Rayan

Naik-naik ke Gunung Andong

Pernah dengar nama gunung Andong? Namanya memang tidak setenar gunung Gede atau Semeru, tapi ternyata gunung Andong cukup layak dijadikan ajang latihan naik gunung bagi para pemula. Gunung ini salah satu gunung belakang rumah saya loooh.. Jadi wajib banget memang buat didaki sama saya :). Dengan ketinggian 1.726 Mdpl, gunung Andong mampu memikat para pendaki akhir-akhir ini. Setiap akhir pekan, gunung ini pun ramai dikunjungi. Tapi bukan berarti, mentang-mentang gunungnya pendek, kita bisa asal aja gitu ketika mendakinya. Buat saya itu sangat BIG NO NO 🙂

Catatan penting ya sebelum mulai bercerita, mendaki gunung itu olahraga berat, perlu persiapan buat siapapun yang berniat mendakinya. Mau gunungnya pendek kek, mau kitanya udah jago naik gununglah, apalah apalah, tetap ya, hormati alam, hargai. Maksudnya gimana? Maksudnya kita menghargai, kita datang kepadanya ya dengan penuh persiapan.

Fisik siap: dengan olahraga-olahraga sebelum naik

Logistik siap: perbekalan makan dan minum dihitung sesuai durasi perjalanan

Perlengkapan ok: dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki sudah lengkap semua. Meskipun mungkin durasi naik turunnya singkat, kita gak pernah tahu apa yang bisa terjadi di alam. Jadi, kelengkapan itu penting banget. Jangan lupa juga obat pribadi.

Mental siap: gimana sih caranya nyiapin mental? Ya kita lakukan penelitian dulu tentang gunung yang akan kita daki. Ke sana lewat mana, medannya gimana, suhunya sedingin apa, ada sumber air atau nggak, kira kira evakuasi untuk keadaan darurat gimana, dan secukupnya tergantung tujuan perjalanan kita. Juga jangan lupa, mental siap untuk buang air kecil maupun air besar di antara semak-semak 😀

Itu sekilas saja, lengkapnya bakal panjang sekali. Saya hanya mau bilang sih, please, respect the mountain.

Ok, serius banget ya saya, hehehe. Balik ke gunung Andong. Kalau untuk rute menuju gunung ini, teman-teman bisa intip di

https://gunungandong.wordpress.com/2014/05/03/jalur-menuju-basecamp-gunung-andong-taruna-jayagiri/

Atau di

http://gunungandong.com/

Itu udah lengkap banget deh rutenya, jadi saya gak perlu tulis-tulis lagi hehehe 😅

Jadi awal mulanya, saya habis berulang tahun nih ya di bulan Oktober kemarin, alhamdulillah tambah tua, bukan tambah muda (yaiyalaaaaah). Terus saya tuh mikir-mikir kok ya jatah umur makin sedikit tapi belum pernah naik gunung sama anak-anak. Tapi membayangkan naik gunung bawa anak-anak, itu saya agak-agak sesak nafas. Hahaha. Pasalnya, saya sendiri kalau naik gunung itu bawa diri sendiri aja udah susah banget, ditambah lagi bawa keril, lah gimana caranya kalau bawa anak-anak??? Lebay ya. Iya, memang namanya kalau mau melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan tuh banyak takutnya. Banyak ngarangnya. Mangkanya harus dicoba biar tahu. Oooh rasanya begini… oooh yang kurang ini… oooh seharusnya begini… bawel ye. Atas dasar pertimbangan untuk perdana naik itulah, yaudah yuk, kita naik gunung Andong dulu ama anak-anak. Setelah riset di internet pun, rasa-rasanya bisa kok naik gunung ini bawa anak. Hehehe pede bener.

Tiba di hari pendakian 9 Oktober 2016, pagi-pagi saya sudah siap siaga di depan keril. Menatap keril dengan nanar. Bertanya-tanya mampukah saya? Tapi juga sangat bersemangat. Akibat terlalu bersemangat alias gugup itulah, saya sampai sakit perut. Sehabis sarapan terlebih dahulu di sebuah warung nasi uduk, kami sekeluarga terpaksa kembali lagi ke rumah karena saya harus meeting sama toilet. Hahaha. Gugup bok… 😜

Setelah urusan saya selesai, berangkatlah kami. Eiya lupa, ada lagi dramanya. Karena celana gunung saya jarang dipakai, pas di mobil eh resletingnya rusak. Gak lucu rasanya kalau fotonya nanti membuat semua orang beristighfar.  Untung saya bawa celana training cadangan untuk ganti. Dengan lihai saya berganti celana di dalam mobil. Hahaha.

Berkat rute yang baik dan benar, tibalah kami di Basecamp Taruna Jayagiri Sawit. Kira-kira 45 menit perjalanan dari rumah kami di Salatiga. Ternyata parkiran sudah penuh. Mobil-mobil berderet sepanjang jalan menuju kaki gunung. Motor-motor penuh sesak di parkiran halaman rumah orang. Tapi bagusnya ada yang mengatur parkiran, sehingga formasi parkirnya lebih teratur. Ada masjid di dekat tempat kami parkir. Toilet ada banyak di sini, jangan khawatir buat yang tiba-tiba ngeri-ngeri sedap melihat gunung menjulang, para toilet siap menampung kegugupan anda semua, hihihi. Untuk tiket masuk, kita cukup membayar Rp 5.000 per orang (sudah termasuk Rp 1.000 untuk Kas Dusun Sawit), serta uang parkir (saya agak lupa jumlahnya sepertinya Rp 10.000).

IVZR3200.jpeg

Tiket pendakian gunung Andong

img_1463

Loket pendakian

img_1459

Bawaan kami yang minimalis

Setelah dirasa semua siap, melangkahlah kami menuju gunung Andong yang berkabut pagi itu. Tak lupa saya mulai merekam dan foto-foto. Penting banget loh ini, untuk dokumentasi dan kenangan anak-anak kelak.

img_1464

Gunung Andong yang berkabut pagi itu

Gerbang masuk gunung Andong terbilang cukup mewah, sepertinya sih baru direnovasi.

IMG_1470.JPG

Gerbang masuk.. Foto-foto dulu sebelum muka lecek ..makin deg-degan

IMG_1472.JPG

Awal pendakian disambut dengan jalan yang indah ini

Pendakian kami dimulai pukul 09.45. Rayan dan Raras terlihat sangat bersemangat. Rayan hanya membawa tas kecil yang berisi snack dan air minum secukupnya, sedangkan Raras tidak membawa apa-apa, hanya sebuah trekpole yang juga diperebutkan Rayan, hehehe. Saya membawa keril mini 30 liter yang berisi tenda dan air minum, ringan sekali. Sengaja memang kami membawa tenda meskipun tidak berencana menginap, karena maksudnya mau kemping-kemping cantik di atas nanti. Tas si Ayah memang terlihat kecil, tapi beratnya jangan tanya hihihi. Ada trangia, ada logistik, jaket, spirtus, air minum, dan lain-lain, wkwkwk.

Jalur awal berupa tanah berbentuk tangga, tidak terlalu licin meskipun agak basah. Untuk tiba di Pos 1 Watu Pocong, kami membutuhkan waktu 20 menit. Lumayan cepat ya? Saya bahagia sekali, karena biasanya untuk mencapai Pos 1 di gunung lain membutuhkan waktu ya rata-rata sejam.

IMG_1474.JPG

Ini dia jalur tangga tanah menuju Pos 1

img_1475

Orang-orang yang masih segar di Pos 1 Watu Pocong 🙂

Setelah beristirahat sebentar, minum air dan duduk-duduk, kami melanjutkan perjalanan. Jalur menuju Pos 2 sudah lebih terjal. Tapi tipe jalur masih serupa, tanah-tanah licin gitu karena memang sudah cukup sering hujan kemarin itu. Waktu tempuh untuk mencapai Pos 2 Watu Gambir ternyata lebih singkat lagi, hanya 15 menit. Saya cukup takjub melihat anak-anak yang tetap semangat dan ceria. Dan tak lupa, saya selalu menanyakan kepada mereka untuk beristirahat dan meminum air.

img_1487

Rayan di Pos 2 Watu Gambir

img_1485

Santai dulu di Pos 2

Di Pos 2 agak ramai, banyak pendaki yang sedang turun kemudian menghabiskan waktunya di sini karena pos ini cukup luas. Bahkan ada beberapa yang memasang hammock. Raras menjadi pusat perhatian para pendaki yang berpapasan dengan kami. Mereka agak takjub melihat Raras yang mendaki gunung. Meskipun banyak juga sih anak kecil yang saya lihat ikut mendaki hari itu. Mungkin mereka para anak-anak yang dipaksa Bapak Ibunya yang kangen naik gunung… Eh, itu saya deng hahaha.

Setelah Pos 2 langsung puncak. Menurut saya sih jalur menuju puncak inilah yang terberat dalam rute gunung Andong. Tanjakan demi tanjakan yang semakin terjal menyambut kami. Kadang harus antri menunggu rombongan pendaki yang sedang turun. Kalau tadi 15-20 menit sampai, kali ini kami membutuhkan waktu 50 menit untuk tiba di puncak. Kebayang ya jalan menanjak selama itu. Nafas saya agak sesak sewaktu mendaki menuju puncak. Beberapa kali saya sempat berhenti istirahat dan anak-anak duluan. Pokoknya hebat banget deh mereka. Mungkin bagi anak kecil mendaki gunung adalah kegiatan bermain yang sangat menyenangkan karena tempatnya sangat luas ya. Hehehe. Atau mungkin juga langkah mereka sangat ringan karena belum mempunyai beban hidup yang menghantui. Beuh, mulai deh ngawur. Hahaha.

Kabut mulai sangat menebal semakin mendekati puncak. Pandangan kami hanya terbatas beberapa meter dan harus melangkah dengan sangat hati-hati karena jurang di sebelah kiri kami tak terlihat. Beberapa saat sebelum puncak, kita akan menemukan sumber mata air yang sudah dipasang kran. Airnya sangat jernih, menggoda kami untuk berhenti dan sekedar membasahi wajah.

img_1494

Jalur menuju puncak yang mulai menguji nyali, Raras sih santai saja 🙂

IMG_1498.JPG

Kabut semua

IMG_1496.JPG

Sumber mata air sebelum puncak

img_1501

Horeee ketemu warung di atas….

img_1504

Sudah sampai senangnya, gaya dulu deh

Akhirnyaaa kami sekeluarga tiba di puncak Gunung Andong pada pukul 11.11 WIB. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Cukup singkat yaa? Gunung Andong memiliki 4 puncak, yaitu Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong, dan Puncak Alap-alap. Puncak Andong yang tertinggi, yaitu memiliki ketinggian 1.726 Mdpl. Disebut Andong karena memiliki beberapa puncak sehingga membentuk seperti punuk sapi. Tapi ada juga yang bilang kalau asalnya dari daun Andong (sumber: internet). Di puncak banyak berdiri tenda para pendaki yang mungkin sudah bermalam dan mengejar sunrise (puncak Jiwa). Pemandangan yang kami dapatkan kurang maksimal, karena semua tertutup kabut. Kalau cuaca cerah, seharusnya dari sini kami bisa melihat gunung Merbabu, Merapi, Ungaran, Telomoyo, dan si kembar cantik Sundoro Sumbing. Tapi alhamdulillah banget lah sudah bisa sampai dengan selamat di puncak. Kami tidak sempat ke puncak Alap-alap karena keburu turun rintik-rintik hujan.

img_1559

Yeeaaay.. Bisa juga foto keluarga di sini 🙂

img_1509

Anak-anak hebat!

Setelah menyalurkan hasrat narsis, kami berlari menuju warung karena hujan turun dengan derasnya. Di puncak terdapat 2 warung. Salah satunya warung Pak Imun. Di warung pak Imun inilah kami berteduh dan makan siang. Warung agak ramai karena banyak pendaki yang juga berteduh. Tapi tidak mengapa karena semakin padat semakin hangat ya kan? Suhu di atas sini tidak terlalu dingin seprti puncak gunung lain yang tingginya 3000an. Jadinya saya tidak terlalu khawatir Rayan dan Raras akan kedinginan.

Cita-cita kami mendirikan tenda sepertinya belum bisa terlaksana. Karena hujan deras sekali, agak malas untuk menggelar tenda. Kami cukup mengeluarkan trangia saja dan memasak chicken nugget untuk makan siang anak-anak. Tak lupa menyeduh teh dan kopi dong. Masa naik gunung nggak nge-teh… Hehehe. Selagi makan, tiba-tiba Raras sakit perut. Anak ini memang doyan sekali BAB. Teratur sehari sekali dia BAB. DI MANA PUN. Di tempat Rayan karawitan, di GPD tempat Rayan taekwondo, semuanya pernah dia coba. Kali ini nampaknya Raras tidak mau melewatkan tempat langka untuk BAB, yaitu di puncak gunung. Jadilah kami mencari tanah kosong dalam kondisi masih hujan, dan Raras sukses meninggalkan jejaknya di puncak gunung Andong. Selamat ya Ras 🙂

img_1531

Makan siang dulu

Setelah sekitar 1,5 jam beristirahat dan berteduh, hujan mulai mereda. Kami pun membereskan barang dan bergegas turun. Tidak lupa berpamitan kepada Bapak Ibu pemilik warung. Hebatnya mereka, turun naik gunung untuk meloading barang dagangan mereka… Salut…

Sebelum turun kami menyempatkan diri melihat makam Kyai Abdul Faqih (Ki Joko Pekik), seorang tokoh penyebar agama Islam (sumber: internet). Makam ini sering didatangi para peziarah. Makam ini berbentuk seperti rumah, dan di dalamnya makamnya dikelilingi lagi oleh tembok. Untuk masuk ke ruangan makam, kita harus melepas sepatu. Saya hanya melihat dari kaca luar.

Perjalanan turun memakan waktu sekitar 1,5 jam juga dengan diiringi hujan gerimis. Jam 15.00 kami sudah tiba lagi di Desa Sawit.Tiba di bawah hujan turun semakin deras. Bersyukur kami sudah di mobil saat itu. Perjalanan pertama mendaki gunung dengan anak-anak sangat menyenangkan. Apalagi anak-anak sangat menikmati dan tidak mengeluh sama sekali. Saya jadi tidak sabar untuk melakukan perjalanan berikutnya, tapi lain kali yang menginap di gunung, biar anak-anak merasakan nikmatnya tidur beratapkan bintang-bintang. Suatu kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Berarti persiapannya juga harus lebih matang agar perjalanan tetap aman dan menyenangkan.

Silakan mampir ke channel saya untuk menonton sedikit tentang perjalanan gunung Andong ini (jangan lupa LIKE & SUBSCRIBE :D). Membuat videonya kemarin lebih cepat selesai karena saya memang lagi senang bikin vlog-vlog an gitu deh. Yah maklumlah saya kan emak-emak kekinian hahaha. Dan membuatnya juga jauuuh lebih mudah daripada menulis blog. Kalau menulis, musti nunggu mood datang, dan datangnya pun tak jelas kapan. Suka-sukanya dia aja hehehe.

Makasih ya sudah mampir 🙂

Salam dari Salatiga, 13 Desember 2016

Advertisements

Surat untuk Rayan (lagi)

Tahun 2010, saya pernah membuat tulisan untuk Rayan di ulang tahunnya yang ke-3. Judulnya “Surat untuk Rayan Rajendra Rasendriya”, lengkapnya bisa dibaca di sini

4 Tahun kemudian, di umurnya yang cukup penting, saya terbersit ingin menulis surat lagi untuk Rayan. Saya katakan penting karena di usia inilah, Mas Rayan harus mulai belajar untuk solat…. Dan ini tentu saja tanggung jawab saya. Siapa lagi? 🙂

Happy reading!

Mas Rayan, begitulah Bunda memanggilmu, Nak. Terlahir dengan cinta, namamu pun kami rangkai dengan penuh cinta. Rayan Rajendra Rasendriya. Rayan diambil dari bahasa Arab, yaitu salah satu nama pintu gerbang syurga. Rajendra artinya “sangat tampan”. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya rupawan kan Nak? Meskipun hal tersebut tidak lagi penting bagi Bunda. Karena bagi Bunda, kamu lah laki-laki paling tampan sedunia. Sedangkan Rasendriya memiliki makna “tajam semua inderanya”.

Terlepas dari sempurnanya penamaan kamu, hari-hari setelah kamu lahirlah yang menjadi penentu sempurnanya masa depanmu kelak Nak. Iya, itulah tanggung jawab terbesar Bunda di dunia ini. Semakin hari Bunda semakin menyadari untuk apalah Bunda ada di dunia ini.

Apakah Bunda sangat sempurna dalam mendidikmu Nak? Aduhai jauuuh sekali dari kata sempurna. Bunda sangat salut kepada ibu-ibu yang 100% persen tidak pernah memarahi anaknya… Maafkan Bunda ya Nak, terkadang emosi mengalahkan logika Bunda untuk tidak marah kala dirimu sedang rewel. Apalagi memang dasarnya Bundamu ini juga agak cengeng, jadilah kamu kecipratan gen cengeng juga. ​

Mas Rayan, suatu hari Bunda salut sekali melihat Pilot yang dengan gagah menerbangkan pesawat. Terbersit keinginan Bunda untuk menjadikanmu pilot Nak. Tapi besoknya lagi Bunda membaca kisah heroik para dokter yang banyak berjasa di pedalaman, bagaimana kalau kamu jadi dokter saja? Tapi tunggu dulu, banyak pengusaha muslim sekarang yang sukses, sepertinya kamu lebih cocok jadi pengusaha, Mas. Hehe. Bawel sekali ya Bunda. Inginnya yang terhebat, tertinggi, terkeren, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi lihatlah, Bunda suka tidak sabaran kala mengajarkanmu mengerjakan PR. Karena bagi Bunda PR kamu mudah sekali, padahal mungkin bagimu susah ya Nak, apalagi kamu masih kelas 1 SD, pasti pikiranmu hanya ingin bermain dan bermain saja..

Namun Nak, jadi apapun kamu kelak, Bunda akan selalu mendukung dan tidak akan merendahkanmu selama itu halal. Bagi Bunda, yang utama adalah membimbing keluargamu kelak, agar dapat berkumpul di syurgaNya. Iya, jadilah imam yang baik, pemimpin bagi dirimu sendiri, kemudian keluargamu. Itu yang utama dalam hidup. Karena dunia ini hanya sementara, hanya persinggahan, di akhirat lah kelak yang abadi. Itulah yang Bunda ingin agar kamu pahami sepaham-pahamnya. Karena dengan pemahaman itulah, modalmu dalam melangkah, menentukan pilihan-pilihan hidupmu kelak.

Mas Rayan, kamu tahu tidak, Bunda sering menangis di kegelapan malam kala melihatmu terlelap. Kamu yang baru 7 tahun berada di dunia ini, sudah seringkali Bunda minta untuk bersikap dewasa terhadap adik cantikmu yang berusia 2 tahun, Raras. Iya Mas, dek Ras lagi senang senangnya merebut apapun yang kamu pegang. Bahkan sarung Cars yang Bunda belikan untuk kamu latihan solat, direbut juga. Padahal dek Ras sudah punya mukena Hello Kitty ya Mas.

Suatu hari kamu pulang sekolah membawa sebuah balon dari Bu Guru. Katamu, balon itu sebagai hadiah karena nilai tugasmu di sekolah mendapat 100. Bahagia sekali Bunda mendengarnya. Tapi tiba tiba dek Ras merebutnya dari tanganmu. Kamu pun menangis. Bunda minta kamu untuk bersabar dengan janji akan Bunda belikan yang baru. Padahal Bunda tahu, pasti kamu sedih sekali ya Nak, karena balon itu sangat berharga.
“Mas Rayan sabar ya, adek kan masih kecil”
“Mas Rayan ngalah ya sayang, nanti Bunda belikan yang baru”

Seringkali kata-kata itu keluar dari mulut Bunda.
Kamu pun hanya menangis histeris.
Bunda juga tahu pedihnya hatimu Nak, maafkan Bunda ya Mas..
Tapi tak berapa lama kamu pun mengelus-elus kepala dek Ras dan bilang sayang padanya.. Terenyuh rasanya. Bangga Bunda terhadap kamu Mas.
Itulah kamu Nak, seringkali mendapat pelampiasan kemarahan Bunda, namun tak lama kamu seperti lupa dan kala malam selalu minta pijit punggung sebelum tidur. Tanpa dendam, tanpa pamrih, itulah kamu.

Perjuangan kita masih panjang Mas. Mungkin sekarang Bunda seringkali kerepotan mengurusmu dan dek Ras, tapi padahal, ketika kalian beranjak dewasa pun pasti masih banyak ujian hidup yang berdatangan. Ini pengalaman pribadi Nak, karena sebagai anak dari Enin dan Datukmu, hingga mempunyai dua anakpun Bunda merasa masih sering merepotkan mereka..Tapi tak apa Nak, Bunda akan berusaha sekuatnya, untuk terus menjadi ibu yang baik untukmu dan adikmu.

Oiya yang terakhir, izinkan Bunda untuk cemburu pada isterimu kelak, karena dia merebut sebagian cintamu …. Bunda sayang Mas Rayan, selamanya, semoga Allah selalu menjagamu Nak.

20140224-070120.jpg

Ray’s Day: Great Lesson

Kalo baca tulisan ini, malu banget sebenarnya. Apalah kita seorang ibu yang selalu menanamkan nilai kesabaran kepada anak anaknya, namun juga sulit menahan dirinya sendiri. Well ok, terus belajar 🙂

Adalah kalanya rayan buat sy kesal dan depresi.
Hari ini salah satunya.
Pulang nganter sekolah,kepala pusing.
Males makan juga.
Jam 12 nyuruh Rayan bobo gamau juga,malah nonton Bolang dan winnie the pooh berkali kali..
Malah sy ketiduran merem melek di depan tivi.
Sambil terganggu sm suara tivi dia.
Di luar panas anyep,krn awan gelap.
Jadilah tadi itu tidur siang yg ga enak banget judulnya.
Jam 3 sore,sayup sayup suara Rayan minta pipis,sy masih antara sadar dan mimpi.
Sejurus kemudian bukan mau pipis lagi,tapi udah ngompol di atas kasur palembang.
Panik sy bangun dengan perasaan kaget,marah,gerah,pusing.
Saya marah marah sampai ujung ujungnya menangis.
Parah.
Ini dia nih yg namanya ibu depresi.hehe.
Rayan bengong antara rasa bersalah dan takut dimarahin dan bingung ngeliat sy nangis.
Tiba tiba dia melakukan sesuatu yg benar benar jd experiential learning sy sbg seorang orang tua…
Rayan tiba tiba berkata sambil mengernyitkan matanya dan telanjang -krn belum sy pakaikan baju habis ngompol- :

Bunda kenapa sih nangis nangis
Nanti gaboleh main lagi nih nangis nangis
Nanti bunda gadiajak main lg ah sama ayah
Jelek tau nangis nangis
Nanti bunda ke rumah datuk aja deh kalo nangis nangis
Lempar nih mainannya
Pukul nih pakai mainan
Udah ah jangan nangis nangis..
Masuk ke kamar mandi nih kalau nangis nangis..
Aaahh…
Desah Rayan sambil tetap mengenyitkan alisnya..

Gubrak
Gubrak
Gubrak

Semua kata katanya adalah ancaman ancaman kami di saat Rayan nangis ga keruan..
Ancaman dititipin ke datuklah,
Ancaman dikurung di kamar mandilah -ahay,ini mah kejam amat ya-
Ancaman ga diajak main ke timezone lagilah..
Oh my God..

Sy tercenung beberapa saat sore tadi.
Antara masih marah,nangis,mau ketawa juga,tapi yg pasti benar benar seperti habis dioutbound…
Hahaha
Ray benar benar merekam semuanya guys.
Anak anak benar benar merekam semuanya.
SEMUANYA.

Hari ini Ray kasih pelajaran berharga buat Bunda.
Semoga sy dan Ook bisa jadi orangtua yg lebih baik lagi setelah ini.
Amin.

Pkl,28jul2010