumah, lagi ada tukaaaang…. gituuuuu…. bukannya tukangnya dijagain biar ga diambil orang… bukan yaa.

Terus kita nyari-nyari penginapan gitu. Cukup puyeng sih bagi saya gugling berjam-jam nyari penginapan yang ok tapi terjangkau tarifnya. Apalagi saya belum pernah ke Jepara. Karena kadang foto suka menipu, takutnya salah pilih tempat dan penonton kecewa. Sampai akhirnya kami memutuskan seminggu sebelumnya, pada saat meeting di Sekeping (iklan dulu), bahwa kami akan menginap di Villa Pantai Mororejo. Ini makasih banyak buat Bu Camat mbak Yeni yang sigap nyari-nyari villa, sewa mobil, sarapan, dll. Dia juga yang belanja. Eh, baru sadar, semua mua nya dia hahahaha. Pertimbangannya, di villa ini ada 1 kamar yang besar banget yang katanya bisa menampung 15 orang, jadinya kita bisa tidur bareng dalam 1 kamar. Kita kan ber-14. Kan asyik tuh. Dan juga villanya dekat pantai banget. Tinggal jalan. Hanya saja, informasi mengenai villa ini masih sangat terbatas di internet, jadinya saya pribadi agak was-was hingga hari keberangkatan. Apalagi penjaga villanya mbah-mbah, gak bisa sms apalagi whatsapp, dan juga gak perlu pakai uang muka. Wiiih makin was-was kan yaa..

Menjelang hari keberangkatan, ada lagi dramanya, mba Niken yang tadinya gak bisa ikut, tiba-tiba bisa ikut bertiga sama anak-anaknya. Waduuuh dalam hati seneng banget karena jadi rame, tapi deg deg an bow…. takut kasurnya gak muat… Karena infonya kasurnya di kamar cuma ada 3, plus sofa 2. Kalau dihitung secara kasat mata ya gak cukup lah ya, maka dari itu kita berinisiatif membawa masing-masing bedcover dan bantal πŸ˜‚. Yang penting kumpul dong, hahaha.

Ditambah lagi, elf yang kita sewa kan 17 seat ya, trus bagasinya kecil, ini gak kebayang gimana penuhnya mobilnya. Rasanya luar biasa deg-deg an. Tapi ya jalanin saja, susah senang dirasakan bersama intinya mah ya, wkwkwk.

Akhirnya datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Kita ngumpul di rumah mbak Revi di Tingkir. Karena rumahnya ada parkir mobilnya yang luas, yang bisa dititip mobil, dan dari sana kita bisa langsung masuk JB menuju Semarang. Setelah ditata, alhamdulillah elfnya muat-muat saja… barang-barang bisa masuk semua… lalu kami berangkat dan tak lupa menjemput mbak Niken di Tuntang πŸ˜‡.

Siap berangkat

Berpose bersama sebelum berangkat di elf sewaan

Kura-kura Ocean Park, Pantai Kartini

Perjalanan Salatiga – Jepara memakan waktu sekitar 3 jam. Kami tiba pukul 10 kurang di Lokasi Pantai Kartini. Dari parkir mobil kami masih harus berjalan sedikit menuju Kura-kura Ocean Park. Nggak terlalu jauh sih, mungkin sekitar 200 meter. Banyak pedagang kaos topi dan kacamata di pinggir jalan, juga ada hotel-hotel kecil gitu bagi yang mungkin mau menginap di area pantai Kartini.

Sesuai namanya, di tengah jalan terdapat patung kepala Ibu Kartini, tak lupa kami berfoto-foto.

Sinar matahari sudah cukup terik saat itu, ya namanya juga di pantai, ye kaaaan… Kami berjalan lagi dan ketemu spot foto lagi. Hahaha. Ya foto lagi lah meskipun panas membaraπŸ˜„

Wajib foto meskipun panas membara

Kerempongan emak-emak mengatur anak-anak

Tak jauh dari tulisan PANTAI KARTINI, sampailah kami di Kura-kura Ocean Park. Namanya keren ya. Tapi sayang, mungkin karena perawatannya kurang, kesan saya ketika masuk agak remang-remang gimana gitu. Di lantai dasar ada akuarium berisi berbagai macam ikan yang anak-anak cukup senang sih melihatnya. Dan di lantai atas ceritanya ada spot permainan sains gitu. Pas naik ke atas… zonk dong πŸ˜‚. Karena hari kamis, jadi katanya permainannya gak dinyalain. Jadi ya mainannya gitu-gitu aja. Saya sampai ga tega sih mau foto juga πŸ˜„. Kumuh ya kalau kesan saya. Ada tempat mandi bola juga, tapi bolanya yang udah pada kempes gitu. Gak ada yang berani dooong masuk ke sana. Kalau ada binatangnya gimana??? Terus ada bioskop 3D nya juga, tapi karena bukan weekend juga gak dioperasikan. Ealah?

Pintu masuk Kura-kura Ocean Park

Suasana di dalam Kura-kura Ocean Park

Intinya sih harap maklum, ini Indonesia. Jadi kalau gak mau kecewa, lebih baik tidak usah masuk. Cukup berfoto di luar saja. Bangunan yang berbentuk kura kura raksasa ini memang asik banget untuk spot foto instagram kekinian. Hahaha. Jahat banget ya saya… ya gimana… tolong dong dinas pariwisatanya…. tempatnya mbok ya dirawat, dimaintain gitu loh…. Sayangnya, saya tidak punya informasi tempat lain yang cukup recommended lagi untuk dikunjungi di Jepara, jadinya kita ke sini. Literasinya terbatas banget sudah ngubek-ngubek internet juga. Mungkin ya, memang ke Jepara tujuannya kebanyakan ke Karimun Jawa atau ke pantai-pantainya gitu ya… mungkin…. Jadinya tempat ini tidak terjamah.

Well, yang penting anak-anak masih happy saja sih karena banyak temannya. That’s OK.

Hasil foto oleh tukang foto keliling cukup lumayan, dan murah hanya Rp 10.000/foto

Karena sudah pukul 11.30, dan takut anak-anak kelaparan, dari sana kami memutuskan untuk langsung makan siang. Museum RA Kartini nya diskip dulu.

Gubug Dhahar Mbak Wien

Setelah riset kecil-kecilan di internet, dari trip advisor google dan kawan-kawannya, saya menemukan tempat yang kayaknya lumayan untuk makan siang. Selain menunya beragam, harga terjangkau, dan sepertinya tempatnya nyaman (sepertinya loh ya). Jaraknya tidak terlalu jauh dari Pantai Kartini. Perjalanan hanya sekitar 20 menit. Dan lagi, ketika saya whatsapp untuk menu, si admin rumah makan ini cukup kooperatif, mau mengirimkan daftar menu beserta harganya lengkap. Baik ya. Karena di rumah makan yang satunya lagi, ketika saya minta daftar menunya, jawabannya langsung ke lokasi saja. Wuuu penonton kecewa dong.

Karena teman-teman kebanyakan manut saja, yasudah kita makan siang ke sana. Hahaha. Kita mah sistemnya kekeluargaan, jadi kalau seandainya tempat yang kita cariin terbukti bagus ya alhamdulillah, kalau ternyata mengecewakan ya cukup misuh-misuh dalam hati. Wkwkwk.

Sampai di sana, syukur alhamdulillah tempatnya sejuk dan lumayan luas. Karena tidak terlalu banyak pengunjungnya saat itu, mungkin karena bukan weekend (banyak amat mungkin ya, sudah berapa kali saya tulis kata “mungkin”, untungnya ini bukan skripsi 🀣). Daaan makanannya juga sesuai di lidah dan kantong kami. Ini yang penting sih, karena kan kita “low budget” hahaha. Jugaaaa jreng jreng…. ada spot fotonya yang ok punya. Mantaplah. Atau memang kitanya yang selalu kece saat difoto? πŸ˜‚. Tempat ini recommended ya teman-teman bagi yang mau ke Jepara… menunya Indonesia. Alamatnya, Jl. Jepara – Bangsri, Mulyoharjo, Kec. Jepara, Kab. Jepara, Jawa Tengah 59431. Nomor telepon dan whatsappnya 081225241195. Cusss laaah.

Lokasi Gubug Dhahar Mbak Wien

Nih… keren kaaan foto kita… yuhuuuΒ 

Sudut foto lainnya

Tampak depan Gubug Dhahar Mbak Wien

Villa Pantai Mororejo

Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke penginapan. Mbak Yeni yang berhasil menemukan tempat ini di internet dengan cucuran air mata dan keringat. Kamar luas, dekat pantai, ada kolam renang, dan tentu saja.. HARGA TERJANGKAU.

Jarak dari tempat makan ke villa juga tidak terlalu jauh. Sekitar 30 menit kalau kami tidak nyasar. Kami sempat kelewatan belokan karena tidak melihat peta. Setelah putar balik ke arah belokan, ternyata jalanannya mentok di jembatan kecil yang tidak bisa dilalui mobil besar. Ternyata patokannya adalah Jepara Ourland Park (JOP). Belokannya yang sebelumnya lagi. Jadilah kami balik lagi dan mencari belokan yang benar dari jalan utama Jepara-Bangsri. Setelah melihat plang JOP barulah kami yakin telah berada di jalan yang benar. Ketika sampai di gerbang JOP, arah peta mulai membingungkan karena satu-satunya jalan adalah sebelah kanan JOP dan itu jalanan kecil dengan pinggiran sawah. Setelah menelepon mbah penjaga villa, ternyata masuknya melalui gerbang JOP. Balik lagi… Ngeeng… Dan seketika anak-anak ribut minta berenang di JOP karena desain bangunannya dari luar memang menarik sekali. Namun the power of kegalakan emak mampu membungkam mereka semua. Kami nggak mau ke JOP karena rasanya tidak sanggup menjaga anak-anak yang masih kecil sendirian. Harus bawa suami kalau mau ke wahana kolam seperti itu sih. Tak jauh dari gerbang JOP pun kami menemukan gerbang villa kami yang penampakannya seperti di internet.

Gerbang masuk JOP

Pintu gerbang Villa Pantai Mororejo

Dan bahagiaaa karena ternyata kamarnya baguuss dan luaaasss… Kamar yang kami sewa VIP, dengan 1 dapur dan 1 kamar mandi. Dan ternyata kasurnya ada 4 dengan ukuran queen. Waaah leganya… jadi cukup dong kasurnya hehehe. Kolamnya juga baguus. Tempatnya sejuk karena rimbun banyak pepohonan. Ok sip.

Kolam renang, tapi kamarnya bukan kamar kita

Kegiatan pertama yang dilakukan anak-anak ketika sampai kamar adalah… loncat-loncat di kasur πŸ˜†. Kemudian berenang di kolam villa. Karena dari awal berangkat memang tujuan mereka satu itu, berenang. Langsung saja pada ganti baju renang dan nyemplung. Untungnya penghuni villa yang lain belum ada yang berenang juga, jadi kami gak malu dan bebas bermain sepuasnya sampai sore.

Suka duka dijalani bersama

Menjelang maghrib, kami berjalan ke pantai untuk melihat sunset. Sayangnya mataharinya kelihatan kecil sekali dan cepat berlalu. Jadi kita hanya sempat foto sebentar dan sunsetnya sudah berlalu. Pantai di belakang villa, pasirnya tidak terlalu lebar. Tapi untuk main anak-anak masih bisa. Dan ombaknya juga tidak terlalu berbahaya. Ada wahana bananaboat, tapi bukanya pagi jam 9/10. Biayanya 50 ribu/orang.

Catching sunset

Foto keluarga di pantai Mororejo

Setelah dari pantai kami balik ke villa. Makan malam pun sudah siap. Kami memesan makan malam ke penjaga villa dengan harga Rp 15.000/porsi. Lumayan murah ya? Menunya sop, ayam goreng dan sambal. Dan itu sop ternikmat mungkin karena kami semua kelaparan.

Setelah itu kami mengobrol santai dan foto-foto ala girlsquad tapi gagal. Mbak Neneng membacakan dongeng untuk anak-anak sebelum tidur, namun apadaya, mereka ga ngantuk-ngantuk meski sudah dibacakan dongeng berkali-kali. Tapi akhirnya mereka tertidur sekitar jam 9. Di kamar banyak sekali nyamuk, dan kami lupa membawa autan. Tapi untung ada yang membawa minyak telon. Baunya cukup ampuh untuk mengusir nyamuk. Dan juga kami baluri ke tubuh anak-anak. Lebih aman daripada autan.

Kami melanjutkan obrolan santai emak-emak yang ngalor ngidul sampai menjelang tengah malam. Puas ketawa-tawa, kami pun beranjak tidur.

Foto gagal ala girlsquad

Paginya, saat anak-anak masih tidur, saya menyempatkan lari pagi sedikit-sedikit. Bagi saya bukan soal kilometernya sih, tapi nikmatnya lari dengan pemandangan baru dan menyapa penduduk lokal. Ciye penduduk lokal πŸ˜„. Dan saya beruntung bisa mendapatkan pemandangan indah matahari yang baru terbit.

Beautiful sunrise captured during my morning run

Kami meninggalkan villa setelah sarapan dan mandi-mandi. Tujuan kami berikutnya adalah ke Transmart Semarang untuk menyenangkan hati anak-anak.

Saya suka sekali dengan villa ini dan berharap suatu saat bisa kembali menginap disini bersama keluarga besar. Tentu saja untuk mengajak anak-anak yang belum kesampaian ke JOP.

Foto keluarga di jembatan villa

Foto absurd yang harus ada di setiap kumpul kita

Senang rasanya bisa melepaskan penat sejenak bersama teman-teman. Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana kita akan mendapatkan teman. Dan saya bersyukur bisa mendapatkan teman-teman yang baik di Salatiga. Kami juga manusia yang pastinya masing-masing punya masalah. Disitulah gunanya teman, untuk saling menguatkan dan mendukung. Kita gak harus jadi sempurna untuk bisa berteman, dan senang bisa menjadi apa adanya di antara mereka. Kami juga punya kekurangan masing-masing tentu saja, tinggal bagaimana pada akhirnya kita bisa saling memahami tanpa harus menjatuhkan. Toh kita semua manusia, friksi-friksi sedikit dan salah paham pasti ada, tinggal bagaimana kita menyelesaikannya dengan dewasa dan bermartabat (bukan martabak).

Eh, kenapa ujungnya jadi penuh hikmah gini? Wkwkwk.

Ok, terima kasih sudah meluangkan waktu membaca cerita yang panjang ini, semoga bisa menjadi referensi bagi yang mau ke Jepara. See you on another journey of emak-emak !

Salatiga, 9 Mei 2018, 23.15 wib.

Advertisements