naik gunung

Naik-naik ke Gunung Andong

Pernah dengar nama gunung Andong? Namanya memang tidak setenar gunung Gede atau Semeru, tapi ternyata gunung Andong cukup layak dijadikan ajang latihan naik gunung bagi para pemula. Gunung ini salah satu gunung belakang rumah saya loooh.. Jadi wajib banget memang buat didaki sama saya :). Dengan ketinggian 1.726 Mdpl, gunung Andong mampu memikat para pendaki akhir-akhir ini. Setiap akhir pekan, gunung ini pun ramai dikunjungi. Tapi bukan berarti, mentang-mentang gunungnya pendek, kita bisa asal aja gitu ketika mendakinya. Buat saya itu sangat BIG NO NO 🙂

Catatan penting ya sebelum mulai bercerita, mendaki gunung itu olahraga berat, perlu persiapan buat siapapun yang berniat mendakinya. Mau gunungnya pendek kek, mau kitanya udah jago naik gununglah, apalah apalah, tetap ya, hormati alam, hargai. Maksudnya gimana? Maksudnya kita menghargai, kita datang kepadanya ya dengan penuh persiapan.

Fisik siap: dengan olahraga-olahraga sebelum naik

Logistik siap: perbekalan makan dan minum dihitung sesuai durasi perjalanan

Perlengkapan ok: dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki sudah lengkap semua. Meskipun mungkin durasi naik turunnya singkat, kita gak pernah tahu apa yang bisa terjadi di alam. Jadi, kelengkapan itu penting banget. Jangan lupa juga obat pribadi.

Mental siap: gimana sih caranya nyiapin mental? Ya kita lakukan penelitian dulu tentang gunung yang akan kita daki. Ke sana lewat mana, medannya gimana, suhunya sedingin apa, ada sumber air atau nggak, kira kira evakuasi untuk keadaan darurat gimana, dan secukupnya tergantung tujuan perjalanan kita. Juga jangan lupa, mental siap untuk buang air kecil maupun air besar di antara semak-semak 😀

Itu sekilas saja, lengkapnya bakal panjang sekali. Saya hanya mau bilang sih, please, respect the mountain.

Ok, serius banget ya saya, hehehe. Balik ke gunung Andong. Kalau untuk rute menuju gunung ini, teman-teman bisa intip di

https://gunungandong.wordpress.com/2014/05/03/jalur-menuju-basecamp-gunung-andong-taruna-jayagiri/

Atau di

http://gunungandong.com/

Itu udah lengkap banget deh rutenya, jadi saya gak perlu tulis-tulis lagi hehehe 😅

Jadi awal mulanya, saya habis berulang tahun nih ya di bulan Oktober kemarin, alhamdulillah tambah tua, bukan tambah muda (yaiyalaaaaah). Terus saya tuh mikir-mikir kok ya jatah umur makin sedikit tapi belum pernah naik gunung sama anak-anak. Tapi membayangkan naik gunung bawa anak-anak, itu saya agak-agak sesak nafas. Hahaha. Pasalnya, saya sendiri kalau naik gunung itu bawa diri sendiri aja udah susah banget, ditambah lagi bawa keril, lah gimana caranya kalau bawa anak-anak??? Lebay ya. Iya, memang namanya kalau mau melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan tuh banyak takutnya. Banyak ngarangnya. Mangkanya harus dicoba biar tahu. Oooh rasanya begini… oooh yang kurang ini… oooh seharusnya begini… bawel ye. Atas dasar pertimbangan untuk perdana naik itulah, yaudah yuk, kita naik gunung Andong dulu ama anak-anak. Setelah riset di internet pun, rasa-rasanya bisa kok naik gunung ini bawa anak. Hehehe pede bener.

Tiba di hari pendakian 9 Oktober 2016, pagi-pagi saya sudah siap siaga di depan keril. Menatap keril dengan nanar. Bertanya-tanya mampukah saya? Tapi juga sangat bersemangat. Akibat terlalu bersemangat alias gugup itulah, saya sampai sakit perut. Sehabis sarapan terlebih dahulu di sebuah warung nasi uduk, kami sekeluarga terpaksa kembali lagi ke rumah karena saya harus meeting sama toilet. Hahaha. Gugup bok… 😜

Setelah urusan saya selesai, berangkatlah kami. Eiya lupa, ada lagi dramanya. Karena celana gunung saya jarang dipakai, pas di mobil eh resletingnya rusak. Gak lucu rasanya kalau fotonya nanti membuat semua orang beristighfar.  Untung saya bawa celana training cadangan untuk ganti. Dengan lihai saya berganti celana di dalam mobil. Hahaha.

Berkat rute yang baik dan benar, tibalah kami di Basecamp Taruna Jayagiri Sawit. Kira-kira 45 menit perjalanan dari rumah kami di Salatiga. Ternyata parkiran sudah penuh. Mobil-mobil berderet sepanjang jalan menuju kaki gunung. Motor-motor penuh sesak di parkiran halaman rumah orang. Tapi bagusnya ada yang mengatur parkiran, sehingga formasi parkirnya lebih teratur. Ada masjid di dekat tempat kami parkir. Toilet ada banyak di sini, jangan khawatir buat yang tiba-tiba ngeri-ngeri sedap melihat gunung menjulang, para toilet siap menampung kegugupan anda semua, hihihi. Untuk tiket masuk, kita cukup membayar Rp 5.000 per orang (sudah termasuk Rp 1.000 untuk Kas Dusun Sawit), serta uang parkir (saya agak lupa jumlahnya sepertinya Rp 10.000).

IVZR3200.jpeg

Tiket pendakian gunung Andong

img_1463

Loket pendakian

img_1459

Bawaan kami yang minimalis

Setelah dirasa semua siap, melangkahlah kami menuju gunung Andong yang berkabut pagi itu. Tak lupa saya mulai merekam dan foto-foto. Penting banget loh ini, untuk dokumentasi dan kenangan anak-anak kelak.

img_1464

Gunung Andong yang berkabut pagi itu

Gerbang masuk gunung Andong terbilang cukup mewah, sepertinya sih baru direnovasi.

IMG_1470.JPG

Gerbang masuk.. Foto-foto dulu sebelum muka lecek ..makin deg-degan

IMG_1472.JPG

Awal pendakian disambut dengan jalan yang indah ini

Pendakian kami dimulai pukul 09.45. Rayan dan Raras terlihat sangat bersemangat. Rayan hanya membawa tas kecil yang berisi snack dan air minum secukupnya, sedangkan Raras tidak membawa apa-apa, hanya sebuah trekpole yang juga diperebutkan Rayan, hehehe. Saya membawa keril mini 30 liter yang berisi tenda dan air minum, ringan sekali. Sengaja memang kami membawa tenda meskipun tidak berencana menginap, karena maksudnya mau kemping-kemping cantik di atas nanti. Tas si Ayah memang terlihat kecil, tapi beratnya jangan tanya hihihi. Ada trangia, ada logistik, jaket, spirtus, air minum, dan lain-lain, wkwkwk.

Jalur awal berupa tanah berbentuk tangga, tidak terlalu licin meskipun agak basah. Untuk tiba di Pos 1 Watu Pocong, kami membutuhkan waktu 20 menit. Lumayan cepat ya? Saya bahagia sekali, karena biasanya untuk mencapai Pos 1 di gunung lain membutuhkan waktu ya rata-rata sejam.

IMG_1474.JPG

Ini dia jalur tangga tanah menuju Pos 1

img_1475

Orang-orang yang masih segar di Pos 1 Watu Pocong 🙂

Setelah beristirahat sebentar, minum air dan duduk-duduk, kami melanjutkan perjalanan. Jalur menuju Pos 2 sudah lebih terjal. Tapi tipe jalur masih serupa, tanah-tanah licin gitu karena memang sudah cukup sering hujan kemarin itu. Waktu tempuh untuk mencapai Pos 2 Watu Gambir ternyata lebih singkat lagi, hanya 15 menit. Saya cukup takjub melihat anak-anak yang tetap semangat dan ceria. Dan tak lupa, saya selalu menanyakan kepada mereka untuk beristirahat dan meminum air.

img_1487

Rayan di Pos 2 Watu Gambir

img_1485

Santai dulu di Pos 2

Di Pos 2 agak ramai, banyak pendaki yang sedang turun kemudian menghabiskan waktunya di sini karena pos ini cukup luas. Bahkan ada beberapa yang memasang hammock. Raras menjadi pusat perhatian para pendaki yang berpapasan dengan kami. Mereka agak takjub melihat Raras yang mendaki gunung. Meskipun banyak juga sih anak kecil yang saya lihat ikut mendaki hari itu. Mungkin mereka para anak-anak yang dipaksa Bapak Ibunya yang kangen naik gunung… Eh, itu saya deng hahaha.

Setelah Pos 2 langsung puncak. Menurut saya sih jalur menuju puncak inilah yang terberat dalam rute gunung Andong. Tanjakan demi tanjakan yang semakin terjal menyambut kami. Kadang harus antri menunggu rombongan pendaki yang sedang turun. Kalau tadi 15-20 menit sampai, kali ini kami membutuhkan waktu 50 menit untuk tiba di puncak. Kebayang ya jalan menanjak selama itu. Nafas saya agak sesak sewaktu mendaki menuju puncak. Beberapa kali saya sempat berhenti istirahat dan anak-anak duluan. Pokoknya hebat banget deh mereka. Mungkin bagi anak kecil mendaki gunung adalah kegiatan bermain yang sangat menyenangkan karena tempatnya sangat luas ya. Hehehe. Atau mungkin juga langkah mereka sangat ringan karena belum mempunyai beban hidup yang menghantui. Beuh, mulai deh ngawur. Hahaha.

Kabut mulai sangat menebal semakin mendekati puncak. Pandangan kami hanya terbatas beberapa meter dan harus melangkah dengan sangat hati-hati karena jurang di sebelah kiri kami tak terlihat. Beberapa saat sebelum puncak, kita akan menemukan sumber mata air yang sudah dipasang kran. Airnya sangat jernih, menggoda kami untuk berhenti dan sekedar membasahi wajah.

img_1494

Jalur menuju puncak yang mulai menguji nyali, Raras sih santai saja 🙂

IMG_1498.JPG

Kabut semua

IMG_1496.JPG

Sumber mata air sebelum puncak

img_1501

Horeee ketemu warung di atas….

img_1504

Sudah sampai senangnya, gaya dulu deh

Akhirnyaaa kami sekeluarga tiba di puncak Gunung Andong pada pukul 11.11 WIB. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Cukup singkat yaa? Gunung Andong memiliki 4 puncak, yaitu Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong, dan Puncak Alap-alap. Puncak Andong yang tertinggi, yaitu memiliki ketinggian 1.726 Mdpl. Disebut Andong karena memiliki beberapa puncak sehingga membentuk seperti punuk sapi. Tapi ada juga yang bilang kalau asalnya dari daun Andong (sumber: internet). Di puncak banyak berdiri tenda para pendaki yang mungkin sudah bermalam dan mengejar sunrise (puncak Jiwa). Pemandangan yang kami dapatkan kurang maksimal, karena semua tertutup kabut. Kalau cuaca cerah, seharusnya dari sini kami bisa melihat gunung Merbabu, Merapi, Ungaran, Telomoyo, dan si kembar cantik Sundoro Sumbing. Tapi alhamdulillah banget lah sudah bisa sampai dengan selamat di puncak. Kami tidak sempat ke puncak Alap-alap karena keburu turun rintik-rintik hujan.

img_1559

Yeeaaay.. Bisa juga foto keluarga di sini 🙂

img_1509

Anak-anak hebat!

Setelah menyalurkan hasrat narsis, kami berlari menuju warung karena hujan turun dengan derasnya. Di puncak terdapat 2 warung. Salah satunya warung Pak Imun. Di warung pak Imun inilah kami berteduh dan makan siang. Warung agak ramai karena banyak pendaki yang juga berteduh. Tapi tidak mengapa karena semakin padat semakin hangat ya kan? Suhu di atas sini tidak terlalu dingin seprti puncak gunung lain yang tingginya 3000an. Jadinya saya tidak terlalu khawatir Rayan dan Raras akan kedinginan.

Cita-cita kami mendirikan tenda sepertinya belum bisa terlaksana. Karena hujan deras sekali, agak malas untuk menggelar tenda. Kami cukup mengeluarkan trangia saja dan memasak chicken nugget untuk makan siang anak-anak. Tak lupa menyeduh teh dan kopi dong. Masa naik gunung nggak nge-teh… Hehehe. Selagi makan, tiba-tiba Raras sakit perut. Anak ini memang doyan sekali BAB. Teratur sehari sekali dia BAB. DI MANA PUN. Di tempat Rayan karawitan, di GPD tempat Rayan taekwondo, semuanya pernah dia coba. Kali ini nampaknya Raras tidak mau melewatkan tempat langka untuk BAB, yaitu di puncak gunung. Jadilah kami mencari tanah kosong dalam kondisi masih hujan, dan Raras sukses meninggalkan jejaknya di puncak gunung Andong. Selamat ya Ras 🙂

img_1531

Makan siang dulu

Setelah sekitar 1,5 jam beristirahat dan berteduh, hujan mulai mereda. Kami pun membereskan barang dan bergegas turun. Tidak lupa berpamitan kepada Bapak Ibu pemilik warung. Hebatnya mereka, turun naik gunung untuk meloading barang dagangan mereka… Salut…

Sebelum turun kami menyempatkan diri melihat makam Kyai Abdul Faqih (Ki Joko Pekik), seorang tokoh penyebar agama Islam (sumber: internet). Makam ini sering didatangi para peziarah. Makam ini berbentuk seperti rumah, dan di dalamnya makamnya dikelilingi lagi oleh tembok. Untuk masuk ke ruangan makam, kita harus melepas sepatu. Saya hanya melihat dari kaca luar.

Perjalanan turun memakan waktu sekitar 1,5 jam juga dengan diiringi hujan gerimis. Jam 15.00 kami sudah tiba lagi di Desa Sawit.Tiba di bawah hujan turun semakin deras. Bersyukur kami sudah di mobil saat itu. Perjalanan pertama mendaki gunung dengan anak-anak sangat menyenangkan. Apalagi anak-anak sangat menikmati dan tidak mengeluh sama sekali. Saya jadi tidak sabar untuk melakukan perjalanan berikutnya, tapi lain kali yang menginap di gunung, biar anak-anak merasakan nikmatnya tidur beratapkan bintang-bintang. Suatu kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Berarti persiapannya juga harus lebih matang agar perjalanan tetap aman dan menyenangkan.

Silakan mampir ke channel saya untuk menonton sedikit tentang perjalanan gunung Andong ini (jangan lupa LIKE & SUBSCRIBE :D). Membuat videonya kemarin lebih cepat selesai karena saya memang lagi senang bikin vlog-vlog an gitu deh. Yah maklumlah saya kan emak-emak kekinian hahaha. Dan membuatnya juga jauuuh lebih mudah daripada menulis blog. Kalau menulis, musti nunggu mood datang, dan datangnya pun tak jelas kapan. Suka-sukanya dia aja hehehe.

Makasih ya sudah mampir 🙂

Salam dari Salatiga, 13 Desember 2016

2014: Diari, Berlari dan Mendaki

Kemarin kemarin saya belum sempat corat coret tentang pencapaian selama tahun 2014. Ciyeee pencapaian… Masa iya emak emak rempong ini punya pencapaian? Ngaca dong sama daster! Wkwk..
Punya doong… Hihi
Jadi ya, terlalu merendahkan diri juga gak baik buat jiwa. Okelah kita emak rumah tangga, okelah kita gak punya sesuatu yang “besar” untuk dibanggakan, tapi salah juga untuk meremehkan diri sendiri… Ini sih penghiburan buat saya aja, bebas dong, tulisan juga tulisan saya… Hahaha

Pertama,

Tahun 2014 menjadi tahun lahirnya blog alias diari saya. Hihihi. Meskipun semuanya tulisan asal asal dan lebih ke arah curcol, namun dari dalam lubuk hati yang paling dalam, saya masih berharap blog ini ada manfaatnya buat orang lain 🙂
Sebenarnya sudah ingin bikin blog dari laaaamaaaaaa sekali. Tapi rasa rasanya, lebih mudah mencari alasan untuk menunda memulai suatu pekerjaan dibanding mengerjakannya.
Iya apa iya?

Gaada waktu. Ribet urusin anak. Baru mau ngetik sebentar sudah ada suara suara merdu yang tidak pernah berhenti memanggil. Suaranya: “Bunda… Mau minum Milo..”
“Bunda… Mau main ps.. Colokin kabelnya..”
“Bunda… Mau pipis…”
“Bunda… Mau nonton film Frozen…”
Hehe
Gak habis habis satu novel kalo ditulisin semua kemauan para boss itu.
Kapan bisa nuliiiiiissss???
Alasan.

Pengen pake laptop aja nulisnya. Laptopnya ada, tapi dengan sukses huruf huruf keyboardnya dipretelin Raras waktu dia umur setahun. Ada beberapa yang bisa dipasang, tapi ada banyak juga yang patah. Jadinya males gitu deh. Gak bisa ngetik cepet. Padahal kan saya harusrusrus ngetik dengan cepat biar ide gak keburu hilang.
Alasan.

Gak ada sinyal internet yang ok. Saya pengennya tuh blognya sempurna. Desainnya, hurufnya, bla bla bla.
Alasan.

Ujung ujungnya,
Saya membuat blog dan menulis semua artikel dari hp saya. Hahaha.
Dimana ada kemauan, di situ ada jalan.
Jangan remehkan pepatah itu, bener banget dan sudah terbukti berkali kali.

2015/01/img_6747.jpg

Dengan modal hp dan aplikasi wordpress yang alhamdulillah bisa diunduh gratis, jadilah blog ini.

Meskipun baru sedikit tulisan yang baru, dan kebanyakan tulisan lawas, lumayanlah buat emak emak ini.

Kedua,

Tahun 2014 menjadi tahun pelarian saya.
Hah?
Pelarian dalam arti sesungguhnya.
Berlari.
Setahun ini, berkat lagi lagi kecanggihan hp, saya bisa mengukur bahwa lari saya mencapai 153,7 km…
Hore buat saya 🙂
Ya ya ya. Angka itu gak ada apa apanya buat orang lain yang pada lari lari marathon di gunung.
Tapi buat saya? Itu okeh bangeth!
Padahal saya hanya berlari 5 kilo setiap minggunya. Beberapa kali libur, dan beberapa kali 6 kilo. Tapi ternyata hasilnya bisa 100 kilo gitu. Lumayanlah…

Memberi makna pada saya, bahwa apapun yang kita lakukan, meskipun sedikit, apalagi rutin, pasti suatu saat akan mendatangkan hasil. Jangan pernah merasa kecil karena hanya bisa melakukan hal hal sepele yang tidak ada gunanya di mata orang lain. Tetaplah positif, tetaplah optimis, bahwa kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula.
Berjuanglah semampu kita.
Eh, apa hubungannya sama lari ya? Gak ada. Hehe.

Masih tentang lari, sebenarnya di awal tahun 2014 saya tidak pernah menargetkan bahwa lari akan menjadi hobi baru saya.
Tapi ya karena lagi ngehits, rugi rasanya kalo gak ikut ikutan. Hahaha. Awalnya ya begitu. Eh lama lama enak juga. Jadi keterusan meskipun hanya seminggu sekali.
Ada rasa malas itu pasti, tapi kata si Nike: “You can’t finish first if you never start”
Iyalah, gimana mau finish kalau gak pernah start.

2015/01/img_6663-0.png

Awal berlari, 3 kilo menjadi titik depresi. Dari awal pengennya minimal 5 kilo. Jadi stress sendiri. Tapi santai aja larinya. Akhirnya selesai juga 5 kilo.
Apalagi ke sini sini pake temen musik sambil lari, jadi santai banget. Asik lah. Gratis pula olahraganya.

Berlari juga mengajarkan saya tentang komitmen.
Komit untuk terus berlari sampai target yang ditetapkan. Kalau diturutin sih maunya berhenti terus. Semuanya sesungguhnya tentang mental. Sama seperti naik gunung.

Membaca artikel artikel tentang bagaimana berlari yang benar juga akan membantu sekali agar pernafasan teratur, tidak cepat lelah dan menghindari cedera. Banyak kok kalau mau dicari di google.
Jangan malas!

Eh, ngomong ngomong playlist saya jadul banget deh. Nih kayak gini.

2015/01/img_6734-0.png

Ketiga,

Berhasil naik gunung Merbabu November lalu.
Sepak terjang dan kegagahan saya kala mendaki Merbabu saat itu bisa dibaca di sini.. Hahaha.
Merupakan pencapaian yang membanggakan terutama bagi jiwa dan raga saya sendiri.

2015/01/img_6750.jpg

Naah maka demikianlah beberapa (3 biji) pencapaian yang dapat saya ceritakan saat ini.
Udah segitu aja?
Hehehe, iya.
Semoga tahun depan lebih banyak pencapaian yang dapat saya tuliskan.
– Bisa naik gunung lagi
– Bisa manjat tebing lagi
– Bisa nyobain trail running
– Bisa terus lari
– Bisa nyetir mobil (tapi mobilnya belum ada :D)
– Bisa… Bisa…Bisa….

Semoga Allah melindungi kita semua. Menjalani tahun ini dengan sehat, bahagia, berkumpul dan berbagi dengan orang orang tercinta, dan tak lupa menebarkan kebahagiaan tersebut.
Buat yang tahun ini sedang mendapat
ujian hidup, sabar sabar dan selamat ya, berarti menjadi manusia terpilih yang akan naik tingkat, amin.

2015/01/img_6754.jpg

Munggah Merbabu

Kaki mana kaki…
Ingin rasa rasanya punya cadangan kaki saat ini.
Turunan demi turunan yang terjal lagi berdebu tak elak membuat ujung kaki saya terasa sakit, dengkul serasa mau copot. Pos 1 masih jauh di depan mata.
Saya memutuskan untuk melepas sepatu sejak jauh di atas pos 3. Rasanya lebih enak, meskipun dengkul masih juga gemetaran. Resikonya, tapak kaki yang terasa sakit ketika menginjak batu batu dan tangkai kayu. Menuju pos 1, saya putuskan untuk memakai sepatu kembali.
Setelah minum sedikit, tiba tiba di hadapan saya muncul pahlawan super keren: Gigih. Hahaha. My superhero rescuer!
Gigih naik kembali ke atas menjemput saya setelah ia dan teman teman sampai di desa. Jarak kami terpaut sekitar satu jam. Saya sih udah berdoa doa dalam hati agar ada yang dateng, tapi saat Gigih benar benar datang, itu luar biasa rasanya. Meskipun entah karena ia takut ketinggalan kereta atau memang tulus atau dua duanya gapapa deh. Hahaha.

Salah satu sisi Merbabu dari arah alun alun Pancasila, kota Salatiga

Salah satu sisi Merbabu dari arah alun alun Pancasila, kota Salatiga

Persiapan Emak Rempong

Berawal dari komen mengkomen di sebuah foto di facebook, Gigih menginformasikan bahwa ia dan teman teman akan naik gunung Merbabu tanggal 1 November. Wah, Merbabu tuh cuma 5 langkah dari rumah sayaaa (lebay). Masak ga ikutan sih? Beberapa waktu yang lalu anak Mapala juga sempat ada yang naik, tapi waktu itu saya dan Peni (Bkp 2003) belum jadi ikutan karena persiapan kami yang mendadak. Tawaran Gigih sepertinya menarik, masih ada waktu sekitar sebulan sebelum tanggal 1. Saya pun memantapkan hati untuk gabung trip kali ini, naik lewat Cunthel, turun di Selo (Boyolali). Sounds great. Mantap.

Sabtu, 25 Oktober 2014, 23.45
Siap tidur di kamar bersama 2 buah hati saya.
Pada jam yang sama seminggu ke depan, saya akan tidur di dalam tenda berbalutkan sleeping bag di suatu ketinggian gunung Merbabu, bersama teman teman Mapala.
Setelah 8 tahun lamanya..

Senin, 27 Oktober 2014, 23.55
Pagi tadi kerilnya datang. Atau lebih tepatnya semi carrier, atau daypack ya? Karena ukurannya mungil bingiits.. Cuma 30 liter. Hahaha. Selain karena perjalanan Merbabu ini singkat, untungnya saya jalan dengan junior yang baik hati sehingga saya hanya membawa barang barang pribadi. Asik lah ya. Jadi saya pikir, cukuplah segitu hehehe. Keril ini seumur umur baru pertama kali saya membelinya. Dulu jaman kuliah, mana mampu saya beli keril. Sekarang, lumayanlah, bisa pake duit suami. Uhuy. Sengaja dong, belinya yang agak mahal, selain karena suka sama warnanya, juga saya pikir kualitas back system sebuah tas tuh penting banget buat kenyamanan perjalanan kita. Dulu sih masih muda kuat kuat aja, pake keril 60liter padahal badan cuma seiplit. Eh, nggak kuat juga deng, selalu saya kalau turun gunung dengkulnya sakit dan lamaaaa banget turunnya. Nah apalagi sekarang, ya siapa tau kalo tasnya mahal jadi berasa enteng aja jalannya. Hahaha. Amiiiin.
Seneng banget rasanya punya keril. Alhamdulillaaah. Ini juga belinya pertimbangan banget. Begadang berapa malem gugling model keril yang bagus kualitasnya dan enak di mata. Saya kan libra ya, jadi beli apa apa tuh timbang sana timbang sini. Beli baju lebaran bisa muter muter mall 2 jam. Kalo modelnya gaada yang pas sama hati, ya gajadi beli. Atau kalau masih ragu besoknya saya balik lagi deh ke mall itu. hahaha. Silakan tanya sama Nitut Lelonot. Kebanyakan sih ujung ujungnya gajadi beli dan menyesal kemudian. Hihihi. Padahal model baju saya juga gak aneh aneh banget. biasanya cuma kaos polos atau kemeja gitu deh. bukan model gamis ala ala syahrini.
Makin ga sabar euy rasanya menanti tanggal 1.

Osprey Tempest 30

Osprey Tempest 30

Tampak samping

Tampak samping

Backsystem yang "cantik" yang membuat saya terpaut

Backsystem yang “cantik” yang membuat saya terpana

Kamis, 30 Oktober 2014, 11.06
Tadi malam konfirmasi ke Gigih (Bkp 2009), masih ok gak nih rencana Merbabunya. Ternyata dia tadi malam belanja buat persiapan Sabtu. Oke deeeeh… Deal berarti nih. Insya Allah. Karena saya suka bikin rencana rencana iseng seperti manjat, mau naek gunung atau mau trail running, keseringan ga jadinya hahaha. Jadi sejak awal sebenarnya sudah pasrah untuk kemungkinan terburuk akan ga jadi. Yang gak oke cuma satu nih: sepatu. Saya belum nemu sepatu trail hingga detik ini. Kemaren nyari di Magelang gak dapet. Okelah gakpapa, saya pakai sepatu lari aja. Seperti dulu dulu. Toh perjalanannya singkat. Semoga gak ada kendala yang berarti. Gak ada kendala juga seperti: suami saya lupa pulang malem Sabtu buat jagain anak anak… Zzzzzzzzzzz

Jum’at, 31 Oktober 2014, 21.04
Packingnya sudah selesaaii… Dan… tas 30 liter itu terisi penuh sesak hiks. Dengan sangat terpaksa buahnya besok daku serah terimakan saja ke semuanya yaaa hahaha. Agak agak gugup deh, takut ada yang kurang bawaannya. Sampe sampe bikin list bawaan gitu kayak zaman caang. Padahal cuma bawa barang barang pribadi tapi kok udah berasa beraaattt banget. Nangis lagi.

Daftar barang bawaan saya. Caang Bkp 2015 hehe. Tuh kan sikat gigi belom kebawa....

Daftar barang bawaan saya. Caang Bkp 2015 hehe. Tuh kan sikat gigi belom kebawa….

Sendal Jepit
Ada cerita sedikit dari sendal jepit. Karena saya gak punya sendal yang bener bener sendal jepit, akhirnya pemburuan sendal jepit swallow pun dimulai. Kenapa harus swallow? Ya seingat saya merk sendal jepit ya itu. Ketawan jadulnya. Setelah ke Alfa, Indomaret, Carrefour dan beberapa toko kelontong di area Salatiga, saya hampir putus asa karena gak berhasil menemukan sendal jepit Swallow. Ada merk Ando di Carrefour, tapi harganya… Zzzzz… 35 ribu rupiah. Ga ikhlas gitu mau beli sendal jepit seharga segitu… Hihihi medit ya. Seingat saya pun dulu sendal Ando masih 20 ribu deh, kenapa jadi mahal banget gitu??? No way deh. Karena sehari hari saya udah punya sendal crocs untuk rumahan, maka saya pikir sendal ini gak akan sering dipake. Tapi untuk bawa sendal crocs ke gunung, males aja packingnya. Tuh kan pertimbangan banget ya saya… Hihihi
Nah, maka suatu ketika saya ke toko kelontong (masih area Salatiga), saya pun melihatnya tergolek di pojok toko. Tadaaaa…. Sendal jepit Swallow! Langsung deh saya pilih warna dan ukuran. Tapi gak ada harganya.. Ah biarlah batin saya, pasti gak sampe 20 ribu dan udah butuh banget. Ketika di kasir, puji syukur saya panjatkan karena harganya hanya…. 8.500 rupiah!!! Hahahaha puaaaaaassss (senyum lebar sambil menatap sinis ke sendal Ando di Carrefour).

Sendal jepit kuning "Swallow"

Sendal jepit kuning “Swallow”

Sabtu, 1 November 2014
Bangun jam 4.30 pagi. Agak gak bisa tidur nyenyak semalam. Mengingat Gigih dan kawan kawan sudah berangkat naik bis dari Jakarta kemarin sore. Tanya posisi ke Gigih sekitar jam 7, ternyata masih di Kendal. Rupa rupanya banyak kemacetan di jalur Pantura akibat perbaikan jalan di sana sini. Hmm… Kira kira 2-3 jam lagi tiba di Salatiga, tergantung kemacetan.
Baiklah, berarti masih bisa mandiin dan kasih makan Raras. Hal terpenting yang saya khawatirkan adalah makannya Raras. Saya takut Ayahnya lupa kasih makan Raras atau gak sabar nyuapinnya. Karena Raras ngunyah makanannya lamaaa banget. Tapi masa anak sendiri gak dikasih makan? Hehe. Karena sejak lahir Raras, ini benar benar pertama kali saya tinggalin Raras, tidak tidur bareng dia. Semua pasti ada saat pertamanya ya.

09.10
Ada telepon masuk dari Rinjani M. Wah asyik, si Gita ikut. Kita sudah pernah bertemu beberapa kali di Depok, jadinya agak agak kenal lah. Rombongan sudah di Pasar Sapi. Sedang sarapan di warteg.
Saya menyusul ke sana dan 10 menit kemudian sudah bergabung bersama mereka. Ada Gigih, Hari, Menwa, Novia, dan Ade dari Bkp 2009. Ghali 2007, dan Gita 2011.

Akhirnya berkumpul di sebuah warteg dekat Pasar Sapi Salatiga

Akhirnya berkumpul di sebuah warteg dekat Pasar Sapi Salatiga

10.15
Dengan bis kecil 15 seat jurusan Salatiga-Magelang, kami beranjak dari Pasar Sapi ke Desa Cunthel (Kopeng). Ongkos perorangnya 18 ribu rupiah. Hanya sekitar 40 menit, setelah melalui jalanan Kopeng yang berkelok kelok, kami pun tiba di gerbang masuk Gunung Merbabu via Cunthel. Tepatnya dusun Cunthel, desa Kopeng, kecamatan Getasan, Semarang.
Basecamp Cunthel terlihat cukup terawat dari luar, ada lahan parkir kecil bagi yang ingin menitipkan kendaraan.
Pemandangan yang disajikan juga langsung mempesona, gunung Andong dan di belakangnya Gunung Sindoro Sumbing yang berjejer cantik.
Bernarsis narsis sedikit, kami memulai perjalanan ini dengan berdoa bersama.

Basecamp Cunthel

Basecamp Cunthel

Nomor telepon BC Cunthel

Nomor telepon BC Cunthel

Rute jalur pendakian gunung Merbabu via Cunthel

Rute jalur pendakian gunung Merbabu via Cunthel

Pemandangan di depan BC Cunthel. Gunung Andong terlihat jelas, Sindoro Sumbing tertutup kabut

Pemandangan di depan BC Cunthel. Gunung Andong terlihat jelas, Sindoro Sumbing tertutup kabut (Foto oleh: Gigih Indra)

Tim memulai perjalanan

Tim memulai perjalanan (Foto oleh: Gigih Indra)

Gunung Itu Tinggi Sobat

Berbekal baca baca di internet, saya awalnya menyimpulkan pendakian gunung ini agak agak mudah. Namun sobat, namanya gunung ya gunung. Jalanannya nanjak. Yaiyalaaaah….
Sejak awal pendakian sekitar pukul 11 siang, jalur yang kami lewati terus menanjak. Saya berasa dihukum atas kesombongan saya untuk naik gunung lagi setelah 8 tahun. Awal awal perjalanan, tepatnya sampai Pos Bayangan 1, rombongan masih menanti saya yang tertinggal. Selanjutnya, perjalanan panjang ini saya lewati sendiriaaaan… Hahaha. Saya sih gak masalah, masa iya mereka harus nungguin saya yang jalannya super lelet ini. Namanya juga anak muda. Semangat bener jalannya. Padahal kerilnya besar besar. Ckckck. Luar biasa. Tim ngebut lah pokoknya.

Dari dusun Cunthel ke Pos Bayangan 1, memakan waktu sekitar 30 menit. Jalurnya masih terbuka, jalanan setapak tanah kering. Kiri kanan masih sempat bisa melihat sawah. Jalanan menanjak dengan stabil, tapi masih bersahabat. Di Pos Bayangan 1 terdapat sebuah pendopo yang bangunannya masih lumayan bagus. Tapi jangan terlalu lama duduk disini, karena perjuangan baru saja dimulai.

Jalur menuju pos bayangan 1, gunung Andong masih kelihatan

Jalur menuju pos bayangan 1, gunung Andong masih kelihatan (Foto oleh: Gigih Indra)

Dari Pos Bayangan 1 — Pos Bayangan 2 (Gumuk) masih jalan setapak menanjak yang cukup bersahabat. Meskipun saya juga sudah ngos ngosan. Hehe. Di pos bayangan 2 terdapat sumber mata air, namun karena kemarau, airnya kering. Jadi lebih baik bawa sendiri dari bawah. Saya dan teman teman membawa masing masing 3 liter. Cukup kok. Waktu yang diperlukan juga antara 30–40 menit.

Pos bayangan 2 — Pos 1 (Watu Putut) — Pos 2 (Kedokan) — Pos 3 (Kergo Pasar). Berjalan dengan lancar. Sesekali berhenti untuk minum sambil menikmati keheningan hutan yang misterius. Beberapa kali berjumpa dengan pendaki yang turun. Mereka selalu menyemangati dengan “semangat mba!” Hehehe, emangnya muka saya segitu lemesnya kali ya. Wkwkwk. Sampai di Pos 3 sekitar pukul 14.00. Saya perkirakan saat ini rombongan sudah tiba di Pos 4 (Pemancar). Pos 3 (Kergo Pasar) cukup luas, bisa untuk mendirikan beberapa belas tenda kira kira. Saya agak bingung mencari jalur dari Pos 3 ini, untungnya ada sebuah tenda yang di dalamnya terdengar beberapa abege sedang mengobrol. Mungkin mereka tidak menyadari keberadaan saya. Begini kira kira obrolannya:

X: lu suka ya ama dia?
Y: ya gitu kali
X: ya anaknya asik sih

Eciyee asiknya anak muda. Sebenarnya saya penasaran mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut, tapi takut ketawan lagi nguping nanti mokal dan takut keburu sore juga, maka saya terpaksa memotong obrolan mereka

Saya: maaf mas, jalurnya ke atas mana ya?
Mas dalam tenda bergegas membuka pintu tenda sambil menjawab: itu mba, ke kiri aja, nanti ada jalurnya.
Saya: ooh ya ya, makasih ya mas. Masnya ga naik? Saya sedikit berakrab ria.
Mas mas: hehehe, nggak mba, lagi santai santai aja malam minggu… Mba sendirian?
Saya: ngga mas, temennya udah di depan, mari mas.. Makasih…

Pos 4: Pos Pemancar (Gunung Watu Tulis) si Pemberi Harapan Palsu

Perjalanan ke pos 4 ternyata adalah ujian yang lebih berat. Sama seperti kehidupan, kadangkala kita merasa ujian yang sedang kita hadapi terasa berat sekali. Padahal siapa yang sangka, ternyata di depan sana ujiannya masih jauh lebih berat. Duile curcol. Mangkanya, jangan terlalu lebay ketika menghadapi ujian yang dianggap berat. Santai aja. Hahaha. Jalani dengan penuh sukacita, berfikir bahwa semua ini pasti kecil kok pada waktunya. Seperti saya ketika menuliskan cerita ini. Perasaan enteng saja, padahal saat itu rasanya ngap ngap an dan mau berhenti terus. Perjalanan ke pos 4 benar benar menanjak dengan tanjakan yang membuat saya harus tertatih tatih merangkak. Ditambah debu karena musim kemarau, maka bandana atau buff untuk menutup hidung dan kacamata sangat diperlukan dalam pendakian ini. Saya gak bawa kacamata, jadinya musti sebentar sebentar memejamkan mata ketika ada angin yang meniupkan debu debu. Fiuh. Ya sebenernya sih…. merem sekalian curi curi waktu istirahat tuh… huhuy.

Namun perjalanan yang sulit sekalipun pasti ada akhirnya. Demikian pula perjalanan ke pos pemancar ini. Dengan susah payah dan segala daya upaya, saya berhasil mencapai rombongan. Sebenarnya pemancarnya sudah kelihatan sejak sejam yang lalu, entah mengapa rasanya nggak sampai sampai. Baiknya pos ini dinamakan juga pos Php (pemberi harapan palsu-bagi yang gak tau artinya), hehehe.

Jalur tanjakan berdebu yang harus saya daki menuju pos 4 Pemancar

Jalur tanjakan berdebu yang harus saya daki menuju pos 4 Pemancar (Foto oleh: Gigih Indra)

Di atas saya mendapati teman teman sudah makan makan snack sambil foto foto. Novia sudah tertidur pulas di bawah. Sepertinya sudah sejam lebih mereka menunggu saya. Kami pun berfoto foto sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke pos helipad untuk mendirikan tenda. Waktu ternyata sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih. Waw, ternyata dari pos 3 ke pos 4 memakan waktu hampir 2 jam lebih. Luar binasa. Ade menawarkan untuk membawakan barang saya yang berat. Jadilah Aqua 1,5 liter berpindah manis ke keril Ade. Hihihi. Makasih Ade.

Pose dulu meskipun capek di Pos 4

Pose dulu meskipun capek di Pos 4 (Foto oleh: Gigih Indra)

Tim ngebuts yang kece bersama satu bintang tamu :)

Tim ngebuts yang kece bersama satu bintang tamu 🙂 (Foto oleh: Gigih Indra)

Gigih memanjat pemancar sekitar 3 meter untuk mengambil foto ini

Gigih memanjat pemancar sekitar 3 meter untuk mengambil foto ini (Foto oleh: Gigih Indra)

Novia yang tertidur menunggu saya tiba

Novia yang tertidur menunggu saya tiba (Foto oleh: Gigih Indra)

Menuju pos helipad tidak terlalu jauh, hanya sedikit naik turun sekitar 15 menit, kami sudah tiba. Rombongan langsung mendirikan 2 buah tenda yang saling berhadapan, di area terbuka helipad. Entah apakah ini bekas helipad beneran atau bukan. Terdapat sebuah papan memoriam di sini.

Papan memoriam di pos helipad

Papan memoriam di pos helipad

Angin berhembus sangat kencang. Dingin dan membawa pasir. Kami tidak dapat mendirikan tenda di tempat lain, karena sudah penuh. Hanya ini satu satunya tempat. Tapi sunset terlihat indah dari sini, meskipun resikonya adalah badai angin yang kami hadapi di esok hari.

Setelah bersih bersih, solat, makan, dan bercanda canda alias ceng cengan, kami pun masuk ke dalam sleeping bag. Menunya soto ala chef Menwa dan Gita, dan mpek mpek ala chef Ghali. Menwa tuh keren loh. Jago masak, jago naik gunung, jago ngecengin orang… Wih, kurang apa coba?

Malam yang sangat dingin. Saya sudah memakai polar, jaket, kaos kaki, namun kedahsyatan dinginnya masih juga menembus tangan dan muka saya. Sangat dianjurkan untuk membawa sarung tangan dan penutup muka. Brrrrr…

Dan ternyata malam belum berakhir. Hingga tengah malam bahkan dini hari, dari dalam saya bisa mendengar suara pendaki yang lalu lalang. Entah mereka sengaja jalan malam atau gimana, tapi suaranya sangat mengganggu dan membuat saya malam itu sukses tidak bisa tidur pulas. Ditambah hembusan angin kencang yang menerpa tenda kami. Mata saya terpejam tapi suara bising tetap memenuhi kepala saya.

Camp kami di Pos Helipad. Di kejauhan terlihat pos Pemancar

Camp kami di Pos Helipad. Di kejauhan terlihat pos Pemancar

Minggu, 2 November 2014

Pagi dimulai jam 5. Solat subuh di dalam tenda, dan selanjutnya gabisa ngapa ngapain karena angin sangat kencang dan dingin. Sekalinya membuka tenda, pasir pasir halus berebutan masuk. Saya gak berani lama lama di luar. Padahal pengen ngapain gitu. Mejeng mejeng kek. Sampai akhirnya saya bilang ke teman teman bahwa angin semakin kencang dan flysheet sudah hampir terbang. Akhirnya tenda yang satu dipacking. Menwa dengan hebatnya masih bisa masak dalam kondisi badai angin+debu tersebut. Kami pun sarapan di dalam tenda disertai badai debu yang mengotori segala yang ada. Dan Ade pun lagi lagi menawarkan bantuannya, “keril gue kosong kok” jiyeeee. Saya ragu. Sebenarnya keril saya juga sudah kosong, tinggal sleeping bag, polar, baju ganti dan air 1,5 liter. Itu kan buat bekal di jalan. Tapi bantuan sayang kalau dilewatkan begitu saja. Saya tuang air secukupnya untuk di jalan, sisanya saya kasih Ade. Eh ujung ujungnya pada buat cuci muka. Zzzzzz.

Di dekat pos Helipad ini terdapat kawah Condrodimuko di bawah jalur pendakian. Konon dikeramatkan dan banyak terdapat sesaji. Terdapat 2 mata air di sana, air gunung yang segar, dan air belerang yang sepat.

Menuju Puncak!

Jam 9 kurang, saya mulai jalan menuju puncak. Sengaja saya jalan duluan, mungkin beda setengah jam, agar kelak tidak terlalu jauh tertinggal teman teman. Sudah bisa diduga, jalurnya lebih terjal dari yang kemarin, karena dari camp helipad tadi saya bisa melihat orang orang yang mau muncak seperti memanjat vertikal di jalur ini. Hmm… Okey.

Meski lebih terjal, tapi lebih banyak batuan, sehingga lebih memudahkan saya untuk menggapai langkah demi langkah. Meski tetap harus berhati hati, karena membawa keril dalam medan yang terjal seperti ini. Kebanyakan pendaki yang saya lihat muncak dari helipad, meninggalkan bawaan mereka dan ke atas dengan hanya berbekal minum dan tongsis. Tapi karena kami akan turun melalui jalur Selo, mau tidak mau barang harus dibawa. Dan seperti sudah saya duga, tak lama kemudian rombongan sudah berhasil menyusul saya. Luarrrr biasa. Tim ngebut beneran.

Jalur bebatuan terjal menuju puncak

Jalur bebatuan terjal menuju puncak (Foto oleh: Gigih Indra)

Saya melewati yang namanya Jembatan Setan, yang saya sendiri masih agak bingung mendeskripsikannya, yang manakah yang dimaksud jembatan.
Sebagian orang menganggap bahwa jalan setapak yang kiri dan kanannya jurang terjal itulah yang dinamakan jembatan setan. Karena jalannya harus hati hati, agar tidak tergelincir.
Kalau saya, bagi saya, jalur pas menuju puncak itulah yang mirip banget jembatan setan. Bayangkan saja, memanjat sambil bawa keril di tebing vertikal tanpa pakai pengaman! Dalem hati mungkin banyak orang membatin “setan nih jalur”.. Mangkanya namanya jembatan setan. Hihihi. Tapi serius ya, buat saya bagian yang ini memang benar benar gak safety, baiknya ditambah semacam pegangan entah besi atau tali statis yang ditambatkan di sana. Serem euy.

Jalur yang menurut saya benar benar nggak safety, apalagj sambil membawa keril

Jalur yang menurut saya benar benar nggak safety, apalagj sambil membawa keril

Setelah itu, sedikit memanjat lagi dan…. Akhirnya puncak Kenteng Songo (3.140 mdpl) tergapai sekitar jam 11 siang. Tuntas sudah peer untuk main ke halaman belakang rumah saya. Hahay.

Perjuangan menggapai puncak

Perjuangan menggapai puncak (Foto oleh: Gigih Indra)

Gunung Merbabu memiliki 3 puncak, puncak Syarif (3.120 mdpl), puncak Kenteng Songo (3.140 mdpl) dan puncak Triangulasi (3.142 mdpl). Di suatu pertigaan setelah panjat memanjat tadi, ke kiri akan membawa kita ke puncak Syarif, sedangkan ke kanan ke puncak Kenteng Songo.

Di atas puncak Kenteng Songo terdapat kenteng kenteng (tumbukan dari batu) yang jumlahnya kalau dihitung hanya 3, dan 1 terlempar agak jauh di turunan menuju Selo, bukan 9. Ada mitos yang mengatakan kalau yang 5 kenteng lagi hanya bisa terlihat oleh energi supranatural. Wih.
Dari puncak terlihat Gunung Merapi dengan jelas. Indah sekali. Pemandangan seperti inilah yang akan terekam dalam benak kita hingga tua nanti. Awesome. Memang, sesuatu yang indah dan luar biasa itu, tidak akan didapat dengan cuma cuma, ada harga yang mesti dibayar, penuh perjuangan dan pengorbanan 🙂
Kami pun berfoto foto sebentar, dan juga tak lupa merayakan ulang tahun Ghali dengan sebuah cupcake.
Happy birthday Ghali… All the best ya… 🙂
Kemudian bergegas turun.

Puncak Kenteng Songo (3.142 mdpl) horeeeeee

Puncak Kenteng Songo (3.142 mdpl) horeeeeee (Foto oleh: Gigih Indra)

Foto keluarga di puncak Kenteng Songo

Foto keluarga di puncak Kenteng Songo (Foto oleh: Gigih Indra)

Selamat ulang tahun Ghali

Selamat ulang tahun Ghali

Kenteng kenteng di atas puncak. Banyak sesaji yang diletakkan masyarakat

Kenteng kenteng di atas puncak. Banyak sesaji yang diletakkan masyarakat

Gunung Merapi dari Puncak

Gunung Merapi dari Puncak

Turun Lewat Selo

Dari puncak Kenteng Songo, kami mengambil jalur Selo. Jalur ini terkenal dengan padang sabananya yang indah.
Dan disinilah juga penderitaan kaki saya dimulai.
Waktu turun kemarin, kami harus melewati turunan demi turunan yang longsor dan berdebu. Butuh usaha keras, dan kalau saya, butuh kaki cadangan.
Kalau kata Gigih, jalurnya lagi rusak karena kemarau. Jadi kesannya susaaah banget. Ah masa iya sih Gih, mungkin dia cuma mau menghibur saya. Track record pendakian gunung saya memang buruk. Baru gunung Gede, Pangrango dan Salak yang pernah saya sambangi. Itupun, 2x turun lewat Cibodas, saya harus tertatih tatih dan tiba paling belakang di antara rombongan. Pernah Juferdy yang menemani perjalanan turun saya tahun 2005. Terima kasih ya Ju.
Tapi kenapa ya, saya mau tulis penderitaan kok rasa rasanya sekarang sudah lupa dan mau naik lagi. Hahaha. Padahal cuma nyusah nyusahin orang yaaa.
Jalur Selo memang top lah. Tapi ingat, lebih baik tidak naik lewat sini. Dari pos 3 ke puncaknya widiiiih… Bisa bisa ga kuat iman dan turun lagi wkwkwk. Mending lewat Cunthel deh kalau naik.
Base campnya memang lebih luas dan indah, meski anginnya sama kencangnya dengan di helipad. Padang sabananya baguuus… Bisa untuk guling guling ala film India. Sayang, saat melewatinya saya sedang sendirin menenteng sepatu sambil berjalan beralaskan kaos kaki tertatih mengejar rombongan. Hihihi. Malu maluin ya… Maafkan aku ya teman temaaaaan…. Dari puncak ke pos 3 lalu ke pos 2 jangan tanya tanya deh, dijamin kume saya masih longsor selongsor jalurnya wkwkwk. Nah, dari pos 2 ke pos 1 sudah lumayan nemu jalan datar sedikit. Apalagi waktu mau sampe pos 1, wah, nemu Gigih! Hehehe. Saya sudah menolak dibawain kerilnya sebenernya, tapi beliau nampaknya doyan tuh bawa keril sambil lari lari, yowes saya kasih deh si Tempest. Saya dibekali sebotol Pocari sama Gigih. Tak lama kemudian, Gigih sudah menghilang di kejauhan. Dasar anak muda. Hehehe. Saya pun meneruskan langkah sambil senyum senyum sendiri. Yaelah, ampe direscue gitu. Lucu amat sih. Ada ada aja. Dan baik banget siiiih :D. Untung udah jauh lebih senior, jadi bisa pakai alesan umur dong… Wkwkwk.

Tim bersiap turun dari jalur Selo. Saya masih bisa berfoto bersama di awal awal. Hehehe.

Tim bersiap turun dari jalur Selo. Saya masih bisa berfoto bersama di awal awal. Hehehe. (Foto oleh: Gigih Indra)

Turunan tanah longsor yang harus saya lewati hingga Pos 3 Selo

Turunan tanah longsor yang harus saya lewati hingga Pos 3 Selo

Salah satu kenteng yang saya temui di jalur Selo

Salah satu kenteng yang saya temui di jalur Selo

Jadi akhirnya tibalah saya di Desa Selo sekitar jam 14.30. Rombongan sih sudah sampai dari jam 13.00. wekweeew… Kalo dihitung berarti mereka naik hanya 4 jam (sampai Pos Pemancar) + 2 jam (helipad-puncak Kenteng Songo) + 2 jam turun lewat Selo. Sadeeessss….
Menwa ama Gita udah cakep deh pokoknya. Maklum pengen ngeceng di kereta. Hihihi. Eh nggak ding, Menwa aja yang naik kereta, Gita katanya pengen sowan dulu ke rumah kerabat di Bandungan.
Saya males ah bersih bersih, nanti aja di Salatiga.
Dengan mobil APV carteran, keril keril dipacking dan kami berdelapan meninggalkan gunung Merbabu yang penuh pesona itu.

Apv carteran dari Selo menuju Semarang

Apv carteran dari Selo menuju Semarang

Selamat tinggal ya, mungkin kapan kapan saya datang lagi lewat jalur yang lain. Nyari korban lagi, siapa tau Gigih udah kapok hahahaha.
Bangga punya junior kece kece. Tanpa kalian, impian saya mendaki gunung di belakang rumah belum akan tercapai. Penghormatan tertinggi saya buat Gigih Indra, Ade Saptari, Hari Mugti, Novia Valentina, Ghali Zakaria, Menwa (Fitri Lestari ya namanya?) dan Gita Rinjani. Kalian kece bingiiitttssss. Naik turun gunung lari larian gitu. Ish, ngeri! Tetap berprestasi dan baik hati yah adek adek 🙂
Jayakan nama Mapala Ui di manapun kalian berada, dengan tetap menyayangi lingkungan dan tetap rendah hati. Iooooooo…..

Salatiga, 3 November 2014

Novia, Gita, Ghali, Menwa

Novia, Gita, Ghali, Menwa

Gigih, Ade, Hari, Saya

Gigih, Ade, Hari, Saya